Wednesday, 26 August 2015

Membuat Ikan Asar (Resep Maluku)



Salah satu makanan yang dirindukan orang Ambon di perantauan adalah Ikan Asar.
Semacam ikan kembung yang  dibelah lebar, di bakar, lalu dikeringkan. Saking keringnya, makanan ini bisa bertahan lama. Dimakan dengan sagu lempeng keras yang juga awet hingga bulanan,
Dua makanan yang praktis dibawa, cepat bikin kenyang, lama lapar, cocok untuk perjalanan jauh.

Mbela-belain deh, ikan murah ini saya bawa naik pesawat. Demi menyenangkan perut sodara-sodara yang lama membayangkan.
Alhamdulillah, kok pas saya datang lagi musim ikan. Di pasar-pasar terjual murah.  25 ekor cuma 10 ribu rupiah saja! Berderet ibu-ibu menawarkan pada tiap angkot yang lewat. Segar manis, tak sempat masuk freezer.

Selain itu pas juga bermalam di rumah tante yang baik, senang jalan, dan bikin kejutan dengan menu khas Tulehu. Siapa yang nggak senang?

Persiapan 

Setelah dicuci ikan dibelah rapih memanjang dari arah kepala bagian atas, punggung, sampai ekor.
Jangan sampai salah memotong dari arah leher, sebab saat di lebarkan nanti akan sulit bahkan bisa pecah. Belah perlahan dengan hati-hati jangan sampai tembus ke arah lain misalnya dinding perut.

Selesai itu, buka pelan, buang isi perut, lebarkan, lalu cuci dan kumpulkan.




B a h a n

               - Air putih matang dalam 1/2 rantang (Baskom kecil)
               - Beri garam 2 sendok makan
               - Cuka asli  2 sendok
               - Giling 3 atau 4 cabe rawit merah lalu campur aduk.




Cara Membuatnya :

Satu persatu ikan di lumuri air bumbu. Bisa juga dicelup sebentar lalu angkat. Setelah semua ikan terbalut bumbu, Jemur dulu agar bumbu meresap. Lamanya bisa setengah hari, tergantung cuaca panas.




Kemudian setelah ikan setengah kering, siapkan alat pembakaran. Orang disini terbiasa membakar dengan menggunakan pecahan batok kelapa yang mudah didapat.

Susun ikan setelah bara memanas.Jika sudah kering kecoklatan ikan dibalik hati-hati, terutama bagian leher yang suka lengket.
Saya mencobanya membalik menggunakan sudit untuk menggoreng ternyata bikin hancur. Sudit kayu lebih aman.
Supaya panas terpusat, bisa menutupnya dengan daun pisang.



















Letakkan hasil panggangan dengan rapih di atas tampah, lalu jemur hingga kering.
Jika sudah selesai  baiknya disimpan pada udara terbuka, khawatir lembab lalu berjamur.

Ikan ini bisa dimakan begitu saja dengan sagu lempeng dan  irisan kelapa.
Atau di celup ke colo-colo tanpa kecap yang segar pedes asem. Karna bersatunya cabe, bawang merah  dan tomat yang diperasi lemon cina.





Tapi keluarga kami lebih  suka bila ikan di pecah-pecah, lalu di tumis  dengan bumbu-bumbu

- Cabe merah
- Bawang Merah
- Bawang putih
- Kecap manis...

Waktu main ke rumah tetangga, ternyata dia pun sedang membuat Ikan Asar di tanah lapang belakang rumahnya.

Wahhh... asik liat dia santai kipasin panggangan, berasa banget di kampungnya dehh...





12 comments:

  1. hmmm harum ikan bakarnya sampai tercium kesini loh mbak :) aku baru tahu ada ikan namanya ikan asar mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...bisa aja,Mbak Lidya ... Oh ya, asar artinya "Panggang". Nama ikannya saya sendiri belum tau. :)

      Delete
  2. hmm, enak ya kayaknya, sayang disini nggak ada jualnya.... ragam kuliner indoneia memang top...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karna repot bikinnya ya, dan belum dikenal umum, jd masih ada di rumahan saja...

      Delete
  3. kelihatannya enak sekali nih kalo udah masak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mbak Dwi, apalagi ikannya segar dan dominan rasa celupannya itu.

      Delete
  4. Colo colo itu mirip dabu dabu nggak sih Mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak Heni, mirip sedikit, bedanya kalau sambal Dabu-dabu ada tambahan garam dan minyak sayur/olive oil.

      Delete
  5. Replies
    1. Hehehe... hayuuu di coba, Mbak Sari :)

      Delete
  6. Maknyuss! Di kampung memang selalu menyenangkan yaa <3 <3 *rindukampung

    ReplyDelete
  7. Begitulah Mbak Aira, menikmati kasih sayang dari saudara-saudara dan keramahan alam. :)

    ReplyDelete