Thursday, 24 September 2015

Sedekah Kecil, Hasilnyaa...???



Seorang teman datang menyerahkan sedekahnya.

"Tolong titip ya ... saya  cuma punya sedikit ,nih!"

Lalu saya bilang,

"Nggak apa-apa! Kan yang sampai ke Allah keihlasannya, bukan jumlah"

Setelah ia pergi, saya pun putar akal supaya bisa manfaat .  Akan digabung dengan dana kas  iuran SPP anak binaan? Atau langsung diberikan kepada dhuafa  pertama yang saya temui? Tapi kalau hanya ke makanan rasanya kok pendek manfaat...

Selang 1 atau 2 hari,  datanglah Bu Endang penjual rempeyek, beliau  janda tua dhuafa.
Seperti biasa, kalau ketemu beliau suka curhat.

Anehnya hari itu dia bukan curhat tentang rempeyeknya yang suka dihutangi, tapi  tentang kesedihannya karna sudah lama tak baca quran. Kacamata tuanya pecah dan belum sanggup membeli lagi.

Waahh!! Alhamdulillah, sepertinya itu  jawaban buat saya.

Bu Endang  berpakaian rapih dan harum meski cuma ke Mall yang jaraknya tak jauh.
Di jalan masuk mall, ada gang kecil tempat kios kios sederhana menjual segala. Salah satunya toko kacamata langganan saya. Dengan senyum merekah ia coba satu persatu kacamata baca (Plus). Setelah dapat yang cocok, saya lihat bu Endang memasukkannya  hati hati kedalam tas.

Entah sebulan atau 2 bulan setelah itu, saya  berpapasan dengan bu Endang di jalan. Senang lihat dia cerita gembira, bisa ngaji dirumah dan dapat berkumpul lagi dengan teman  pengajian di Majelis. Quran tak lagi tersimpan diam.




Antri periksa...


Sahabat saya tak pernah tau, bagaimana senyum bu Endang saat mencoba kacamata, dan betapa panjang manfaat sedekah kecilnya.

Ide kacamata berkat izin dari Allah jua. Saya tak pernah menyangka akhirnya jadi proyek amal yang besar. Sumbangan jutaan saya terima dari sahabat-sahabat aktifis masjid Sunda Kelapa-Jakarta untuk membeli kacamata.
Teras rumah saya  jadi seperti ruang optik saat ramadhan kemarin. Dan sekarang saya masih menyebarkannya.
Lumayan ... jadi tambah saudara, dan kesempatan buat saling mengingatkan...

"Nahh, setelah ada kacamata, yang rajin ngajinya ya Bu...Pak..." :)

Hari ini suprise! Karna salah satu dari mereka adalah tukang bubur yang ternyata lulusan pesantren!







9 comments:

  1. Replies
    1. Hehe...samma...apalagi yang renyah dan harum daun jeruk, hmmm...:)

      Delete
  2. Ya Allah, ceritanya sangat inspirasi ya. Baru sadar, jangan hitung nilai nominal tapii. keikhlasannya

    ReplyDelete
  3. Keihlasan itu hebat ya mbak, akhirnya dibantu Allah untuk menemukan idenya.

    ReplyDelete
  4. Terharu, sepertinya kecil, sederhana, kaca mata.
    Tetapi manfaatnya sangat terasa sekali
    Nice posting

    ReplyDelete
  5. Subhanallah...semoga berkah ya mbak...Hanya Allah yang membalas kebaikan mbak dan teman-temannya.

    ReplyDelete
  6. wah,,, idenya sederhana.. tapi memiliki dampak bagi lingkungan sekitar,,, salut buat ibu muthia

    ReplyDelete
  7. Betul mak, yang terpenting adalah niat baik dan keikhlasan kita, bukan berapa jumlahnya :)

    ReplyDelete