Friday, 24 April 2015

Tangis Nenek Asyani



Waktu mampir ke tv lokal, kelihatan wajah duka Nenek Asyani . Tangisnya sudah seperti anak kecil yang memohon dibelikan sesuatu yang jadi idamannya. Dampak dari tuduhan mencuri kayu bagi si renta dhuafa ini tentu sangat melukai perasaannya dan  pemirsa.

Memang keadilan harus ditegakkan, namun untuk kasus pencurian kecil begini apa adil? Apa jadwalnya harus digabung dengan jadwal korupsi besar yang menyeret banyak orang hingga berlarut-larut?
Ingin berbuat adil namun menabrak keadilan. Ingin menunjukkan bahwa hukum di negeri ini tengah di tegakkan, tapi yang terjadi malah "Kepincangan". Kok hukum jadi buat show off?

Jika belajar dari negeri yang sudah tertata baik hukum/pengadilannya, hukum kita sebetulnya ketinggalan jauh. Di USA ada pembagian antara kasus kecil dengan kasus besar. Tipiring ( Tindak Pidana Ringan) tak akan disatukan dengan Tindak Pidana Kakap. Ada kebijakan pemerintah mempercepat putusan khusus agar tak menumpuk masalah hukum negeri dan bertumpuk pula manusia dalam bui.

Menuruti fikiran sederhana, seandainya tuduhan betul, untuk apa si Nenek di bui? cuma penuh-penuhin rutan saja ... ganti uang kayu  saja buat pemilik kaya itu!

Hukum kita masih berinduk pada hukum Belanda usang, yang mungkin sebagian tak diapakai lagi di negeri asal.
Ini sih, dalam khayal saja... Saya kumpulkan pakar-pakar hukum untuk menyederhanakan kasus kecil. Ibarat antrian di Bank, ada jalur terpisah antara antrian penyetor uang di atas 10 juta dan di bawah 10 juta. Jadi lancar kan? Petugas dan nasabah sama-sama enak.

Pakar-pakar itu harus memikirkan bagaimana jika diadakan Pengadilan Kecil Tingkat Kelurahan, sekaligus perangkatnya. Supaya cepat kelar bebas pungli, tanpa telan waktu dan biaya sidang untuk kasus-kasus kecil

Hehe... Bagaimana, setuju?

4 comments:

  1. Kadang ada ketidakadilan ya mbak, kasihan nenek Asyani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, Indonesia masih hrs banyak belajar

      Delete
  2. Menurutku ini cuma kasus rekaan untuk alihkan isu atau sekedar ada kerjaan saja. Perlu kah sebatang kayu mendapat perhatian begitu banyak media sementara korupsi miliaran masih dibawah radar :S

    ReplyDelete
  3. Hehehe...masih aja ya, pakek cara begitu! kita kayak dibegoin

    ReplyDelete