Saturday, 21 March 2015

Kelamaan LDR (3)


Selagi LDR, biasanya pandai menjaga perasaan masing-masing. Lebih hati-hati berkata dan berusaha menghindari masalah. Soalnya repot kan, kalau salah omong lalu dua-duanya ngambek?  bakal macet deh, komunikasinya. Biasanya yang ngambeknya lama pihak perempuan.
Itu salah satu sisi enaknya ber-LDR.

Saya merasakan manfaat waktu lowong. Beberapa tahun saya bisa belajar  ilmu bahasa, ilmu Quran,  dan mendalami lagi kemampuan merajut.
Silaturrahmi ke orang tua super lancarrr, mau nginep di kost-kostan anak atau di rumah adik-adik, tak ada halangan.
Tapi kalau keluar pulau Jawa saya nggak berani, karna amanat suami, maunya jalan jauh sama-sama.

Masalah biaya sehar-hari, alhamdulillah terlatih untuk hemat, karna tak perlu pakai pembantu, dan karna keadaan saya jadi bisa semua pekerjaan. Dari bersihkan taman, nge-cat rumah, ngerti mesin mobil, sampai jadi guru setir buat ke 3 anak laki-laki saya.
Bangga deh, waktu suami bilang: "Saya terharu, begitu datang anak-anak sudah pintar melakukan apa saja..." Alhamdulillah.

Sisi nggak enaknya?
- Muncul fikiran negatif kalau jadwal rutin skype tiba-tiba mandeg tanpa kabar.

- Pas anak-anak sakit kita sendiri yang pontang panting penuh cemas. Sering suuzon sama keadaan yang akan datang. Bagaimana kalau di antara kami ada yang "Berpulang" tanpa kehadiran suami/bapak?

- Cuma bisa tahan dongkol kalau ada yang manzolimi.

- Di tanyai terus sama kerabat dan tetangga, "Kapan suaminya pulang?" Waktu jadi semakin panjang rasanya, padahal sebelumnya biasa-biasa saja.

- Hati geregetan kalau liat kerusakan rumah, dan kendaraan. Sementara suami tenang-tenang saja menanggapi.


Bagaimana setelah berkumpul?
Insya Allah sebisa mungkin komunikasi dan saling tahan diri tetap di pertahankan. Apalagi sekarang segala masalah  hadir di depan mata, beda cara pandang  bisa bikin panas.

Urusan kerjaan rumah jadi ringan sekarang.  Team bertambah satu orang lagi, nge-cat bisa lebih cepet kelar, suami  lebih teliti memilih mana pekerjaan rumah yang harus didahulukan, ia punya cara baru yang praktis dan hasil lebih baik karna pengalaman dari tempat perantauannya.
Satu yang paling saya senang setelah berkumpul, kami meneruskan kembali kebiasaan lama, sholat berjamaah. Di penghujung kegiatan itu kami saling memaafkan, bersihkan hati, dan menunjukkan kasih sayang dengan tanda sederhana.

Ada juga sih, yang hilang...
Baju daster dingin berwarna pudar yang sering  saya pakai, sekarang terlipat rapih.
Biasanya tidur bisa di depan tivi, sofa, kamar anak-anak, sekarang ada yang bangunin.
"Maa... tidurnya di kamar!" katanya....  *Hehehe :)







4 comments:

  1. hehehehehe.....saya masih pake daster,baju terenak sedunia,ademmm^^

    ReplyDelete
  2. geli sama komentar mba HM Zwan, iyaa, daster mah baju paling nyaman sedunia ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi... bener Mbak Nefertite, apalagi yang ada lobang anginnya! :)

      Delete