Wednesday, 4 February 2015

Warungnya Emak




Namanya juga "Warung Emak" , yang masak emak-emak sudah sepuh.
Warung sederhana berjendela bambu, dari jauh kelihatan terpal plastiknya warna biru.
Sejak tahun 90-an itu warung sudah ngumpet  diapit hijau adem kebun-kebun.
Lantainya tanah dengan meja dan kayu sederhana. Tapi yang datang kebanyakan bermobil.

Jangan kesini pas waktu makan siang, kursi-kursi sudah diduduki orang-orang kantoran.
Mereka menikmati Urap, Pare, Tumis Daun Pepaya, Karedog, Tumis Oncom, dan lain-lain pokoknya makanan kampung. Tapi menu primadonanya "Empal Goreng" yang bertabur serondeng renyah gurih.




Ikan Mas, Guramenya  juga enak, bumbu meresap dan selalu dihidangkan panas-panas. Enatah bagaimana cara masaknya? Kok sampe tulang-tulangnya garing enak disantap
Kata orang sambel hijaunya enak, menurut saya standard saja. Tapi, begitu cocolan ke tiga dan seterusnya, rasa sambalnya memang punya rasa khas. Pedas, tapi tidak menggigit yang bikin kapok. Dan... itu, daun Poh-Pohan  tidak pernah absen, bikin semangat buat nyocol again and again!

Gambarnya gelap yaa...seperti malam, Karna si Emak tidak menghias warungnya dengan lampu-lampu  yang bikin orang betah duduk.
Hehehe, untuk apa duduk lama lama? bangku sudah diincar pengunjung baru yang cuma pesan untuk bawa pulang, seperti rombongan  ibu-ibu pengajian yang tak sempat masak.

Letaknya di jalan Dadali, pas sebelah pom bensin. Hati-hati kelewat! karna warungnya kecil dan ngumpet di belakang tempat jualan tanaman.
Icip-icip dulu ya ...  baru hubungi no HP yang nampang didinding.












































12 comments:

  1. kebayang ramenya dan enak olahannya,selalu kayak gitu,khas emak2 banget masaknya selalu enak...waktu ngekos di malang juga gitu,warungnya emak2 selalu enak^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa ya, selalu beda klo yg dagangnya emak-emak? Selain enak, apa karna kita jadi inget emak kita? :)

      Delete
  2. Paling suka sama warung model begini, Mak. Lebih suka lagi kalau menunya tiap hari ganti-ganti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mak Is, ada beberapa menu yang sering berganti. Tapi si primadona itu teteeep. :)

      Delete
  3. waahh.. warungnya sederhana tapi parkirannya penuh sama mobil ya mak. hebat euy "warung emak" ini. saya ngebayangin makan ulukutek oncomnya mak. bikin selera makan nambah. salam kenal ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe salam kenal kembali, Mak. Senang sudah berkunjung ke sini. Hayuuu di coba! :)

      Delete
  4. Lauk tradisional memang lebih sedap, buatan tangan sih rasanya kena di lidah :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mas Ron. Jadi kenangan dan kerinduan kalau sudah jauh dari negeri :)

      Delete
  5. mba, aku pernah ke warung di daerah itu, juga deket pompa bensin, tapi warungnya lebih kecil, dan kalau gak salah menunya hanya ikan-ikan goreng.
    Disitu juga laris, kebanyakan para pegawai.
    Mungkin beda tempat ya, kapan ajak aku kesana ? hehe

    ReplyDelete
  6. Mbak , memang warungnya kecil kok, mungkin karna di foto jadi kelihatan besar. Hayuuu... sms saya yaa... kita janjian ke situ, Ok?

    ReplyDelete