Monday, 30 March 2015

Tips Menulis Cerpen Anak


Sudah 2 kali tugas cernak saya dikembalikan pak guru dan harus direvisi secepatnya. Ampuun!
Tapi saya senang, karna baru sekali bertemu dengan guru yang demikian teliti dan amat berterus terang dalam mengkritisi tulisan saya. Bertemu dengan guru atau sahabat yang suka  memuji saja membuat saya makin samar membedakan  kesalahan dan kebenaran, akhirnya saya tidak pintar apa-apa.


Cernak setoran saya itu tentang dua orang anak yang diajak orang tuanya mengunjungi taman permainan di tengah kota. Sang ayah sudah wanti-wanti memberi tips agar kedua anaknya terhindar dari mual atau muntah saat naik permainan yang mengguncang adrenalin itu.
Namun tak disangka, ternyata justru ayahnya  sendiri yang mual dan muntah-muntah saat turun dari permainan.

Penilaian guru begini,

Mbak, ini ceritanya hanya seperti mengisi buku diary. Tak ada konflik dan solusi di dalamnya.
Ganti cerita ini dengan mengunjungi Borobudur, misalnya. Agar ada unsur ilmu sejarah. Lalu ciptakan konflik sedari awal karna jatah penulisan 300 sampai 400 kata. Dengan demikian mencukupi  hingga pemecahan di akhir cerita.

Alur cerita anak harus runut teratur, misalnya kejadian pagi, siang, sore, sampai malam. Mereka tak faham bila cerita melompat ke lampau atau ke masa depan  tiba-tiba.
Konflik lebih seru kalau berliku-liku. Jangan menghadirkan tokoh orang tua saat memecahkan masalah. Dan masalah hendaknya jelas dan menutup, tidak menggantung!

**Ooo, mungkin ini membantu pembaca anak untuk mandiri yaa.. Sebab petunjuk penyelesaian bisa anak dapatkan dari mana saja, entah dari apa yang ia lihat, dari cerita teman, dari bacaan, film, atau apa saja.

Tapi saya masih bingung, bagaimana mengungkapkan jalannya solusi? Takutnya terkesan"Sok Tua" atau menggurui.  Sang guru menjawab, pelajari cara pikir, sikap, dan kebiasaan mereka. Tak perlu baca buku psikologi untuk mengetahinya. Ayooo semangaaat!! Begitu kata Pak Guru mengahiri bimbingannya



Sunday, 29 March 2015

Foto Olga






Padahal sudah hari ke dua ya... tapi di tempat umum masih saya temui orang-orang membicarakan Alm.Olga, akan perhatiannya pada anak yatim, rendah hati, dan tetap sederhana.
Ada yang menghitung-hitung berapa besar asuransi yang didapat keluarganya. Ada juga yang bercanda "Gue sih, nunggu warisan Olga ajaa...!"

Saya juga belum bisa melupakan acara pemakanan yang heboh setelah pemakaman Ustad Jefry  itu. Lalu membuka foto lama Olga dengan Rifky  keponakan saya yang kebetulan  berteman. Rumah kami tak seberapa jauh dari rumah masa kecil Olga, tapi baru  bertemu kembali karna  ada satu pertunjukan, Rifky vocalis sebuah group band yang kebetulan  mengisi salah satu acaranya.

Melihat foto ini bukan cuma sedih, tapi takut dengan yang di namakan "Catatan Malaikat". Sungguh manusia cuma bisa merencanakan tapi Allah yang paling menentukan. Semua sudah tercatat 5000 tahun sebelum kita lahir ke bumi.

Bertemu terakhir, Olga sempat memberi nomor dan mengharap Rifky mau berkunjung  ke rumahnya, tapi ternyata Rifky tak pernah sampai ke rumah Olga karna Allah lebih cepat memanggil Rifky. Tak ada yang menyangka, Olga akhirnya pergi juga 3 tahun kemudian. Dan...  qadarullah, makam mereka  dalam 1 lokasi.

Bertemu dan berpisah pasti terjadi. Namun manusia sering tak menyadari bahwa bisa jadi pertemuan hari itu adalah pertemuan yang terakhir.
Semoga Allah melimpahkan maghfirah pada Olga dan Rifky, melapangkan jalan mereka  menuju rahmat , dan dapat tempat mulia, amiiin ya Rabbal "alamiin...



Saturday, 28 March 2015

Kepergian Olga Syahputra


Sumber Gambar

Kalau sebut nama Olga, pasti saya ingat senyumnya yang khas dengan gigi gingsulnya yang menyembul, setelah  itu wajahnya yang suka mendadak bengong, lugu, atau ngambek, tapi kata-kata menyerang kocak sudah siap di kepalanya. Makin salah, Olga  makin kocak. Misalnya saat menampakkan kekurangannya, misalnya  tidak membaca teks berbahasa Inggris di acara Ceriwis Trans TV.

Olga bisa juga menangis sejadi-jadinya bila bertemu dengan nenek-nenek  dhuafa. Tanpa dibuat-buat mengalir sayangnya lewat perhatian dan pelukan. Sebab Olga berasal dari keluarga yang ekonominya lemah juga. Masa lalu yang  jadi alarm untuk menjauhi dari sombong.

Kita menikmati tawa riang Olga dari hari ke hari. 95 % ia dalam keadaan plus pujian dalam pandang kita. Sisa 5% adalah rahasia!  Bagaimana ia menikmati kesendiriannya bersama Sang Pencipta. Terlempar dari keriuhan panggung menuju  sunyi sebenarnya. Bukan sunyi duniawi yang menyedihkan, tapi sunyi fitrah seperti alam bayi dulu, sesaat setelah Allah memperkenalkan diriNya.
Kala manusia belum punya kepentingan apa pun dan bersandar pada apa pun.

Saya berdoa semoga sakitnya Olga, kesabarannya dalam menahan sakit, dapat memutihkan catatan amalnya. Terhiburnya hamba-hamba Allah, pertolongannya pada dhuafa dapat menutupi segala kekurangannya. Dia mendapat ketenangan seperti sebelum lahir dulu...

Sepertinya kita melepas Olga sendirian, berdiri diam sementara ia menjauh ke satu titik.
Tanpa kita sadari, sebetulnya kita sama-sama sedang berjalan dalam kecepatan yang berbeda. Menggenggam nomor antrian masing-masing lalu akan di himpun semuanya.
Ceceran air mata sudah kering, masing-masing sibuk dengan tanggung jawabnya atas anugerah usia.
Yang dulu menangisi orang lain, kala itu semuanya menangisi diri sendiri bila kurang bekal.

Semoga kepergian siapa pun, akan membawa hikmah besar. Makin sadar akan peran kita di bumi.
Jejak seperti apa yang akan kita tinggalkan? Tamu bagaimana yang akan menghadiri hari kematian kita? Siapa yang akan mensholati kita nanti?  Jawabannya ada pada pena peran yang tengah kita goreskan sekarang

We miss u Olga...
Allahummaghfirlahuu, warhamhuu, wa"afihi wa'fuanhuu

Wallahu a'lam


Thursday, 26 March 2015

Pilih Sandal Yang Nyaman Dan Sehat





Dingiiin ... Kalau musim hujan di kota hujan. Begitu bangun pagi , kaki kaget injak ubin. Dinginnya mantepp! Sepatu benang rajutan paling pas deh!
Selain musim hujan, sandal dalam rumah biasa-biasa saja, model slim (Teplek) sudah cukup.

