Monday, 28 September 2015

Kenapa Sulit Memaafkan Diri Sendiri?


Saya berdiri di halte menunggu Bis, tiba-tiba seorang bapak pengendara motor berhenti dengan jarak dekat. Sambil terburu-buru  membuka helm, dia tanya jalan menuju Ciawi puncak. Karna kaget dan tidak siap,  saya beri arahan dengan cepat.

Begitu dia pergi beberapa meter,  baru sadar! Saya berdiri di halte yang tak biasa.
Harusnya saya beritau belok kiri, tapi kenapa terucap "Ke kanan?"

Mau dipanggil motor sudah melaju  kencang menuju Cibinong, berlawanan arah dengan yang ia hendak tuju. waddduuhh!!
Sepanjang perjalanan hati saya tak tenang, menyesal terus, membayangkan bapak itu menggerutu kecewa .

Saya doa berulang-ulang, semoga ia lihat tulisan angkot di dekatnya, lalu dapat petunjuk lagi dari orang lain.

Merasa bersalah kadang lama melekat di ingatan, sampai sampai sulit memaafkan diri sendiri.
Dulu saya juga pernah membentak anak saya yang masih kecil. Kejadiannya cuma sekali, tapi gaung penyesalannya ratusan kali. Apalagi setelah membaca buku-buku parenting.

Banyak  penyesalan yang pernah kita alami, namun menyalahkan diri sendiri akan membuat energy positif kita terkuras! Maka untuk mengembalikannya berusahalah berfikir positif.
Yakin bahwa pengendara motor tadi akan bertemu dengan orang yang tepat, yakin bahwa kesalahan dalam membimbing anak lantaran kita belum tau ilmunya. Mendoakan mereka sama dengan menyerap kembali energy energy baru yang positif.

Jika masih sulit melupakan, saya berfikir..
Kok, sesal  pada sesama  hamba  sampe segitu lamanya? Sementara kesalahan pada  Allah, cuma sekejap , itu juga kalau lagi eling!"

... Sekecil apa pun kesalahan pasti berhikmah
... Segeralah menutupi kesalahan dengan berbuat kebaikan
... Sesekali perlu salah, agar lapang dada menerima kesalahan orang lain
(Hehe, asal jangan terus-terusan salahnya yaa...:)







6 comments:

  1. wah, renungan di pagi hari nih. tapi iya ya, memaafkan diri sendiri itu terkadang susah dijalani, gak sadar aja gitu kalau ternyata kita belum bisa memaafkan diri sendiri. thanks renungannya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks juga Mak Istiana ... sedikit-sedikit mungkin kita mencoba.

      Delete
  2. Apabila bersalah, lalu merasa bersalah, menurut saya, inilah tanda hidupnya hati. Tinggal selanjutnya bagaimana mengelola hati yang merasa bersalah gitu menuju langkah-langkah yang positif. Dan, postingan di atas sangat jempol menurut saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kunjungan dan komentnya Mas Akhmad, salam kenal...

      Delete
  3. pelajaran buat saya juga nih mbak, untuk bisa memaafkan diri sendiri

    ReplyDelete
  4. Hehe, sama sama belajar ya, Mbak cantik ..

    ReplyDelete