Tuesday, 17 February 2015

Bahaya Vaksin



Saya tau ada 2 kelompok ibu yang setuju imunisasi dan ada yang menentang. Dan saya faham bila seorang ibu menuruti progran pemerintah. Karna saya pun demikian untuk ke 4 anak saya.
Berbeda dengan adik saya yang 2 putranya tak pernah di suntik vaksin itu. Bukan karna sang ibu menolak! Tapi karna begitu disuntik, putra pertamanya langsung kejang dan seluruh badannya membiru bikin trauma.

Indonesia giat menyemangati orang tua untuk vaksin anak sampai usia SD masih saja ada  tambahan suntikan. Tapi tahukah? Di USA tempat asal penelitian dan pengembangan vaksin yang didanai oleh Rockefeller, kemudian vaksin modern dilakukan oleh Flexner Brothers, sudah ditentang oleh organisasi yang anggotanya orang-orang cerdas. Pada intinya ada pertanyaan, "Mengapa badan bayi yang sehat harus dimasukkan bakteri?"

Banyak ilmuwan yang menentang, bisa baca di sini.
Beberapa di antaranya berpendapat :

“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”
~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962


“Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.”
~ Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika



Saya terlanjur bodoh mengikuti program itu, kalau bukan karna Allah yang maha sayang itu berkenan melindungi, tentu saya dalam penyesalan yang mendalam hingga kini.

Resiko vaksin bukan hanya dari bendanya saja, tapi dari cara menyuntik pun menimbulkan resiko besar. Tidak menunggu waktu lama untuk membuat si ibu kecewa, marah dan penyesalan panjang.
Seperti yang teman saya alami.

Seusai diimunisasi DPT, timbul benjolan besar di ketiak sang bayi. Bidan berkata mantap "Itu nanti sembuh sendiri, kok Mbak"
Waaktu pemeriksaan lanjutan diketahui, sang anak menderita BCG-itis! Bayi umur 5 bulan harus dioperasi tanpa jaminan limfanya bebas bakteri BCG yang.

Ia harus minum obat Tubercolosis hanya karna SALAH POSISI SAAT MENYUNTIK. Bakteri vaksin  malah masuk ke saluran limfa, ketika si limfa bertarung melawan bakteri terjadilah benjolan itu. Pertanyaannya, apa kita tenang, bila dokter saja tak bisa menjamin bakteri itu terangkat dengan sempurna? 
Semoga Allah melindungi anak sahabat saya itu, insya Allah tak ada satu pun efeknya saat dewasa nanti. Cerita lengkapnya baca di sini

Apa saja efek buruk vaksin? jawabannya di sini
Anak yang di vaksin punya 2 sampai 5 penyakit, melebihi anak yang tidak di vaksin. baca di sini.
Terbongkar rahasia vaksin di UK , baca di sini

Saya tetap menghargai ibu yang memilih vaksin. Dan saya salut dengan ibu yang mampu menghindar dari program pemerintah itu. Sulit memutuskan, dan kelak bisa /dituding/disalahkan bila terjadi apa-apa pada anak di masa datang. Persetujuan suami dan campur tangan orang tua ke dua belah pihak  jadi penentu juga. Di bawah pendapat suami, ortu, mertua, dan pemerintah, memang tidak mudah!










5 comments:

  1. Tujuan vaksin sebenarnya baik, dan vaksin sendiri memiliki mamfaat yang baik untuk meningkatkan imun tubuh. Namun penanganannya masih sangat buruk, bahkan terkesan asal-asalan terutama di negara kita, Untuk Vaksin dewasa sudah jauh lebih baik berkat penangan langsung dari Dokter ahli Virology.

    Aku sendiri adalah anak yang divaksin lengkap, aku juga sering menderita flu selama tumbuh dewasa dan sejak divaksin flu, hanya 1 atau 2 kali saja aku flu. Selama penanganan yang tepat dan dosis yang tepat maka vaksin itu baik.

    Seringkali kesalahan vaksin adalah melakukan imunisasi saat kondisi bayi sedang tidak tepat untuk divaksin, ada juga kesalahan teknik sprt salah suntik.

    Kembali lagi kita berharap saja perkembangan cara vaksin menjadi lebih baik dan aman :)

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, anak2 saya juga vaksinnya lengkap sesuai anjuran pemerintah. Semoga sampai usia lanjut nanti, mereka tak menerima efek apa-apa. Di USA sendiri banyak yang pro dan kontra.

    ReplyDelete
  3. mbak udah sering baca2 tulisan dokter Piprim? dia dokter anak dan penggiat vaksin, juga yang bikin rumah vaksin. mungkin bisa dibaca sebagai penyeimbang :)

    ReplyDelete
  4. dulu ibu saya sempat ngambek/mogok imunisasi anak, kedua anaknya gak boleh di vaksin gara2 ada 1 kakak saya yang sakit panas kemudian meninggal abis imunisasi.lucunya, mbah saya adalah seorang pamong desa yang giat menganjurkan warganya untuk mengimunisasikan anaknya, sementara ibu saya malah nyembunyiin anak2nya waktu imunisasi :D
    tapi pas bagian saya (jaraknya agak jauh dengan kedua kakak saya yang tidak diimunisasi), entah kenapa ibu bersedia agar anaknya diimunisasi. alhamdulillah sejauh ini kami sehat2 saja :D (baik yang diimunisasi maupun tidak)

    ReplyDelete
  5. Saya punya pengalaman buruk dengan vaksinasi, anak kedua saya diimunisasi BCG usia 1 bulan, ternyata dokternya saat itu sedang pilek berat. Anak saya akhirnya sakit dan harus mendapatkan antibiotik selama berbulan-bulan. Belum lagi proses menemukan apa penyakit dan penyebabnya yang membuat kami semua menderita . Saya tak lagi percaya dengan vaksinasi atau imunisasi lagi.

    ReplyDelete