Waktu beberes tempat sepatu  dan sandal, ternyata banyak sandal yang tidak terpakai karna kurang nyaman.  Saya masih simpan karna sayang, sebagian besar pengasih kerabat. Tapi dari pada tak manfaat dan hanya jadi dosa mubazir, mendingan sandal-sandal itu bawa saya dan pemberinya ke syurga, Kan?
Maka berpindahlah ke Petugas kebersihan yang  rutin datang waktu subuh. Di remang pagi bahagia banget  liat orang lain senang dengan benda kita yang lama dicuekin.

Dari informasi teman saya baru tau, bahwa tidak nyaman itu karna bentuk sandal   terlalu datar tidak begitu baik digunakan lama-lama dalam rumah, walau kelihatannya santai. Ia tidak memberi dukungan yang baik untuk kaki. Bentuk datarnya bikin otot-otot kaki memanjang dan bisa jadi sakit sendi. menambah stress pada urat Keting.

Ketika telapak kaki menjadi rata, pergelangan kaki jadi menekuk ke dalam hingga menambah tekanan pada lutut dan punggung bawah badan, apalagi kalau tahanannya longgar!
Sandal teplek bikin telapak kaki jadi sakit sebab tidak seperti sepatu, sandal tak  punya bantalan tumit hingga tak mampu meredam goncangan untuk melindungi telapak kaki.

Sekarang saya sudah ketemu dengan sandal rumah yang  baik untuk kontur kaki, bersol sedikit  tebal di lengkungan kaki. Ketemunya tidak sengaja saat cari sepatu. Sendal murah meriah ini empuk berbahan karet lembut, mengikuti lekuk telapak kaki saya. Nyaman banget! Dan yang bikin tambah seneng sandal keluaran B**A ini tidak berisik sama sekali.
Beda dengan sandal datar yang keteplak-keteplek saat keliling rumah. Cinta banget sampe beli 2. Warna gold dan silver. Dipakek untuk keluar rumah juga bisa! warnanya cocok  dengan baju abaya hitam ! tinggal pilih tas warna gold/silver. Belanja keliling-keliling rak jadi tidak capek.

Mau juga? Mudah-mudahan masih ada yaa... dan tidak semua toko B**A punya model itu. Di Bogor ada 3 warna. selain silver dan gold, ada warna merah kalem. Bagus!
Banyak yang naksir sendal saya, sayang...  teman dan saudara saya yang kakinya nomor 39 ke atas nggak tersedia ukurannya...

Agar kaki nyaman dan sehat, yaitu sandal yang sesuai dengan kontur kaki.











Wednesday, 25 March 2015

Motret Untuk Nge-Blog





Sejak nge-blog, kemana pergi senang merekam kejadian di ingatan maupun di kamera. Gambar-gambar banyak saya simpan, rencananya bakal dikembangkan jadi cerita. Betul, ada yang jadi tulisan, tapi ada juga yang lama di save pada dokument.
Heran deh, waktu ambil gambar kayaknya menggebu-gebu banget, kebayang yang bakal diceritain!
Eh, mandeg sedikit saja, ternyata bisa  menguap.
Yang enak sih, kalau pas  liat lagi ternyata bisa  jadi cerita baru.

Nge-blog juga bikin saya tidak  malu untuk ambil gambar makanan di tempat umum sebelum saya santap atau yang masih terpajang di tempat. Walaupun anak perempuan ABG  saya kayaknya malu kalau mamanya begitu. Ah, saya fikir, untuk apa malu?  yang selfie saja nggak malu kok, mereka berusaha  bikin wajah manis,  di sexi-sexiin, di unyu-unyuin di tengah orang banyak, biasa aja tuh!

Sahabat bloger pun pasti punya cerita sendiri saat memotret di tempat umum buat isi blognya.
Kalau obyeknya makanan, mudah diatur. Beda banget kalau ambil gambar situasi dan manusia. Cukup bikin saya repot dan menyesal kalau ketinggalan moment.

Seneng sekali kalau main ke blog sahabat yang full foto karya sendiri. Kayaknya penuh perjuangan banget untuk blognya, maka lebih berkwalitas.
Saya belum bisa seperti itu walau kepengen betul! Sebab kalau di tempat umum saya tidak rilex ambil gambar. Di pandang orang saat ambil gambar sangat tidak nyaman. *GR an banget ya!
Padahal pakek kamera ponsel yang praktis dan cepat. Kamera LSR saya belum pernah dipakai, nunggu waktu yang pas dan belajar dulu deh...Padahal sudah ngebet kepengen cepet  bisa menghiasi blog dengan gambar yang memuaskan seperti blognya Mak HM Zwan.

Pernah alami kejadian pahit?  Pernah! Waktu saya ambil gambar macam-macam kue di salah satu toko. Pemilik toko mengizinkan, malah senang. Eh! pelayannya seorang  perempuan belia mendekati saya lalu bilang dengan ketus "Ibu, ngapain ambil-ambil gambar?"  *Duhh!

Satu lagi waktu ambil foto di warung sate, disana ada sepasang suami istri dan anaknya sedang nikmati sate. Mata pasangan itu nggak lepas memperhatikan saya dari atas sampai bawah, lammaa! Sampe suami dan anak saya tersinggung berat dan hampir saja menegur kesal. Suami saya bilang, di tempat perantauannya, tidak sopan  menatap orang lain saat tidak berkomunikasi. Sejak dulu dia  mengingatkan saya dan anak-anak supaya tidak melihat muka orang lain yang baru naik di kendaraan umum. Jangan  terpancing menoleh kalau ada barang orang yang jatuh, bisa jadi dia malu dan tidak senang dilihat.

Tapi yang kayak gitu tidak bikin saya surut. Semangat yuk! Motret terus untuk Blog! :)







Monday, 23 March 2015

Memulai Usaha (1)




2 minggu ini  lagi jalan-jalan terus dengan suami, cari Rumah Toko (Ruko) buat mewujudkan planningnya buka usaha kuliner. Kalau orang Bogor bilang mau "Kulineran"
Bogor menjamur tempat wisata goyang lidah. Jadi tempat-tempat strategis laku keras meski harga tinggi.

Kemarin dari lapak Google ketemu iklan Ruko di lokasi strategis, dekat dengan Istana, Rumah Sakit Salak, Sekolah Regina Pacis, Pasar Anyar, Pengadilan dan Kantor Telkom.  Liat suami gembira dan langsung kepengen setor DP hari itu juga, kepala saya langsung, Twiiing !!  Haduuhh... dagang masih baru, perkenalan perlu waktu, trus butuh perlengkapan yang pasti biaya banyak juga. Komplain? Akh, nanti dibilang sok tau.

Memang sih, saya naksir juga. Tiap pulang dari pasar selalu naksir daerah situ. Anak sekolah, dan orang kantoran memenuhi jajanan gerobak sampai resto tiap pagi dan siang. Tapi mau saya,  cari tempat usaha yang harganya murah dulu, kalau sudah punya nama, banyak dikenal orang, baru dehhh... di Ruko berlantai 2, biar jadi kamar orang-orang yang bantu kami.Atau mau dijadikan 2 usaha? bisa saja...

