Monday, 26 January 2015

Pesona Fantasi...


Demi menambah uang belanja, seorang ibu muda mau bekerja di warnet. Siapa sangka, dari sanalah awal mala petaka bagi keluarganya.

Sembari mengawasi anak-anak bermain atau saat kosong tak ada pengunjung, ia mulai berkenalan dengan game. Macam-macam game yg tersedia mulai dari joget, pertempuran sampai petualangan.
Kelihatan biasa-biasa saja.

Namun setelah menyelami dan  menguasai, ia mulai tertarik dengan tawaran-tawaran game. Tokoh jagoan andalannya bisa diganti-ganti kostumnya. Karakter tokoh game terlanjur melekat dalam khayal. Kini Ia punya dunia sendiri yang indah, jauh dari realita! Ia bentuk cerita dan karakter sesuai  keinginan. Pertemuan rutin hari ke hari menjelma jadi hubungan intim dengan lawan main yang entah dimana alamatnya.

Menurut seorang sahabat yang mengalami, pemain bisa jadi couple, saling sayang,saling kissing, atau lebih dari itu. Mereka tinggal pilih mau jadi homo atau lesbi? Ada kode-kode tersendiri. Bisa jadi mereka berperan lesbi padahal yang memainkan dua-duanya pria, atau berlainan jenis.

Setahun lebih dunia fantasi itu melenakan. Hingga kabar terakhir datang, ia rela meninggalkan anak dan suami demi game! perabotan mulai ludes dijual demi mengganti kostum sang tokoh pujaan yang harganya 400.000. Bahkan ada yang lebih berkali lipat.

Keinginan bermain lebih menggila lagi setelah Warnet ditutup. Susah dikendalikan dan selalu mencari warnet lain. Alasannya masih penasaran , ia harus mengalahkan lawannya.
Menghadapinya sama dengan menghadapi orang "Sakau" bahkan lebih! Ia seperti korban narkoba merangkap korban judi. Pendekatannya beda!

Tidak mungkin membawanya ke psikolog atau ustad. Konsultasi bisa berjalan bila keinginan berubah itu sudah muncul. Salah seorang keluarga mengusulkan jalan Rukyah. Mana mungkin? ini bukan kasus "Kemasukan"

Kasus ini membuka mata saya, bahwa sebetulnya banyak ibu-ibu muda yang jadi korbannya.
Macam-macam cerita awal pemicunya. Ada yang peralihan karna dipresi, Babby Blues paska melahirkan, dan lain-lain...

"Saya kalau menjemur pakaian, yang saya ingat kostum tokoh game saya" kata salah seorang ibu...

Ibu-ibu yang luar biasa! mau membagi kisahnya demi perbaikan generasi kedepan. Jadi warning untuk ibu-ibu lain yang kerap lengah dan menganggap enteng sebuah game.
Dan...penghormatan luar biasa dari saya untuk mereka, karna mampu berjuang melewati pesona dunia fantasi itu...








8 comments:

  1. baru tahu ada game yang model begituan...ngeri ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga tidak akan tau,Mak .. kalau kasus ini tidak menimpa orang yang saya kenal.

      Delete
  2. Setahu saya, Mbak, ruqyah bukan hanya untuk masalah kemasukan. Saya pernah dari jauh, seorang sahabat saya meruqyah sekelompok ibu-ibu. Ibu-ibu tsb tidak sedang kemasukan dan dalam keadaan sadar penuh, tapi begitu dibacakan ayat-ayat tertentu ada dari mereka yang jadi gelisah, teriak-teriak, tapi ada juga yang tetap biasa saja. Menurut sahabat saya tersebut, ayat yang dibacakan membuat makhluk halus yang mengganggu sesorang menjadi kepanasan, sehingga orangnya menjadi gelisah mendengarkan ayat Quran. Jadi coba deh diperdengarkan ayat Quran dulu, kalau kira-kira orangnya marah biasanya memang benar ada yang ganggu. Kalau dalam tingkatan sadar, bisa diajak baca al ma'tsurat bersama di pagi-petang, agar ingat dzikir. Kalau sampai tahap marah besar ketika diingatkan, ruqyah bisa jadi salah satu alternatif. Jadi bukan hanya untuk yg sedang kemasukan saja. Tapi yang terbaik sih, self-ruqyah itu tadi, mbak. Itu menurut sahabat saya yang praktisi ruqyah, saya hanya meneruskan info..

    Klo psikolog kenapa nggak bisa, mbak? :( Semoga kenalan mbak berhasil mengatasi kecanduan game nya ya mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah...akan saya beritau keluarganya. Dia ngamuk kalau dibawa ke psikolog Mak...Informasinya sungguh berarti. Terimakasih yaa...:)

      Delete
  3. Waaah baru tau ada kasus sampai kayak gitu mak.Prihatin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga jadi pembelajaran buat kita yaa...Masa kedepan ada lagi ujian yang lebih canggih.

      Delete
  4. Empat tahun lalu, saya pernah bahas untuk riset bersama beberapa teman psikolog soal candu digital. Itu mencakup Internet, Game, Console maupun Gadget tetapi waktu itu dianggap bukan hal serius.

    Sekarang ketakutan saya menjadi nyata, semakin banyak yang terserang candu digital. Sedangkan untuk mendapat terapi efektif butuh waktu yang sangat lama. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa ya, kita selalu terlambat? Guru dan orang tua hanya tau bahaya narkoba, lalu tanpa pemahaman membiarkan anaknya memupuk kebiasaan buruk. Harus ada seminar khusus atau apalah...tentang ini yaa...

      Delete