Sunday, 1 March 2015

Anak Punk Hati Pink



Sabtu siang saya dan sahabat Bloger (Mbak Een Endah)  janjian ketemu di Stasiun Bogor. Mau penuhi undangan Talkshow Parenting di Jakarta. Dari koridor menuju pintu masuk saya lihat Mbak Een sedang mencuru-curi foto anak Punk yang duduk berpencar namun masih 1 lokasi.
Wahh! bagus buat cerita saya fikir, dan langsung ikut Mbak Een ambil foto mereka.
Tapi kereta tidak lama lagi berangkat, dengan terburu-buru saya foto mereka saja tanpa sembunyi-sembunyi. Woow! Reaksinya luar biasa, mereka serentak berkumpul pasang aksi.

Berhadapan langsung dan berdialog sebentar, baru terasa, ternyata mereka sopan, ramah, dan tidak kasar. Sepertinya kegiatan ini untuk membangun kepercayaan diri mereka, ingin ada pengakuan, ingin diperhatikan, asik dengan diri sendiri tanpa mengganggu orang lain.


Dulu sering timbul tanya, apa sih maunya mereka? Apa orang tuanya nggak ngurusi? Madesu (Masa depan suram), manusia nggak jelas. Mustinya ditegur saat anak mulai tindik kuping. Apa nggak liat baju dan celana anaknya sudah mulai berubah dengan atribut aneh?
Saya pakai kaca mata kuda dalam memandang mereka!

Kita tidak tau, mereka datang dari keadaan keluarga yang bagaimana?
Ada 1 gadis yang saya kenal, ia tumbuh liar dalam lingkungan yang jadi bahan cibiran orang.
Kalau Allah tak menunjuki saja jalan tentu saya akan meramaikan cibiran. Mendengar cerita kehidupan dari bibirnya langsung bikin hati jadi terenyuh.

Ibunya wanita"Penghibur"  yang tak pernah tau siapa bapak si gadis ini. Mau pergi malam pulang tengari bolong, tak ada teguran. Tidak digugurkan saja sudah bagus! Begitu kata si ibu.
Sementara sang anak merasa mati bayi lebih baik, dari pada hari-hari merasa minder jika bertemu dengan orang yang berkehidupan normal. Ia katakan terus terang kalau bertemu anak sekolahan  langsung mengkerut harga dirinya. Tapi yang terlebih sakit kalau ketemu orang alim/taat. Serasa neraka ada di depan mata, dan syurga bukan haknya.

Cerita yang membuat saya harus mencemeti hati sendiri, jangan berprasangka buruk. Siapa tau akhir hidup mereka lebih baik? Kembali ke Allah dalam titik terendah saat ia menghinakan dirinya di hadapan Allah kemudian Allah meninggikan derajatnya?
Atau entah perubahan apa yang dia alami sebelum ajal, hingga berhak menerima catatan baik pada tangan kanannya, sementara si manusia suci harus terbelalak menerima catatan di tangan kiri.

Jika malaikat diberi perasaan, tentu menangis setiap mencatat pahit jalan hidup manusia.
Jika Allah memilih kita lah yang Allah letakkan dalam perut ibu mereka, apa mau?

"Bu ayoo bu, foto sama-sama! Ibunya sini doong!"  Sayang kereta siap berangkat.
"Anak punk yang punya hati pink" kata teman saya ...
Memandang dengan mata, fikiran dan hati bersih, pelajaran hari ini...



19 comments:

  1. Ah serasa tertampar saia, saia juga masih memandang dg kacamata sendiri ketika bertemu mereka. Makasih sharingnya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih juga hadirnya Mbak Caenduty... :)

      Delete
  2. Saya pernah ngalamin Mbak. Punya temen seperti mereka, meski bukan anak punk beneran. Dari luar tampak urakan sekali. Tapi begitu kenal baik, saya merasa dia lebih tulus dari mereka yang penampilannya 'baik2 saja'. Dari situ saya belajar, 'don't judge the book by its cover' itu memang benar adanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti Mak Vhoy sudag membuktikan langsung yaa...Rugi banget yg cuma berprasangka yaa..

      Delete
  3. justru yang biasanya kita lihat ngeri,baik hatinya...biasanya seperti itu ya mbak^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mak... ada saudara saya yg bukan anak punk tp penampilannya seremm, ternyata banyak menolong orang.

      Delete
  4. inilah mungkin yang disebut dont judge a book by its cover

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mak, pelajaran banget buat saya...

      Delete
  5. ayee kirain pada ganas ternyata hatinya pink yaa..
    kalau di jogja tambah pink dan ramah tamahh ....

    salam anak pank..
    gkgkkgkg

    ReplyDelete
  6. Betul mak. Alhamdulillah mau penampilan kayak apa aku selalu ketemu orang baik. Mungkin karena akunya juga yg ga berpikiran macam2 sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdullillah...itu rejeki Mak Ardiba, mampu selalu berhusnuzon..

      Delete
  7. Jangan menilai orang hanya dari covernya saja ya mak berarti.. biar mereka kumel dan nyeremin, ternyata baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yaa... apalagi setelah dengar kabar ttg "Begal", pelakunya ternyata berpenampilan menipu.

      Delete
  8. wahhh ternyata anak pank unik yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah penampilan unik itu diiringi ide unik utk berkembang yaa..

      Delete
  9. Terima kasih sudah memberikan pandangan positif tentang kami. Di kota bogor kami juga sering mengadakan kegiatan bakti sosial juga ko bu. Mulai dari food not bombs (bagi makanan gratis) sampai perjal (perpustakaan jalanan) dan lain sebagainya siapa tau bisa menjadi bahan karya tulisan ibu lagi.

    ReplyDelete
  10. Terima kasih sudah menyebarkan hal positif tentang kami melalui tulisan ini. Di kota bogor ini, kami juga ga hanya membuat acara gigs meramaikan sudut jalan kota, kami sering membuat kegiatan bakti sosial maupun protest, mulai dari perjal (prpustakaan jalanan) , food not bomb (berbagi makanan gratis) dan sebagainya. Siapa tau bisa menjadi bahan untuk karya tulisan ibu. Ouh iya lain kali kalau berjumpa lagi , ibu ikut foto yah sama kami . hehehe wassalam

    ReplyDelete
  11. Baik, Mas Arri Reza. Insya Allah jika diberitau waktu acaranya, saya dan Mbak Een yang waktu itu ikut motret, akan hadir dan mempubikasikannya. Terimakasih sudah hadir di sini.

    ReplyDelete