Jam 2 siang kami ke lokasi. Cool banget tempatnya! Parkiran luas, angkot 24 jan lewat situ.
Waktu kami parkir, ada seorang bapak yang lagi foto-foto ruko itu.
"Tuh, kaan.... banyak yang naksir tempat ini! baiknya kita cepet selesaikan saja urusannya! Penghuni lama keluar bulan Mei, jadi ada kesempatan buat kita mempersiapkan perlengkapannya"
Saya diam saja. Ni otak menghitung terus jumlah tabungan yang tersisa seandainya jadi. Uang kuliah dan kost anak selama 1 tahun lagi masuk dalam tabungan itu. Dag dig dug!

"Nggak apa-apa Ma! Kalau orang mau usaha itu harus berani! Hitungan orang dagang, keuntungan perhari harus di sisihkan untuk menutupi sewa Ruko. Anggap kita pinjam uang tabungan sendiri. Tahun depan harus dikembalikan uang itu"

Wahh! benar juga. Mungkin saya yang nggak punya otak bisnis, jadi suuzon dan berkecil hati terus.
Ok, terserah "Paduka" sajalah!  Kalau saya yang memilih tempat terus rugi? pasti penyesalan 2 kali lipat ada pada saya,kan?

Setelah calling, bagian pemasaran membimbing kami ke toko yang dimaksud. Katanya disamping apotik. Woow! ruangan bersih ber AC, 3 lantai masih dipakai kantor Bank Perkreditan.
Ehhh... ternyata nggak berhenti di situ! teruuus ke arah samping Ruko. Nggak taunya itu tempat menghadap ke jalanan yang sepi, tidak ada kendaraan  umum lewat, di depannya ada penduduk setempat buka warung kecil yang jual makanan juga.

Suami keliahatan ragu, nggak tega juga bersaing dengan warung itu. Apalagi tempat sepi,  tidak terkejar untuk bayar tenaga kerjanya.
Carrrri lagiii... *Diam-diam saya legaaa :)
Kepengennya sih, dapat tempat baru bersih, 3 lantai, terawat, perkiran luas, deket perkantoran, pasar, banyak lalu lalang orang, dan harga sewa murah.** Hehehe ... mimpiii!


Sekedar informasi,

Siapa tau ada pembaca juga yang punya niat sama dan sedang cari-cari?

- Wilayah Pasar Anyar (Bogor Tengah) harga sewa Ruko dengan luas bangunan 68 dari lahan 300 meter , 3 lantai,  rata-rata 60 juta/tahun

- Lokasi  Kuliner Jl.Bangbarung, luas bangunan 50 meter, rata-rata 50 juta/tahun

- Lokasi Kuliner di Jalan Bogor Baru, luas bangunan 60 diatas tanah 300 meter, 2 lantai, harga sewanya 70/ tahun

Betul kata orang, memulai usaha itu tidak gampang! Langkah pertama perlu keringet banyak.
Tapi saya yakin, jatah kita sudah tertulis, Allah mau lihat ihtiar kita dan sejauh mana kebergantungan kita padaNya. Capek sendiri, ngos-ngosan sendiri, sakit sendiri, kalau cuma mengandalkan otot sendiri. Tanpa kita sadari sebetulnya Allah sudah kasih kita modal awal yang angkanya berderet panjang, yaitu modal kesehatan. Seberapa banyaknya uang, akan menciuut kecil kalau sudah kena urusan kesehatan ( Sakit) Naudzubillahi min zalik!

Kami harus sering-sering saling mengingatkan, ihtiar atau usaha dengan sabar. Jangan terlalu di ambil hati yang akan bikin stress. Jadi inget Si Sule yang sambil becanda bilang,

 "Semuanya itu tergantung sama DUIT ! DUIT!"

- Doa
- Usaha
- Ihlas (Legowo saat menjalankan)
- Tawakkal (Berserah diri)

Apa yang kami hadapi kini dan nanti semoga menjadi pelajaran bagi siapa saja, khususnya buat anak-anak saya. Beginilah, cara memulai usaha!





Sunday, 22 March 2015

Jika Anak Piknik Jauh






Membaca  berita-berita kecelakaan di media bikin saya berat melepas anak piknik jauh-jauh. Kalau bukan karna planning sekolah, tentu saya cari pengganti hiburan lain buat anak.
Umumnya anak-anak SMA melaksanakan liburan bareng pas kelas 2, karna kelas 3 sudah sibuk masing-masing dengan ujian kelulusan dan test masuk perguruan tinggi.

Beberapa hari sebelum keberangkatan saya suka khawatir, tapi disimpan saja, sambil terus berdoa semoga tidak terjadi musibah apa-apa. Semoga putri bungsu saya selamat dalam perjalanan pergi dan pulang. Bisa ketemu Papanya yang 4 hari lagi tiba di tanah air.

Tujuan piknik ke Jogja  selama 2 hari, full kegiatan. Mengunjungi kampus UGM, Candi Borobudur, Pantai Parang Tritis, dan... biasalah, belanja!

Persiapan




Sumber Gambar

Semua perlengkapan dia sendiri yang mengumpulkan dan memasukkan dalam travel bag. Sejak belum sekolah saya biasakan anak-anak membawa ransel dan isi sendiri keperluannya. Meski isinya cuma sapu tangan, handuk kecil, termos, baju kaos untuk salin, mainan dan buku kesayangan mereka.
Walhasil sudah besar mereka tau persis apa yang dibutuhkan, tak ada istilah ketinggalan!
Kalau saya bantu juga nanti akan merepotkan mereka mencari. Jadi biar mereka yang atur saja.

Kalau sekarang, bawaan sudah banyak jadi  saya selalu ingatkan agar mencatat semua barang-barang yang dibawa, supaya tidak ada yang tertinggal saat kembali nanti. Selain pakaian, perlengkapan yang dibawa biasa saja,  seperti

- Perlengkapan Mandi.
-           "           Sholat.
-           "           Piknik
-           "           Tidur
- Obat-obatan
- Buku bacaan


Beruntung, sekarang ada kantong kedap udara (Vacuum bags) yang bikin tipis  tumpukan pakaian bawaan.
Jadi handuk tebal dan selimut hangat  kesayangan anak saya  tidak makan tempat.
Hehehe...Bawa bantal guling juga bisa, kalau mau!



Seperti abang-abangnya, dia juga saya nasehati sebelum berangkat, supaya :

- Menjamak sholat  di pemberhentian bis
- Jangan menahan kencing. Nggak mau kan, bengong sendiri Anyang-anyangan sementara yg lain gembira?
- Minum yang cukup karna di kendaraan ber-AC cairan tubuh cepat berkurang
- Jangan  bercanda/ ketawa berlebihan  dalam Bis.
- Dari pada melamun lebih baik baca buku yang penuh manfaat, atau zikir.
- Bergantian duduk dengan teman sebangku siapa tau dia juga mau lihat pemandangan?
- Sesekali sms, beritau sudah sampai mana? atau balas kalau mama sms.
- Pilih tempat aman kalau mau foto-foto
- Perhatikan aturan/peringatan dari guru-guru
- Jangan begadang, biar  fit dan fresh saat wisata.

Ada satu yang tak terfikirkan oleh saya, tapi anak lebih siap. Misalnya, dia sudah googling sendiri peta jalan di sana, tempat makan yang unik plus harganya, dan hal-hal apa saja yang biasanya mengecewakan wisatawan. Mulai dari tukang becak yang suka "Ngerjain" dan lain-lain.

