Tuesday, 28 July 2015

Pulkam Ke Ambon Manise...

Baru lihat lagi negeri ini sejak tahun 70-an, tentu punya rasa khusus...


Jalan Sura Madu-Tulehu


Bayangan saya tentang kampung halaman, panas ... kering ... bau amis disepanjang pantai dengan rumah gubug beratap  rumbia.Seperti yang saya lihat di pesisir Pulau Jawa. Rumah nelayan dengan jemuran ikan kering di halaman. 

Tulehu-Maluku Tengah kampung saya sama sekali jauh dari bayangan. Di pesisir Mamokeng  dekat pasar ikan, hanya ada 4 rumah rumah sederhana. Yang lainnya seperti penduduk biasa yang kerjanya kantoran.  Tinggal di  keramaian pinggir jalan raya. Rumahnya tergolong bagus dan bersih meski modelnya jadul.

Saya datang pas di waktu musim hujan. Siang udaranya sejuk, tapi malam hari...brrr!! dinginnya seperti daerah puncak di Bogor. Bikin enggan turun dari tempat tidur.

Rejeki besar! sebab waktu 2 adik saya datang sebelumnya  saat musim panas. Siang hari ibu ibu dan nenek nenek yang ditemui di jalan memakai bedak dingin. Adik saya berseloroh ... "Duuuh...matahari serasa ada tiga!!"


Biar rumah kecil, di Tulehu harus punya parabola


Saya paling senang sampai ke tempat baru pada malam hari, esok paginya bisa dapat kejutan banyak disekeliling.  Ternyata  teras kamar uwak saya  menghadap  laut warna biru lembut, dan pepohonan kelapa.

Rumah tetangga hanya beberapa beratap rumbia, yang lain kebanyakan atap seng. 
Sunyi, shalawat tahrim, dan azan yang berkumandang dari mesjid mesjid sudah usai. Berganti dengan suara anak anak  berbahasa Ambon bersahutan dengan ibu mereka, di balik dinding.  *Ah, inikah suasana keseharian Ibu Bapak saya selagi mereka kecil dulu?...

Penjual makanan sarapan sudah siap melayani, tak jauh dari pohon mangga terbesar yang pernah saya lihat, tinggi menjulang dengan hasil mangga bulat dan manis kata orang kampung.
Sapi-sapi lepas begitu saja merumput. Kadang lewat 3 atau 4 sapi sekaligus. entah siapa pemiliknya? 
Kalau di Jakarta ada yang begini, pasti cepat lenyap!

Jalanan dan rumput masih basah waktu kami ke Air Walatu, tempat pemandian warga. Melewati makam keramat keluarga tiap marga/fam, dan rumah asri kerabat saya.







Tak sabar rasanya kepingin cepat lihat  Morea yang dibilang orang belut raksasa. Kami bawa kantong isi potongan ikan mentah mentah bersama darahnya untuk memancing Morea keluar dari persembunyian.

More bukan ikan biasa, bentuknya seperti ikan Lele besaar panjang, dan  buas mendengus saat  melahap ikan mentah. Jari anak saya yang sedikit terkena darah ikan digigitnya. Sulit menggendong tubuhnya yang berat dan licin meski cuma sebentar buat di foto. 
Beberapa ikan mas putih, dan kuning besaaar ikut  keluar juga,  Masyarakat Ambon umumnya tak suka makan ikan air tawar.

Walatu dijadikan kolam besar, alurnya mengecil . Ujungnya jadi sungai biasa tempat ibu-ibu mandi setelah mencuci pakaian, ramai nikmati air bersih menghijau. Agak ngilu lihat mereka santai pakek shampoo dan sabun detergent! Akhhh...

Saya berani bertaruh, wisatawan atau artis  mana pun akan merasa nyaman datang ke sini.
Menurut kerabat saya, orang Tulehu bersikap datar. Memperlakukan tamu biasa-biasa saja. Jeriko aktor yang pernah shooting film tentang sepak bola disini atau  bintang sepak bola asing Diego, pacar artis Nikita Willy cuma dapat lambaian  tangan sekilas. Tak ada yang berebut minta foto/selfi, apalagi sampai mencubit!

Ke Walatu baiknya pagi, selain airnya sejuk, suasana masih sepi. Siapkan uang 10 ribu atau 15 ribu, untuk orang yang memancing Morea keluar. Kalau tak siap, lebih baik dan lebih asik  lakukan sendiri, caranya gampang kok!







Siang hari, walatu dipakai untuk mencuci






















18 comments:

  1. uwaaaa pulkam ini ceritanya,kangeeennnn hehehe...
    itu morea pernha lihat an diliput di tv,geli rasanya lihat ikan sebesar itu hehehe..
    mbak,minal aidzin wal faidzin,mohon maaf lahir dan batin ya^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Taqabbal minna wa minkum...mohon maaf lahir bathin juga ya Mak Zwan. Hehehe ... memang iyaa, persis liat ikan lele raksasa. Nggak ngebayangin kalau dia digoreng!

      Delete
  2. waah suasananya spt itu ya mak. belum pernah ke ambon euy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga suatu saat bisa ke sana ya Mbak Riana...:)

      Delete
  3. Replies
    1. Ya Mbak, makanya rada takut kepatil, hehe :)

      Delete
  4. Wah, belutnya besar banget, Mba.

    Bosan aku dengan hiruk pikuk kota jakarta. Senang yaa, pasti seru banget di kampung halaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sammmaa... Makanya saya minggir ke Bogor.Tapi serunya kampung halaman enak buat jalan jalan aja sih, karna fasilitas untuk pengembangan diri masih kurang.

      Delete
  5. waah ..., orang Tulehu coool banget
    nggak mempan sama artis ya

    pernah nonton tentang ikan morea..., suka deh lihat mata airnya segar banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mak Mondaa yang seneng jalan-jalan, selin segar, mata air di sini berlimpah, penduduk sedikit. Alhamdulillah nggak ngarasain musim kering.

      Delete
  6. Saya juga senang tiba di satu tempat saat malam. Bagai dapat kejutan begitu pagi tiba, apalagi kalo berupa pantai dengan air biru sepanjang jalan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip! liburan jadi berkesan sejak hari pertama yaa... Thanks hadirnya Mbak Hidayah :)

      Delete
  7. wah, ikannya besar banget... oh kampung halamannya di sana???/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asal saya Maluku,mak ... tapi lihat kampung sudah usia tuwir begini! hehe :)

      Delete
  8. wah keren pada punya parabola ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau nggak mau, Mak .... tanpa itu nggak kelihatan gambar tv nya, hehe :)

      Delete
  9. di kampung halaman sendiri lebih tenang ya

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah ... istirahat sejenak dari keruwetan, kebisingan, dan kemacetan :)

    ReplyDelete