Friday, 30 January 2015

Orang Asing



Waktu itu sudah jam 5 sore lewat sedikit. Di luar rumah lengang seperti biasa kalau jelang magrib. Tiba-tiba kedengaran suara laki-laki mendehem. Saya ragu ... lalu menunggu deheman ke dua. Ah, saya fikir berasal dari pejalan kaki yang lewat.

Tapi nggak lama setelah itu ... kok menyusul jadi batuk? suaranya dekat.
Langsung saya ke ruang tamu menyingkap  horden pelan-pelan' soalnya belum pakai jilbab. Mungkin dia  tamu yang datang dari tadi tapi salamnya nggak kedengaran?

Dari celah secuil itu kelihatan seorang bapak usia lanjut, tidak saya kenal! Dia sedang duduk serius di bale teras. Pakai kemeja warna gelap hampir sama dengan warna kulitnya, rambut beruban tipis, berjanggut putih yang sama berantakannya. Duhh ... asli, deg-degan! Karna saya hanya tinggal berdua dengan bungsu perempuan. Suami tugas jauh dan 3 anak laki-laki semua kost.

Kalau sudah kayak gini saya lebih senang keluar dengan perasaan takut, sebelum dia menggedor-gedor pintu krn dari tadi saya tidak menyahut. Cepat jelas dan kelar lebih baik sebelum sore jadi remang-remang magrib.

Cepat-cepat saya berjilbab, sambil tanya-tanya sendiri, siapa? Mau apa?

Begitu pintu terbuka, seerrr!!! Langsung tercium bau tidak sedap! Dia sebentar menoleh ke saya setelah itu  buang pandangnya ke posisi tadi, lihat ke jalan.
Di sisis kanan ada buntelan kain lusuh, kuku tangan dan kaki kotor.

"Bapak cari siapa?" Dengan sok tenang saya tanya, pahal mah....

Tapi dia diam saja, seperti nggak ada suara orang barusan.

"Pak! Bapak cari siapa? Saya ulangi.

"Jangan tanya! Saya cuma mau duduk disini!"

Beberapa kali diminta pergi, begitu terus jawabnya.

"Saya keberatan bapak duduk di sini, kalau tidak ada keperluan, Pak!"

"Saya kan ndak menggangguuu! Kenapa situ ngelarang-larang?"

"Bapak tidak mengganggu, tapi saya terganggu!"  Saya yang  semula takut, jadi berani

"Sudahh! biarin saya disini, jangan gangguu saya!"  Diih! kok terbalik?


Waahh...nggak beres nih! Langsung saya jalan ke luar minta pertolongan. Celingak-celinguk nggak ada satu orang pun laki-laki  yang lewat.
Eh! Alhamdulillah, lewat 1 tukang ojek yang saya kenal, dan dia bersedia menolong.

'Pak! Kalau menunggu jangan disini! Ke rumah saya saja, yuk!"  Tukang ojek langsung mengajak meski kelihatan masih  heran.

Si Bapak menjawab dengan gelengan kepala, mukanya mulai galak dengan tatapan tajam.
Sementara saya bisanya cuma berdiri di belakang tukang ojek, sambil berharap orang asing itu nggak kabur dan  nekat masuk ke dalam rumah. Nggak kebayang deh, gimana kalau dia terus kunci pintu dari dalam ? Haduuh ... anak saya lagi tidur.

"Saya tidak mengganggu! Cuma mau duduk di sini, jangan paksa saya!" Berkali-kali dia bilang begitu seperti tadi.

"Saya ini, sudah dikabarkan, akan dapat wahyu di rumah ini! Ngerti?" Yakin banget bicaranya!
"Jadi, bagaimanapun saya tidak akan pergi sebelum wahyu itu turun!!"

Walaah...makin nggak beres ni orang! Di kasih duit pun nggak mau. Akhirnya si tukang ojek mengancam akan lapor ke Pak RT dan  polisi. Baru dia beringsut, pelan-pelan  ambil buntelan kain kumalnya sambil menggerutu nggak jelas, lalu pergi dengan muka marah.

Legaaaa ...

Hehe....Kenapa tadi nggak saya kasih Quran saja, ya?
"Nii Pak!... wahyunya sudah turun!"   :)








8 comments:

  1. hehehehe...nggak tanya wakhyu siap pak??hehe

    ReplyDelete
  2. wah ngeri Mak...untung akhirnya orang itu mau pergi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mak...kalau nggak ada orang laki di rumah jadi tambah takut.

      Delete
  3. waah, pasti rasanya takut-takut gimana ya mba? kalau tukang ojek ga ditakdirkan lewat, dia malah jadi satpam dirumah mab Oty

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi satpam? Hiiii...jangan dong Mbak :(

      Delete
  4. Kalau saya mungkin jawab, "Ga ada yang namanya Wahyu Pak di sini, jadi dia ga bisa turun."

    Si bapak mungkin mikir, "Saya yang gila atau dia ya?" Lol

    ReplyDelete