Sempat anak saya memilih  dibelikan Powerbank, dari pada saya memberikan uang untuk oleh-oleh.
Rupanya dia sudah tau, kalau rame-rame begitu pasti berebutan stop kontak buat nge-charge HP masing-masing. Hihi, benerr juga!


Waktu Berangkat.

Jam karet masih berlaku juga ternyata ya..., meski ada smartphone sudah memudahkan komunikasi. Ada siswa lain yang kesiangan datang sementara teman-temannya  hadir dari pagi masih gelap.

Alhamdulillah Bis nya baru, bersih, dan jarak bangku luas. Saya baru menyetujui anak ikut wisata setelah tau bis apa yang akan digunakan. Biar sedikit mahal tidak mengapa, asalkan bukan bis-bis lama yang tak laik, apalagi kalau sopirnya tidak sopan di jalan. Jika terjadi apa-apa, Qadarullah! Yang penting manusia sidah ihtiar maksimal.

Hal lain yang penting buat saya.

1. Bagaimana keadaan Bis
2. Berapa guru yang ada dalam masing-masing bis. Minta nomor hp nya
3. Siapa teman sebangku anak saya, dan minta nomor hp nya juga

Meski sudah disiapkan snack sarapan pagi, tapi saya siapkan juga buger isi komplit untuk anak dan gurunya yang 1 bis. Alhamdulillah  fast food berlambang badut itu buka 24 jam.
Hehe...bukan nyogok lho, Bu! Cuma biar ibu kenal, saya ini mamanya Iin.

Kalau semua sudah dilaksanakan, rasanya legaa melepas anak piknik jauh.












Saturday, 21 March 2015

Sarapan Di Parkiran





Tiap minggu pagi saya bawa anak-anak sarapan di daerah Sempur.
Maksud sebenarnya sih, membujuk samar, penyemangat, (Sogokan?) Ah, apalah namanya!Supaya sehabis sholat subuh mereka  tidak tidur lagi. Gelap-gelap mau ikut kajian di  mesjid Al Hijri dekat  situ. Tau sendiri, kalau hari libur plus udara dingin enaknya tarik selimut lagi.

Mbela-belain deh, pagi-pagi ngeluarin duit agak gede, saya harap mereka akan terbiasa dan jadi jadwal rutin.

Lumayan tuh, efeknya.  Kebiasaan itu berlanjut setelah mereka  kuliah di luar kota.Tanpa hiburan makanan tentunya, maklum anak kost-an...

Banyak makanan serba hangat. Karna semakin lama semakin ramai orang datang, maka hari sabtu pun buka.

Kemarin saya bawa suami ke tempat penuh kenangan itu. Sebelum jam 6 pedagang berlapak mobil sudah buka menu masing-masing.
Makanan beratnya .... Gudeg, Soto, Bubur Ayam, Nasi Timbel, Sate ,Ketoprak,  Soto, Lontong Sayur, Mie Ayam dll.
Sedangkan makanan ringan, ada stand khusus Tempe Mendoan, Klapertaart, Kue Ape, Bubur Kacang Ijo, Aneka Kue Basah dan Gorengan.

Harganya standard tapi rasanya memuaskan. Salah satunya Gudeg yang selalu jadi inceran saya. Kreceknya puwedess berbumbu kuat, dan pindang telurnya berwarna gelap dari resapan bumbu. Sementara suami saya menggut-manggut kagum dengan ketan sambal kacang.
Mie Ayam dan combro pun lumayan!

Kalau sahabat sedang bermalam di Bogor, tidak usah repot cari-cari sarapan meski hari masih gelap. Bila perlu beli sekalian untuk makan siang.
Atau yang mau piknik tak siap bekal, lebih  baik beli di sini daripada di tempat wisata yang harganya aduhaii!

Lokasinya mudah dicari.  Lahan parkir Ruko yang bersebelahan dengan Gedung Wanita dan Resto Bogor Permai yang terkenal itu.
Bagi yang belum pernah ke Bogor, patokannya pintu masuk utama Istana.

Suasana lumayan nyaman dan bersih, kendaraan belum banyak lalu lalang.
Yuk! Sarapan di parkiran...:)



Kelamaan LDR (3)


Selagi LDR, biasanya pandai menjaga perasaan masing-masing. Lebih hati-hati berkata dan berusaha menghindari masalah. Soalnya repot kan, kalau salah omong lalu dua-duanya ngambek?  bakal macet deh, komunikasinya. Biasanya yang ngambeknya lama pihak perempuan.
Itu salah satu sisi enaknya ber-LDR.

Saya merasakan manfaat waktu lowong. Beberapa tahun saya bisa belajar  ilmu bahasa, ilmu Quran,  dan mendalami lagi kemampuan merajut.
Silaturrahmi ke orang tua super lancarrr, mau nginep di kost-kostan anak atau di rumah adik-adik, tak ada halangan.
Tapi kalau keluar pulau Jawa saya nggak berani, karna amanat suami, maunya jalan jauh sama-sama.

Masalah biaya sehar-hari, alhamdulillah terlatih untuk hemat, karna tak perlu pakai pembantu, dan karna keadaan saya jadi bisa semua pekerjaan. Dari bersihkan taman, nge-cat rumah, ngerti mesin mobil, sampai jadi guru setir buat ke 3 anak laki-laki saya.
Bangga deh, waktu suami bilang: "Saya terharu, begitu datang anak-anak sudah pintar melakukan apa saja..." Alhamdulillah.

Sisi nggak enaknya?
- Muncul fikiran negatif kalau jadwal rutin skype tiba-tiba mandeg tanpa kabar.

- Pas anak-anak sakit kita sendiri yang pontang panting penuh cemas. Sering suuzon sama keadaan yang akan datang. Bagaimana kalau di antara kami ada yang "Berpulang" tanpa kehadiran suami/bapak?

- Cuma bisa tahan dongkol kalau ada yang manzolimi.

- Di tanyai terus sama kerabat dan tetangga, "Kapan suaminya pulang?" Waktu jadi semakin panjang rasanya, padahal sebelumnya biasa-biasa saja.

- Hati geregetan kalau liat kerusakan rumah, dan kendaraan. Sementara suami tenang-tenang saja menanggapi.


Bagaimana setelah berkumpul?
Insya Allah sebisa mungkin komunikasi dan saling tahan diri tetap di pertahankan. Apalagi sekarang segala masalah  hadir di depan mata, beda cara pandang  bisa bikin panas.

Urusan kerjaan rumah jadi ringan sekarang.  Team bertambah satu orang lagi, nge-cat bisa lebih cepet kelar, suami  lebih teliti memilih mana pekerjaan rumah yang harus didahulukan, ia punya cara baru yang praktis dan hasil lebih baik karna pengalaman dari tempat perantauannya.
Satu yang paling saya senang setelah berkumpul, kami meneruskan kembali kebiasaan lama, sholat berjamaah. Di penghujung kegiatan itu kami saling memaafkan, bersihkan hati, dan menunjukkan kasih sayang dengan tanda sederhana.

