Sunday, 25 January 2015

Si Centeng Sakit



Si Centeng, pulang kerumah kakinya pincang tak bisa menapak. Punggung kanan menonjol tulangnya. Mungkin dia terserempet kendaraan?
Belum lama anak semata wayangnya yang baru umur 2 minggu dimakan kucing lain, dan sekarang musibah datang lagi.

Centeng cuma bisa berbaring diatas keset depan pintu . Kami takut dia kesakitan kalau merubah posisinya. Ia tak mau makan, hanya minum susu.
Tapi heran, satu malam  dia bisa pindah sendiri ke loteng tempat jemuran. Kok bisa naik 10 anak tangga? Padahal untuk berdiri tegak tidak mampu.

Banyak yang bilang, kalau kucing menjelang mati, dia akan mencari tempat sendiri. Jarang ada kucing yang proses kematiannya disaksikan manusia.

Sudah 3 minggu Centeng lemah , makin kurus. Cuma anak saya yang bisa menyuapi dan beri minum. Saya tidak tega kalau liat dia megap-megap menerima kucuran air minum.

Setelah tanya teman, komunitas kucing  dan searching di google,  saya harus membawanya ke klinik dokter hewan. Tak ada pilihan lain! Habis, kemana lagi? Nggak mungkin kan, ke ahli tulang Cimande? :)

Sebetulnya saya berat  ke klinik hewan. Sudah terbayang biayanya! Menurut teman, amputasi kaki  biayanya 850 ribu. Belum bayar uang inap beberapa malam.
Centeng hanya kucing liar, siapa yang mau menyumbang untuk dia? Akh...nasibmu Teng!

Sambil menjemur pakaian saya bilang : "Sabar ya Centeng!...mudah-mudahan ada yang bisa bantu. Siapa tau Mahasiswa kedokteran hewan IPB butuh kucing bermasalah buat praktek mereka? Nanti ibu bawa kesana ya..."

Alhamdulillah...komunitas kucing di Facebook cepat merespon, Mereka bisa membantu biaya, asalkan saya melaporkan keadaannya secara rinci, nanti diproses. Naah prosesnya itu yang perlu waktu! Sementara Centeng makin lemah. Dia tersentak mengangkat kepala sedikit kalau dengar suara langkah kami menaiki tangga. Sentakan yang melegakan, tanda dia masih hidup.

Kemudian saya coba datangi Fakultas Hewan IPB di Jalan Pajajaran-Depan Kantor Telkom Bogor. Alhamdulillah mereka punya klinik. Dan mahasiswa yg tengah praktek di bekas rumah tua itu bilang, bisa saja menerima kucing liar, tapi tak bisa hari itu karna  dokter datang tak tentu waktu.

Sayang...esok paginya saat mau memberi makan, ternyata Centeng sudah mati...:( Sepertinya ia tak mau merepotkan. Sungguh bikin saya sedih!
Dia cuma kucing liar, tapi saat sakitnya ada di tempat ini. Berarti Allah titipkan pintu pertolonganNya disini. Itu yang bikin saya merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu!
3 ekor Ikan terakhir Centeng masih ada di Kulkas. Dia sudah terkubur di kebun seberang rumah.





Bangunan Tua Tempat Praktek Mahasiswa Fak.Kedokteran Hewan dan Fak. Peternakan:







































10 comments:

  1. hickz,aku takut kucing tapi kalo ada yang kayak gini sedih juga.g tega

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga bukan pemelihara kucing yang bisa mengelu-elus,Mak, apalagi mencium!...Hanya bisa kasih makan dan obat saja. Karna trauma waktu kecil melihat kucing memakan anaknya.

      Delete
  2. mba Oty, cerita bikin sediih, hiks
    tapi infonya bagus buat aku tuh, ada kucing tetangga yang sering di rumah, pengin cari steril gratis, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mbak...beberapa kali menghadapi kucing yg biasa kita kasih makan, mati! Saya jd suka berfikir, lebih baik nggak kenal dehh...daripada sedih :(

      Delete
  3. Sedih ya, aku dari kecil merawat kucing. Aku lebih suka kucing liar (Disini disebut kucing kampung) karena makannya ga rewel. Saat ini aku sedang punya 14 kucing liar, seumur hidup mungkin sudah ada 60an kucing tapi tidak pernah lihat mereka meninggal. Pasti sedih banget melihat kucing kita meninggal :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas Ron...jadi suka nyesel pernah pergi tanpa tinggalin mereka makanan, pernah dimarahin karna dia sering melingkar di kaki, bikin saya hampir jatuh dengan panci isi masakan, dll.
      Mulia betul yg dilakukan Mas Ron. 14 kucing? Duuh...tiap hari bersedekah terus.
      Saya merasa bersalah, cuma krn uang si Centeng telat dibawa. Makanya sekarang kasih makan kucing kampung yang suka lewat2 saja...

      Delete
    2. Berjalan gitu aja sih Kak Tia, bukan kemauan piara begitu banyak. Terkadang ada kucing liar yang datang, dikasi makan ga mau pergi lagi.

      Menurutku mereka yang mulia bersedia tinggal ditempatku dan menghiburku saat masa-masa sulit :)

      Yakin deh, kalau sering memberi, ada aja rezeki lebih yang datang :)

      Delete
    3. Iya...ya, kita nggak usah ragu. Jatah mereka sudah disiapkan sebetulnya. Tangan kita cuma menyampaikan saja...Trmks ya, jadi semangat memperhatikan kucing,nih...apalagi kalau setelah tau mereka jg bs menghibur.Selama ini kayaknya cuma krn nggak tega doang. Belum menikmati! :)

      Delete
  4. Suka gak tega lihat kucing meninggal :(


    Aku juga pelihara banyak kucing kampung, tetapi gak hafal persis berapa yang sudah pernah mampir ke rumah hehehe.. Kalau mereka suka bersin-bersih, aku kasih air minum yang sudah dicampur gerusan paracetamol. Biasanya sih sembuh hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mak...kasihan mereka, kebanyakan orang hanya senang piara kucing yang cantik. Si Shukoy, teman Centeng beberapa kali sakit flu. Tapi saya kasih Tolak Angin cair, hihihi...dia kaget sampe muter-muter. Mungkin karna terlalu seger rasa mentolnya yaa...:)

      Delete