Monday, 10 August 2015

Ke Pasar Pinggir Laut...



Kalau berdiri di jembatan pasar Mardika ada pemandangan kontras. Sisi kanan tempat orang sibuk belanja, antrian angkot nge-tem, becak becak antri, sementara sisi krinya  laut lepas! Penghalangnya cuma tembok rendah sepinggang. Kalau dinding belakang kios  renggang, kelihatan jelas langit dan biru laut mengapit  kapal lalu lalang.

Wuih! Bisanya kalau kepasar tradisionil tdk betah berlama-lama. Tapi di sini luas laut bikin luas hati. Lorong lorong kios bersih. Bukit sampah pasar tidak kelihatan. Jalan setapak mendekati pinggirann laut, di sana perahu dan kapal kecil bersandar tenang. Konon dahulu batas pasar tak ada, langsung saja pasir putih.

Manusia sibuk meyeberang dari dan ke pulau seberang. Burung pantai terbang bebas melebarkan sayap lebar gemulainya di ujung tiang tiang kapal.

Begitu baiknya Allah yang menumbuhkan rejeki  di laut, darat, udara untuk kenikmatan manusia. Laut tunduk tak bergejolak, Daratan dibuat datar agar manusia mudah mencari rejekinya masing-masing.

Mudah bagi Allah bukan? Bila tiba-tiba tsunami menghapus semua dalam sekedip mata. Kerutinan hendaknya tak menutup mata dari hiburan Allah di sekeliling.



Sebelum meninggalkan Maluku pelancong belanja disini. Makanan tradisional harga agak murah, banyak pilihan . Letaknya tak jauh dari Ambon Plaza (Amplas). Sedia Bagea, Kue Curut, Sagu Tumbuk, Sagu Lempeng. Ikan Asar (Panggang Kering),abon dll. Makanan buatan berbagai kampung terpusat di sini. Pasar Kabupaten yang dikenal dengan Tuplas (Tuleu Plasa) hanya menyediakan Sagu Manta (Mentah), kue sarapan atau makanan matang saja.




Orang bilang, kalau mau tau banyak akan penduduk setempat, kunjungi pasarnya. Benar! dari ragam makanan,kebiasaan, sikap, sampai penataan dagangannya berciri khas.

Ada Lemon Cina tersusun rapih siap bungkus tanpa menimbang. Lemon yang dirindukan perantauan Maluku di kota besar. Jeruk harum pemberi rasa dan aroma segar pada celupan ikan  bakar (Colo-colo), hmmm....:)

Di Jakarta jarang yang mau tanam.Saya menanam tapi bertahun pendek terus,bagaimana mau berbuah?




Tapi untuk oleh-oleh kebanyakan orang pesan / senang dibelikan Minyak Kayu Putih. Tersedia banyak merk di pertokoan pusat kota. Naik angkot LINK 3 dari teriminal pasar. Bilang ke sopir angkot, turun di dekat Monumen Gong Perdamaian atau  mesjid Al Fatah. Atau mau ke penyulingannya langsung? Disana kita bisa dapat bibit minyak yang "Seng Ada Lawang " itu! Kalau saja tak ada undangan makan siang dari sepupu, tentu saya bisa penuhi penasaran saya mengambil gambar proses pembuatannya.


Toko Hidayah, pelayanannya bagus, dan lumayan murah.


Suasana Pusat Kota (Mesjid Al Fatah)

Tahap Penyelesaian Tol Laut, Jembatan Merah Putih


16 comments:

  1. wah banyak oleh-olehnya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe... di fotonya aja yang banyak, mbak...:)

      Delete
  2. belanja sambil cuci mata dengan pemandangan laut yang indah.. seruuu ya.., jadi betah kayaknya lama2 di pasar

    ReplyDelete
  3. waahhh...dr dulu pgn bgttt k ambon :)... Makanannya, rujaknya, lautnya, cantik2 bgt ya mba... dan org2nya juga... mukanya itu manis ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah terwujud ya, Mbak fanny :)

      Delete
  4. Kabita jeung Bagea nya, Makkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aiiih... nggak nyangka, mbak kenal juga sama si Bagea! :)

      Delete
  5. wiiihhh...gambar sampan dan masjidnya keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang unik bentuk sampannya, buat yang belanja banyak supaya barang nggak kena hujan.

      Delete
  6. Wah, itu tomat dan cabai disusun rapi gitu, kreatif ya mak jualannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi... kreatif, atau males nimbang ya? Tapi jadi menarik liat warnanya..:)

      Delete
  7. Wah, di Ambon ada Amplas. Kirain cuma di Jogja aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooo...namanya sama ya,Mbak Mimi? Terimakasih sudah mau hadir :)

      Delete
  8. kalo urusan belanja, emak-emak kemanapun dijabanin hehehehe

    ReplyDelete
  9. Hahaha...Mas Cahyanto sungguh sangat mengerti ...:)

    ReplyDelete