Ada juga sih, yang hilang...
Baju daster dingin berwarna pudar yang sering  saya pakai, sekarang terlipat rapih.
Biasanya tidur bisa di depan tivi, sofa, kamar anak-anak, sekarang ada yang bangunin.
"Maa... tidurnya di kamar!" katanya....  *Hehehe :)







Thursday, 19 March 2015

Kelamaan LDR (2)


Perjumpaan setelah lama LDR banyak juga nggak enaknya. Orang cuma bisa bilang "Waahh...asiknya, penganten baru lagi!" Padahal ada saja masalah yang timbul dalam penyesuaian.
Suami saya di negri sana biasa masak sendiri, dia tau persis yang enak buat lidahnya. Akhirnya masakan saya dibahas. Beda banget dengan saya yang taidak pernah bisa menikmati masakan sendiri, jadi apapun  yang dimasak orang lain semuaaaa enak buat saya.
Memang ada beberapa masakan saya yang tetap jadi favoritenya sejak dulu, tapi tetep aja, buat saya terlalu repot kalau ngebahas makanan. Nikmat makanan bisa berkurang.

Ada juga masalah lain...
Selama suami pergi semua miliknya terjaga. Anak-anak dan hartanya. Sebisa mungkin dia kembali masih sama keadaannya dengan saat dia pergi. Anak-anak sehat, pendidikan kelar, berahlak baik.
Alhamdulillah, saya bisa bangga dengan hasil selama 11 tahun. Sebetulnya bukan saya sihh... cuma kemurahan Allah dan segunung doa saya dan suami juga.

Dalam Islam sudah tegas tugas istri untuk menjaga anak dan harta suami selama suami bepergian.
Sepatu-sepatu dan tasnya yang hancur di makan lembab, tetap saya simpan. Begitu juga pakaian-pakaian lamanya walaupun sudah tidak muat lagi dan beberapa ada yang sudah pudar warna, tetap saya simpan baik-baik. Bagian lemarinya tetap seperti waktu dia tinggal.Rasanya nggak tega, begitu pemiliknya nggak ada lalu saya singkirkan untuk tempat pakaian2 lain yang banyak diluar lemari tak tertampung. Hihi... soalnya sejak rumah tangga sampai anak-anak besar lemari pakaian nggak bertambah.Cuma laci-laci saja yang banyak. Tidak memenuhi sarat buat baju yang langsung pakai. 

Tapi tidak semua bisa berjalan dengan sempurna.  Dan saya kesandung dalam hal kecil.
Ceritanya gini, suami pernah kirim banyak baju dan barang dari sana (Sacramento).Di antaranya ada beberapa  jaket tipis bertopi dari kantor tempatnya bekerja. Yang saya tau, kantornya selalu mengeluarkan jaket seragam itu. jadi pasti bertambah lagi  doong kalau dia datang.
Jadi, saya kasih 1 ke ipar saya yang punya usaha malam hari.

Ternyata itu kesalahan besar bagi suami, alasannya itu buat naik gunung dengan anak-anak. Padahal anak-anak sudah banyak jaket tebal-tebal hadiah tantenya dari San Francisco. Entahlah! mungkin "Roti sepotong lebih berharga dari roti sekeranjang?" Ukh, Ujian banget deh!

Kalau buat saya sih... harusnya bersyukur saja, harta yang besar sudah selamat. Kenapa harus terganjal dengan harta yang kecil?
Tapi saya nggak bisa maksa fikiran orang sesuai dengan fikiran saya, bukan? Dan memang saya salah, walau bagaimana pun tetap harus minta izin meski barang kecil.

Buat yang LDR, bersiap-siaplah dengan hal kecil yang mungkin bisa jadi ganjalan.
Paling bagus kalau janjian sebelumnya.Tanya pada pasangan kita, apa yang dia tidak suka kalau terjadi saat bersama lagi. Supaya aman, kalau terjadi diluar yang dia utarakan "DILARANG KOMPLAIN"

Bersyukurlah kalau punya suami yang pandai menghitung nikmat dan  yakin bahwa segala seuatu termasuk barang ada umurnya. Allah yang tentukan sampai kapan kepemilikan kita? Dan Allah yang akan menggantikan apa-apa yang sudah kita lepaskan.

Ok, sudah dulu yaa... sampai ketemu lagi :)





Wednesday, 18 March 2015

Kelamaan LDR (1)

39.LDR-Airport by miwang


Terlalu lama mengerjakan apa-apa sendiri, jadi suka lupa bahwa harus berbagi tugas, harus meminta pendapat suami, dan jangan nge-jago sendirian!

Ini saya alami waktu kami ke toko material untuk beli triplex, selang gas, dan lain-lain.
Turun dari mobil saya langsung ke Ngkoh penjual nanya-nanya harga barang. Kacaunya langsung mutusin minta barang diantar ke rumah.

Hihi... suami kesel dong! dia berdiri di samping kayak nggak dianggep!
Udah gitu  pakek salah lagi!  Saya merubah kesepakatan dari rumah, soal tripleks cuma nge-cek harga doaaang,  bukan beli! Karna di kios  khusus kayu  harganya lebih murah ( Orang Jabotabek sebut: " Toko Madura, krn kebannyakan pemiliknya orang Madura).

Sadar beliau nggak suka dan tunjuk sikap kecewa, saya langsung kancing mulut,  minggir dari etalase, dan membiarkan dia berurusan sama Ngkoh.
Tapi setelah  itu  kelihatan sekali suami saya menyesal, karna menunjukkan perasaannya  di tempat umum. Akhirnya berusaha baik dan mempersilahkan saya memilih barang.

"Mama, suka warna dan model yang mana? Ayo, mama pilih deh!"  ** Hihi... :)




Berusaha Tetap Menulis

Bisa menulis rutin itu, bagus! Dalam keadaan luas atau sempit diusahakan bisa menulis.
Bukan apa-apa, punya kegiatan yang berlangsung terus dan teratur seperti melatih diri agar bisa disiplin. Punya bahan cerita yang manfaat buat pembaca seperti punya satu amalan harian yang berbekas.

Hari ini banyak yang ingin ditulis sebenarnya.
Misalnya bagaimana kikuknya  mengatur waktu karna punya kegiatan baru yang 11 tahun sudah tidak saya lakukan. Waktu LDR, saya bebas bangun dan tidur kapan saja, menulis di  sembarang waktu. Mau masak atau nggak, no problemo! Karna saya hanya berdua dengan si bungsu yang keseringan pulang kerumah dalam keadaan kenyang. Daripada makanan bersisa, saya pilih makan seadanya.

Kehadiran suami bukan berarti bikin repot, tapi menjadikan diri kembali menjalankan rutinitas dengan teratur.  "Semau gue" nya saya harus dihilangkan!
Alhamdulillah suami tidak memisahkan saya dari komputer, tapi saya harus tau diri,kan?
Pekerjaan rumah ada yang sudah kelar dan ada yang masih menanti dijamah. Sekalinya ada waktu untuk menulis, eh, ketiduran! Jadi kangen deh, sama menulis. Oh ya! Kangen juga dengan BW. Kepengen koment di blog teman-teman yang makin genjreeng!!  :)

Banyaknya rencana baru saya dan suami, kadang  bikin mampet ide . Pengalaman menarik yang hendak dibagi menguap begitu saja. Sementara masih punya hutang  PR kelas menulis cernak, dan belum setor cerpen dewasa., Haddohh!

Tapi, tetep cinta sama yang namanya menulis! Sambil menikmati kebersamaan dengan suami tentunya , hehe :)



Sunday, 15 March 2015

Kesalahan Menulis Cerpen Anak




Senang terima koreksian dari Mas Bambang Irwanto, guru cernak online saya.
Kesalahan saya jadi terang benderang, mudah ditemui. Kata Pak guru begini...

