Saturday, 4 April 2015

Korupsi Karna Takut




Di Daerah Pondok Rajek saya bertemu dengan satu sahabat Majelis Ta'lim yang sudah 6 tahun lebih tak pernah bertemu. Dulu sewaktu saya aktif, beberapa kali  menumpang mobil dan berkunjung ke rumahnya yang selalu terpilih  untuk tempat pertemuan. Rumah asri, perlengkapan dapur yang modern, taman dalam rumah, segala sesuatu ditata persis gambar-gambar majalah  interior, toples-toples cantik  cemilan terpajang di beberapa sudut ruang. Akh! Pokoknya  idaman ibu-ibu banget deh!

Kalau ada kesempatan, tentu saya akan menghindar berpapasan dengan beliau. Sebab begitu melihat saya langsung air mukanya berubah.  Ia hendak menjenguk suaminya di Lapas Korupsi - Cibinong.
Sambil menahan malu dan setengah menangis, ia cerita sudah lama menghindar dari teman-teman dan lebih suka berdiam diri di rumah. Kecewa, malu, dan sedih terus setiap hari.

Saya harus  bilang apa? Bilang sabar dan kuat, pasti sudah basi! Mau bilang ambil hikmahnya saja, pasti dia yang lebih tau hikmah besar dan kecilnya. Mau bilang, "Kita ini siapa?... Nabi Yusuf juga pernah masuk bui" Rasanya kok ngeguruin banget.

Begitu ya, permainan dunia! Mata siapa pun akan silau memandang kecantikannya yang menipu.
Harum manisnya tercium semut dari mana saja arah datangnya.
Ini baru penjara dunia, lebih berat lagi penjara akhirat nanti. Semoga penghuni Lapas bisa merenung didalamnya, keluar dengan taubat yang sebenar-benarnya taubat, kemudian mengembalikan Hakunnas (Hak orang).
Jika ada yang masuk karna fitnah atau terseret, semoga menghapuksan dosa-dosa yang tak pernah diketahuinya.

Saya suka mikir gini, kenapa manusia tak dapat menahan diri dari korupsi? Penyebabnya sederhana di awal, yaitu TAKUT! Manusia diuji dengan rasa takut! Takut miskin, takut lapar, takut sakit, takut  tua, takut mati!
Istri yang hati-hati pasti tak gentar menanyakan dari mana asal uang suaminya? Pertanyaan aneh dan tak semua wanita mampu mengatakannya. Selain itu ia berani mengingatkan keluarganya untuk BERANI hidup dan bebas dari segala rasa TAKUT.




2 comments: