Sunday, 5 July 2015

Yang Harum Di Bantar Gebang


Dok : Pribadi

Kalau disebut nama Bantar Gebang, yang tergambar adalah gundukan sampah di area luas, Bau tak sedap, lalu di sekelilingnya rumah-rumah pemulung .

Ternyata bukan gundukan! Tapi bukit-bukit, hingga truk-truk dan alat berat pengumpul sampah terlihat kecil seperti mainan. Bagaimana tidak? Penduduk Jakarta membuang sampah sebanyak  6000 ton perhari.
Bukit bukit itu terselimuti debu dan terik hingga berwarna abu-abu. Sapaan angin yang berbau busuk menyambut kedatangan kami.




Tak banyak yang tau, dibalik tembok pembatas sampah itu ada yang beraroma harum, dan indah dipandang mata Allah, sebuah pesantren mungil setengah jadi, di dalamnya  menggema asma Allah dari bibir-bibir para santri  berwaajah bening.

Bangunan pesantren berawal dari 2 ruang rumah petak milik Bapak Ustad Abdul Azis seorang tukang Ojek. Tahun 80-an dengan modal Rp 600.000 ,- hasil tabungannya, ia berusaha mewujudkan cita-citanya membangun sebuah tempat mengaji, demi membenahi akhlaq remaja-remaja sekitar yang jauh dari ilmu agama.

"Mereka hanya nongkrong-nongkrong buang waktu. Jangankan baca Quran, mengucap syahadat pun ada yang tak mampu" begitu cerita pak Abdul Azis   yang banyak berkorban materi dan perasaan demi menghijrahkan saudara seiman dari kegelapan ilmu menuju cahaya. Tak setitik pun ia punya niat pindah dari lokasi tak sehat itu, meski ke 2 putranya menderita flek paru-paru. Dan sulit mencari air minum yang layak karna semua tercemar air resapan sampah.




Allah maha berkehendak, Hak preogratif Allah untuk memilih siapa hambaNya yang akan meneruskan cita-cita para Rasul. Tak harus dari hamba yang berpendidikan tinggi dan bermodal besar, sebab Dialah yang maha kaya dan mencukupi. Asal hati hamba tergerak untuk berbuat, maka segalanya dimudahkan, dicukupi, disempurnakan  lewat perjuangan yang manis.

Kini yayasan itu berdiri paling megah di antara bangunan lain. Sebuah kantor swasta yang karyawannya aktif di Kerohanian jeli mata dan bergerak cepat. Bapak Muhammad Syahrial SE rutin datangi tempat ini dengan membawa banyak amanah. Memenuhi kebutuhan fisik bangunan hingga bingkisan yang dinikmati keluarga dhuafa. Hingga beliau dijadikan penasehat yayasan .

Perjalanan masih panjang. Pemerintah hanya menginginkan mereka meninggalkan lokasi yang menurut mereka tak layak dan tak sehat, tanpa memberikan area lain sebagai pengganti. Cuma hati yang terketuk hidayah saja yang bersedia berjuang bersama penduduk dhuafa ini.

100 lebih santri sudah menikmati ilmu, pak Abdul Azis kini sudah mampu memberi beasiswa untuk santrinya meneruskan pendidikan ke Pesantren yang lebih lengkap sarana dan lebih banyak materi pelajarannya. Santri pria sudah punya kelas-kelas tersendiri yang sudah 90%  rampung. Semoga dana banyak menyusul untuk penampungan santri perempuan, dan memperluas area Majelis Ta'lim  At-Taubah,  yang tak tertampung saat kajian rutin.




Semangat pengurus dan santri patut diacungi jempol. Genderang rebana yang mereka tabuh saat menyambut kedatangan kami membuat semangat kami semakin subur, untuk berbuat lebih banyak lagi di masyarakat. Lalu di ujung acara, mereka membuat kami utusan dari Kantor Gobel dan alumni RISKA tertunduk menangis, "Ya Rahmaan... ya Rahiim" lantunan penuh kerendahan hati saat memanggil Allah dengan segala sifatNya yang terpuji, Subhanallah!

Terimakasih tak putus dari mereka saat pembagian bingkisan Quran, buku Iqra, Tajwid, Beras, Makanan, dan uang santunan. Secara manusiawi kami sambut rasa takzim mereka, tapi dalam hati terdalam kami justru bersyukur dan lebih pantas mengucapkan terimakasih.

Allah memang menguji mereka dengan kesusahan namun mereka adalah jalan buat kita beribadah. Memberi kesempatan untuk beramal sebagai jejak kebaikan di bumi dan peninggi derajat kita kelak di akhirat, insya Allah...
Mereka adalah emas. Bukankah di penghujung zaman kaum fakir lebih suka darah kita dari pada zakat kita?
Semoga pesan akhir kami sebelum meninggalkan lokasi jadi pengingat dan penguat mereka. 

"Jangan takut dan jangan putus harapan dari pertolongan Allah, semangat terus dalam menimba ilmu, kami juga semangat untuk membantu. Doakan ... Semoga Allah memberi  kami rizki dan kemudahan agar lebih banyak lagi berbuat "







Dok: Demotix

15 comments:

  1. Subhanalllah benar2 wangi surga ya mba muthia..semoga santri tetap semangazt belajar di tengah keterbatasan doaku buat mereka....

    ReplyDelete
  2. alhamdulilah ya mak masih ada tempat seindah dan sesejuk ini di balik bantar gebang yang bau sampah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa mbak Turiscantik, mungkin banyak lagi di tempat yg mengejuutkan seperti ini di tempat lain.

      Delete
  3. Subhanallah, mulia sekali cita-cita Pak Abdul Azis sampai berkorban seperti itu.
    Semoga dibalas berlipat oleh Allah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin Allahumma amiiin. Terimakasih doanya mak Pipit...:)

      Delete
  4. dari tempatku gak terlalu jauh nih bun , kadang2 tercium sampai rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oo gt? Ternyata meski sering kebagian aromanya bukan berarti jadi kebal yaa..

      Delete
  5. Masya Allah, inspiratif sekali apa yg dilakukan Ustadz Adbul Aziz. Semoga beliau selalu mendapat keberkahan dan ramhat dari Allah SWT. Pastinya belajar banyak dari Ustadz satu ini ya Mak Mutia ^_^. Trimakasih sdh berbagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin ya Rabb... Trmks doanya yaa, Semoga kita bisa berbuat hal besar dari modal kecil yaa..

      Delete
  6. Baca postingan ini, bikin terharu.
    Iba melihat kondisi saudara-saudara kita ditempat ini, dan mengunjungi tempat-tempat seperti ini, akan melembutkan hati kita ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat Mbak... jika kesabaran hidup dan rasa syukur mengecil, datang saja ke tempat begini.

      Delete
  7. baru tahu nich dalam-dalamnya bantar gebang

    ReplyDelete
  8. Trimakasih hadirnya,Mbak Astin :)

    ReplyDelete