- Usahakan jangan menulis kalimat panjang dalam satu kalimat. (Mungkin agar lebih cepat difahami anak-anak yaa...). Cukup induk dan anak kalimat.

- Keterangan tokoh jangan diulang lagi bila sudah diurai di pendahuluan

- Buang kalimat yang tak perlu.

- Tokoh utama harus selalu ada dalam setiap cerita

- Ending jangan tergesa-gesa.

Menulis cernak memang sederhana. Banyak bahan cerita dari keseharian kita. Kalau lagi mampet ide, saya buka film kartun di youtube, majalah anak, buku ilmu pengetahuan anak.
Namun menumpahkan dan menyusunnya perlu keterampilan mengolah kata dan rasa. Pesan moral dan menyisipkan ilmu harus halus dan difikirkan sebelum pena bergerak.


Kesamaan cernak  dengan cerita dewasa adalah mengatur alur yang sederhana, alur maju, dan konsisten dalam kisah. Karakter tokoh akan membuat kita konsisten dalam mengurai cerita.
Latar belakang penting,  menggambarkan suasana sore, malam , lampu-lamu, bintang dll sangat membantu pembaca membayangkan situasi, waktu dan tempat.

Beberapa kali dapat komentar ide tulisan saya sudah baik. Tapi  saya masih merasa lemah dalam memilih gaya kata anak-anak. Setiap menyusun narasi suka bertanya sendiri "Ni, anak-anak ngerti nggak, ya?" "Ruwet apa nggak?"

Banyak lagi sih, yang harus diperhatikan kalau baca teori menulis cernak, rasanya jadi berat. Tapi ada yang membesarkan hati, anak-anak jatuh cinta pada cerita bukan hanya pada paparannya saja, bisa jadi karna gambarnya, sampulnya, atau dari gaya cerita  orang tuanya.



Saturday, 14 March 2015

Rumah Betawi Yang Tersisa




Setiap pulang ngaji di Cilengsi pasti lewat depan rumah tua. Jalan menuju rumah di tumbuhi tanaman keras yang rindang nyaman.
Kami membahas rumah yang mengingatkan masa kecil itu. Akh, seandanya di teras rumah itu ada meja dagangan gado-gado, asinan dan kerupuk mie dalam plastik besar menggantung di sisi meja... Persis dagangan Pok Rohaye tetangga kami di daerah Pisangan Lama-Jakarta Timur.

Kalau nonton film benyamin, masih bisa dinikmati rumah dan suasana betawi jaman dulu.
Tetangga yang bicara apa adanya, agamis, seneng guyon, serba ingin tau, tapi sangat penyayang dan mudah membantu, ciri khas Betawi banget!
Pokoknya kalau mau liat gaya mereka tinggal nonton acara Lenong Betawi  TVRI tahun 70-an.


Penduduk Betawi sekarang  bukan saja kalah jumlah karna kedatangan kaum urban, tapi hati mereka juga terlanjur jatuh pada mereka. Anak pinak kebanyakan tidak asli lagi.
Beruntung budaya Betawi masih tersisa meski hanya pada saat-saat tertentu saja.
Yang memprihatinkan adalah rumah-rumah khas mereka hampir habis.
Seperti yang satu ini ... beberapa minggu setelah ambil gambarnya, rumah ini rata dengan tanah.
Sayang yaa... :(
















Friday, 13 March 2015

Crying In the Rain

(Bahan untuk "Percikan")

Seorang wanita berhati perih
Disembunyikan air matanya diantara hujan
Tak boleh ada yang tau, sekali pun sapu tangannya.
lelehannya seperti duri...


Seorang wanita berhati luka
Sembunyikan duka, tak pernah bisa komplain
seperti manusia yang tak pernah bisa mengkomplain hujan

Ia hanya berjalan dalam kabut hujan
Ia di bodohi kekasih hatinya
Merasa jadi wanita paling dungu sedunia

Tatapan kosong...
Kebohongan dan penghianatan hadir jelas di depan mata
Tangan dan bibir terkunci.

Dendamkah? Ya,  ia ingin sekali  membalas!
Namun terlalu banyak hati yang akan terluka.

Meluncurlah nada dari bibirnya yang dingin

"I"ll do my Crying In the rain...
You never see..."

Thursday, 12 March 2015

Memilih Matras


Sumber gambar


Setelah mencoba nikmatnya tidur di kasur Orthopedik bahan Latex, saya beli lagi 2 tempat tidur untuk anak-anak berbahan sama. Jenis ini bukan karna  cocok untuk usia diatas 40 tahun yang sering mengeluh pegal otot saja lho... tapi kasur ini baik  untuk anak saya yang bermasalah di tulang  (Skelorosis). Walaupun skelo nya belasan derajat saja, tapi tidur dengan kasur yang tepat paling tidak akan membuatnya nyaman dan tidak menambah derajat kemiringan tulang punggungnya.

Adik saya ada yang sering mengeluh punggungnya terasa sakit setiap bangun pagi, ternyata skelo juga dan baru diketahui setelah usia 40 tahunan. Mudah tertangkap mata bagi yang faham. Bahu kiri tak seimbang dengan bahu kanan. dan agak menonjol salah satunya.
Bagaimana adik saya tak mengeluh dengan sakitnya? Kasurnya empuk nyaman. Tulang punggung mengikuti lekuk kasur yang tertimpa berat badan. Maka saya sarankan agar ganti kasurnya.

Makin asli tempat tidur latex, makin keras dan mahal! Yang kelas menengah saya tanya harganya ada  8 juta ukuran Queen ( 160X200). Hihi... kalau di pikir mending tidur di tikar aja deh! lebih keras :)
Tapi contoh lapisan atau material dalamnya memang bagus. Sirkulasi udaranya bikin adem sesuai dengan suhu kamar, dan lapisan akhir lembut berbahan anti tungau, cocok buat yang punya penyakit asma. Sifat Hypo allergenic yang membuatnya demikian.

Menjelang kepulangan suami saya agak risau, takut kalau dia tidak cocok dengan kasur ini. Sebab untuk masalah tidur dia perlu adaptasi. Bantal saja bisa jadi aneh buat dia kalau yang tidak biasa dia pakai. Beda banget dengan saya yang dimana aja bisa langsung merem kalau sudah kesenggol bantal asing. Eh! alhamdulillah tuh! Suami cocok dengan matras ini, malah dia bilang enak! Badan nggak pegal-pegal.
Bener deh... saya liat frekwensi membolak balikkan tubuhnya tidak sering! Dan baru saya tau kalau busanya bukan busa biasa yang menyerap panas, dan struktur latex menyangga tubuh dengan baik. Mengurangi titik-titik tekan pada permukaan tubuh.

Kekurangan Latex ada juga, yaitu, berat diangkat dan berat di harga.
Tapi apa sih, yang tidak bisa dioplos di negeri kita? Bagi yang tidak punya masalah dengan pungggung, bisa pilih yang latex oplosan, lateks nya  50 %. Harga ukuran single cuma 1,5 juta.Agak ringan dan gampang di jemur,
Kalau bisa jangan pilih cover  warna hitam ya, itu warna yang mudah sekali  menyerap panas.




