Monday, 9 March 2015

Iri Yang Positif






"Ayo Mbak Mutia, tumbuhkan rasa iri positifnya!"
Begitu kata Mbak Nurhayati, guru menulis saya yang banyak melahirkan cerita anak-anak. Namanya tak asing lagi di lembar halaman majalah Bobo.

Teman-teman saya seangkatan sudah pecah telur semua, tulisannya menembus media. Sementara saya masih senang melihat kegembiraan mereka.
1 lembar tulisan pun belum ada yang terkirim. Kerjanya cuma menabung tulisan dengan rencana 1 kali kirim menyebar kemana-mana, begitu...

Kenapa ya?
Apa karna keinginan saya di awal cuma ingin bisa menulis, menulis, dan menulis? Sampai lupa berharap supaya dikasih kemampuan untuk berani kirim?

Atau karna merasa ruwet  mengirim karya via email dengan macam-macam sarat? Atau karna takut ditolak sebelum mencoba?
Sepertinya saya harus menghajar 'SI TAKUT DAN RAGU" itu. Tak ada yang membedakan saya dengan teman-teman. Kelebihan mereka adalah berani  menghadapi dan melawan 2 halangan itu.

Orang mahir saja bisa menemui kegagalan. Tapi status orang itu "Mencoba". Sederajat lebih tinggi.
Kalau seperti saya ini, mungkin gagal sebelum gagal yaa?  Mau mencoba akh...!




4 comments:

  1. pasti semua orang pernah merasakan arti kegagalan ya mak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mak Dwiex"z, masalahnya berani atau nggak? Bagi yang berani psti menganggpnya wajar dan mau coba lagi. Saya kepingin bisa dehh...:)

      Delete
  2. Iri yang positif ya, sebenarnya orang seringkali sulit membedakan mana iri dan mana inspirasi. Ada yang melihat keberhasilan orang lain sebagai penghinaan untuk dirinya dan ada yang menjadikan itu motivasi, Jika dia bisa maka kita bisa. :)

    ReplyDelete
  3. Saia juga pengen banget bisa nembus media tapi masih belum ada keberanian, agak2 gak pede gtu hehe :D

    ReplyDelete