                                             Berbahan dasar getah pohon karet.(Sumber)

Monday, 9 March 2015

Iri Yang Positif






"Ayo Mbak Mutia, tumbuhkan rasa iri positifnya!"
Begitu kata Mbak Nurhayati, guru menulis saya yang banyak melahirkan cerita anak-anak. Namanya tak asing lagi di lembar halaman majalah Bobo.

Teman-teman saya seangkatan sudah pecah telur semua, tulisannya menembus media. Sementara saya masih senang melihat kegembiraan mereka.
1 lembar tulisan pun belum ada yang terkirim. Kerjanya cuma menabung tulisan dengan rencana 1 kali kirim menyebar kemana-mana, begitu...

Kenapa ya?
Apa karna keinginan saya di awal cuma ingin bisa menulis, menulis, dan menulis? Sampai lupa berharap supaya dikasih kemampuan untuk berani kirim?

Atau karna merasa ruwet  mengirim karya via email dengan macam-macam sarat? Atau karna takut ditolak sebelum mencoba?
Sepertinya saya harus menghajar 'SI TAKUT DAN RAGU" itu. Tak ada yang membedakan saya dengan teman-teman. Kelebihan mereka adalah berani  menghadapi dan melawan 2 halangan itu.

Orang mahir saja bisa menemui kegagalan. Tapi status orang itu "Mencoba". Sederajat lebih tinggi.
Kalau seperti saya ini, mungkin gagal sebelum gagal yaa?  Mau mencoba akh...!




Perubahan Di Jakarta






Jakarta sudah sering disorot dari segi keruwetan dan semena-menanya.
Tapi namanya kota yang hidup, terus berkembang meski dengan napas kembang kempis, dapat di temui juga kelebihannya. Sekecil apa pun perubahan positif perlu disyukuri yaa...
Biar Tuhan kasih  lagi kelebihan-kelebihan lain di  kemudian hari.

Berjalan kaki atau mau menyebrang jalan di kawasan JL. Casablanka -Jakarta sudah nyaman, sekarang. Trotoar bersih nyaman, dan kendaraan yang melaju kencang bisa kita stop dengan menekan tombol merah di pinggir jalan. Lampu khusus pejalan kaki itu mengeluarkan suara keras sebagai peringatan pada pengemudi.

Sementara waktu masih di jaga 2 petugas di kiri kanan jalan. Biasa... alat baru perlu pembiasaan.
Supaya tertib dan tak langsung main pencet. Masyarakat kita harus dilatih untuk sabar dan pandai baca situasi tepat, kapan harus tekan tombol.

Yang kayak begini bikin hati adem di jalan. Saya pernah kesulitan menyeberang sampai berdiri bengong selama 20 menit lebih menunggu orang lain untuk sama-sama menyeberang.
Karna kepepet waktu dan harapan nihil akhirnya saya naik taxi hanya untuk ambil jalan putar dan sekalian di antar ke lokasi yang sebetulnya bisa dicapai dengan jalan kaki. Beruntung sang sopir mengerti.

Perubahan lain, jembatan penyeberangan yang dulu jadi tempat nyaman buat pengemis dan pedagang gelaran, sekarang sudah bersih dan lowong.
Pejalan kaki dihibur dengan musik yang serius oleh pengamen yang tidak maksa minta uang.
Lumayan... bisa kurangi rasa sepi saat menyeberang sendirian.

Semoga Jakarta dimudahkan dalam perubahan positif. Warganya juga pandai menjaga, merawat  dan menghargai usaha pemerintah daerah sebagai tanda syukur.









Saturday, 7 March 2015

Toko Bahan Kue Terkomplit Di Bogor





Dulu semangat menggebu  kalau liat resep kue asing yang nikmatnya  bisa ditebak karna  tampilannya yang bikin gemes, Lalu blusukanlah dari satu toko ke toko lain di Bogor buat cari bahannya. Tapi, semangat  itu  rontok kalau salah satu bahan nggak ada. Ujung-ujungnya, lupakan gambar yang mengejek itu!

Sekarang tidak lagi, cari bahan resep cukup di satu tempat saja, toko YOEK"S tak banyak orang tau. Toko perlengkapan dan bahan membuat kue ini letakknya sembunyi di belakang Hotel Salak-Bogor.
Komplit deh! mau bikin kue apa saja tersedia, baik kue tradisional maupun internasional.

Lorong-lorongnya colour full, aneka  hiasan kue ultah sampai kue pengantin. Macam-macam cetakan dan penggorengan kue jajanan jadul sampe yang mutakhir. Yang paling asik sih, kalau lewat rak coklat... wooow! Kepengen bawa pulang semua, sedangkan rak khusus cup cake, wadahnya unyu-unyu sok romantis, gitu!

Kelebihan belanja di sini, bisa beli ketengan buat bahan kue yang mahal, atau jarang dipakai. Seperti mentega putih dan mentega tawar untuk pie, saya beli sedikit saja, khawatir  rusak karna kelamaan disimpan.
Selain itu sebulan sekali ada Yoeks mengadakan  kursus masak kue buat pemula maupun kelas mahir.








Senang ketemu tempat begini! Tapi yang sabar ya, kalau belanja di sini. Antri bayarnya lumayan lama. Banyak yang  belanja dalam jumlah banyak. Mungkin untuk  pesta atau usaha  mereka. Beli terigunya sampe karungan!


Oh ya, ada 1 yang saya belum tersedia disini. Pisau penghancur adonan pie dambaan saya, bahasa kerennya Pastry Cutter. Adanya di Toko ANI, toko bahan kue lengkap di Pasar Senen-Jakarta. Alhamdulillah sekarang bisa pesan online.

                                                                 
Karna belum punya, saya jadi pakai penghancur kentang dehh...
Lumayan sih hasilnya., mirip-mirip juga. Dan yang penting pie nya bisa renyah.

Nah... ibu-ibu Bogor, selamat berkunjung ke Yoeks yaa ! ") Yamg mau tanya tanya dulu pencet saja nomor...  (0251) 8311 436, 





















































































Thursday, 5 March 2015

Setelah 11 Tahun LDR...



Lumayan yaa... jalani hidup berjauhan, yang satu berjuang di Sacramento-USA demi masa depan  anak-anak. Yang satu lagi (saya) disini berjuang menjaga harta, yang terlihat maupun tidak. Kehormatan diri istri dan akhlak anak-anak adalah harta hati dan akhirat bukan? Tak terlihat tapi justru yang terberat.
Seperti ada beban super berat  terangkat ketika melewati masa uji nyali di kehidupan riil.

Teman-teman sering tanya "Koq kuat sih, gue ditinggal 3 bulan aja udah uring-uringan!"
Siapa bilang kuat? Saya tidak kuat, tapi ada yang menguatkan. Yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu yang kita alami pasti tidak sia-sia. Ada maksud Allah yang selalu baik di balik semua.
Sederhana aja sih cara fikir saya, pointnya gini...

- Semua manusia punya resiko hidup besar atau kecil. Jika besar yang dihadapi maka kapasitas hati harus di tambah. Data komputer terlalu banyak, Ram nya harus di besarkan. Atau kebutuhan listrik kita banyak, dayanya harus di tambah. Hati kudu lentur kayak karet.

-  Masalah yang saya punya memang sudah pas buat saya. Orang lain belum tentu kuat memikulnya, begitu pula sebaliknya, masalah yang dialami orang lain belum tentu saya kuat menerima.

-  Saya selalu ingat kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah meninggalkan istrinya Siti Sarah dengan bayi mereka di tengah gurun pasir. Tanpa aqua sebotol dan uang 1 sen pun dan dijamin tak dapat kiriman apa-apa. Hikmahnya agar hamba tau bahwa ada yang maha menjamin. Apa buktinya?
Air terpancar dari pasir di bawah tapak kaki bayinya.

Saya jauhhh di banding Ibunda terpuji itu, saya masih dapat kiriman Money Gram 2 minggu sekali. tehnologi modern memudahkan saya ber-skype  disembarang waktu. kami ngobrol bisa sambil mengerjakan pekerjaan rumah, bisa lihat suami lagi sholat, tau apa yang dia masak/makan. Obrolan minimal 2 jam. Jadi rasanya tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Tak ada alasan untuk bilang tidak kuat.

-  Saya selalu yakin bahwa kesabaran pasti berbayar. Dan ternyata benar, asal saya mau menerima keadaan maka Allah yang sebenarnya memudahkan segalanya. Seperti menata hati anak-anak saya hingga mudah diatur, pendidikannya membanggakan hati  dan banyak hal-hal lain yang sulit saya ceritakan.

Sekarang Allah kabulkan doa kami, dikumpulkan dalam keadaan utuh dan sehat. Hilang ketakutan  lama yang  jadi rahasia saya dengan Allah sang pemilik umur. Saya suka takut, kalau suami pulang dalam keadaan tak bernyawa, atau suami kembali tapi saya atau salah satu anak sudah "Berpulang"

Semulus itu kah? Tentu tidak! Seperti hujan  yang kadang diselingi angin bahkan petir. Tapi setelah hujan berlalu jalan jadi bersih, udara berganti segar, tumbuh tunas baru. Biar jadi rahasia alam saja...

Semoga bermanfaat bagi penerima soal ujian  yang sama. Berapapun lamanya LDR, bukan masalah di waktu tapi pada keihlasan.




Tuesday, 3 March 2015

2 Hal Yang Diremehkan



Seorang ibu yang suaminya meninggal 4 bulan lalu tiba-tiba datang ke rumah. Curhat di tengah lelehan air mata. Katanya saudara suami menzalimi dia dan anak-anaknya
Pasalnya dia ditagih bayar tanah rumahnya karna kelebihan dari hitungan jatah warisan.
Dia merasa sudah membayar cukup, tapi keluarga suami membantah.

Saya tanya, apa ada bukti transferan atau kwitansi pembayaran?   Jawabnya, tidak ada!
Apa keluarga suami punya catatan  penerimaan pembayaran? Jawabnya, tidak ada!
Karna kedua pihak sama-sama mengandalkan feeling saja maka keluarga suami menawarkan diganti dengan sebagian rumah. Penawaran yang dianggap sama dengan "Pengusiran" oleh ibu ini.

Mengeluhnya tak putus-putus, kenapa sang suami tak membicarakan detil hak mereka sebelum wafat?
2 hal besar yang paling di remehkan, padahal efeknya bisa panjang membawa permusuhan.

Pertama, Kebanyakan dari kita masih  tabu atau pakewuh membicarakan waris selama orang tua masih hidup. Padahal berwasiat itu dianjurkan Allah untuk memudahkan manusia. Allah sudah mengatur karna Dialah pemilik harta sesungguhnya.
Manusia GR yg merasa memiliki akhirnya mengikuti akal dan rasa saja.

Kedua, Menganggap remeh catat mencatat  karna masih hubungan keluarga. Padahal agama mengatur, meski cuma 2 orang berhutang piutang dengan nominal kecil, harus... harus di catat!

Masalah waris masalah serius di Prancis. Negara memberi denda besar pada warganya yang mengurus waris setelah kematian orang tua. Makin cepat diurus makin murah. Maka  Adik saya  bilang mertuanya sudah mewariskan hartanya ke anak cucu sedari awal,  hingga status mereka seperti menumpang pada anak. Bagi kita "Kok,tega sih?" Bagi mereka itu menenangkan.



Sunday, 1 March 2015

Anak Punk Hati Pink



Sabtu siang saya dan sahabat Bloger (Mbak Een Endah)  janjian ketemu di Stasiun Bogor. Mau penuhi undangan Talkshow Parenting di Jakarta. Dari koridor menuju pintu masuk saya lihat Mbak Een sedang mencuru-curi foto anak Punk yang duduk berpencar namun masih 1 lokasi.
Wahh! bagus buat cerita saya fikir, dan langsung ikut Mbak Een ambil foto mereka.
Tapi kereta tidak lama lagi berangkat, dengan terburu-buru saya foto mereka saja tanpa sembunyi-sembunyi. Woow! Reaksinya luar biasa, mereka serentak berkumpul pasang aksi.

Berhadapan langsung dan berdialog sebentar, baru terasa, ternyata mereka sopan, ramah, dan tidak kasar. Sepertinya kegiatan ini untuk membangun kepercayaan diri mereka, ingin ada pengakuan, ingin diperhatikan, asik dengan diri sendiri tanpa mengganggu orang lain.


Dulu sering timbul tanya, apa sih maunya mereka? Apa orang tuanya nggak ngurusi? Madesu (Masa depan suram), manusia nggak jelas. Mustinya ditegur saat anak mulai tindik kuping. Apa nggak liat baju dan celana anaknya sudah mulai berubah dengan atribut aneh?
Saya pakai kaca mata kuda dalam memandang mereka!

Kita tidak tau, mereka datang dari keadaan keluarga yang bagaimana?
Ada 1 gadis yang saya kenal, ia tumbuh liar dalam lingkungan yang jadi bahan cibiran orang.
Kalau Allah tak menunjuki saja jalan tentu saya akan meramaikan cibiran. Mendengar cerita kehidupan dari bibirnya langsung bikin hati jadi terenyuh.

Ibunya wanita"Penghibur"  yang tak pernah tau siapa bapak si gadis ini. Mau pergi malam pulang tengari bolong, tak ada teguran. Tidak digugurkan saja sudah bagus! Begitu kata si ibu.
Sementara sang anak merasa mati bayi lebih baik, dari pada hari-hari merasa minder jika bertemu dengan orang yang berkehidupan normal. Ia katakan terus terang kalau bertemu anak sekolahan  langsung mengkerut harga dirinya. Tapi yang terlebih sakit kalau ketemu orang alim/taat. Serasa neraka ada di depan mata, dan syurga bukan haknya.

Cerita yang membuat saya harus mencemeti hati sendiri, jangan berprasangka buruk. Siapa tau akhir hidup mereka lebih baik? Kembali ke Allah dalam titik terendah saat ia menghinakan dirinya di hadapan Allah kemudian Allah meninggikan derajatnya?
Atau entah perubahan apa yang dia alami sebelum ajal, hingga berhak menerima catatan baik pada tangan kanannya, sementara si manusia suci harus terbelalak menerima catatan di tangan kiri.

Jika malaikat diberi perasaan, tentu menangis setiap mencatat pahit jalan hidup manusia.
Jika Allah memilih kita lah yang Allah letakkan dalam perut ibu mereka, apa mau?

"Bu ayoo bu, foto sama-sama! Ibunya sini doong!"  Sayang kereta siap berangkat.
"Anak punk yang punya hati pink" kata teman saya ...
Memandang dengan mata, fikiran dan hati bersih, pelajaran hari ini...