Friday, 18 December 2015

Thursday, 17 December 2015

Ada Di Hening

Tadinya saya ingin menulis tips sukses bisnis kuliner, oleh oleh nasehat dari ownernya Resto Dapur Solo, tapi suasana hati saya 2 hari ini membujuk saya menulis lain.

Katanya kalau menulis spontan itu lebih terasa, maka saya coba mengurai seperti apa suasana hati yang saya alami.

Kalau di gambarkan, suasana hati saya seperti ketenangan jagat dilihat dari garis tak berujung yang menembus kutub utara dan selatan. Ada sinar matahari tapi cahayanya tak mengandung radiasi. Trilyunan Meteor yang biasanya terlempar ke berbagai planet bima sakti seakan terhenti.

Bumi nampak sunyi, teduh, tenang. Ia bagian dari serakan permata di atas beludru hitam, ukurannya lebih besar sedikit. Tak ada darah, air mata, amarah, serakah. Batas negara pun tak ada, kecuali benua dan air.

Semuanya keindahan semata...


*Menundukkan diri sendiri, adalah kebebasan dan keindahan


Tuesday, 15 December 2015

Bentuk Syukur Ny.Swan Dapur Solo 1988




Meski keluarga saya bukan berasal dari daerah Solo, tapi makanan khas Solo sudah tak asing lagi di telinga dan lidah, karna ada kerabat kami yang menetap disana. Setiap datang tak lupa membawa oleh oleh makanan awet seperti Serundeng dan Bumbu Pecel siap pakai. Ada pun menu makanan berat cuma dengar ceritanya saja.

Maka waktu terima undangan dari Resto Ny.Swan Dapur Solo yang mengadakan  Gelar Cita Rasa Solo 2015 ...  Jangan tanya bagaimana perasaan saya. Berbungah luar biasa bercampur penasaran. Saya ingin lihat langsung seperti apa wujud  dan rasa  Tengkleng Kambing, Garang Asem,Brambang Asem dan teman-temannya?

Lumayan lama perjalanan dari Bogor ke Sunter. Dari  daerah bergunung ke ujung Jakarta tepian laut.
Tapi letih kami terbayar tunai begitu menelusuri jalan Sunter Utara no 7. Kiri kanan jalan berkibar umbul umbul  bertuliskan  Festival Kuliner & Kebudayaan Trasional Tematik.
Tak disangka, acara ini ternyata sudah ke 3 kalinya dan menyediakan menu daerah lain juga, lho!

Mas Candy Christiawan selaku Marketing sudah berdiri di gapura meski acara belum dibuka.  Suasana ramah  langsung terasa.
 "Kami memang  ingin membuat pelanggan merasa Hommy, Cozy, dan Comfort" Demikian kata Mas Candy dengan ramah.

Mumpung belum dipadati pengunjung, kami segera ambil gambar suasana dengan leluasa.
Ada 30 tenda yang diisi sajian makanan, dan minuman. Masuk lebih jauh, telinga tamu disejukkan  dengan kericik air , mata dihibur lenggokan ikan hias besar di bawah pot pot tumbuhan hijau segar. Dan di sudut-sudut teras, nampak arena melukis Batik, permainan khas anak-anak desa, juga pentas musik dan tari.

Inilah ide awal konsep GCRS (Gelar Cita Rasa Solo) sejak 3 tahun silam, muncul dari kerinduan pemilik Dapur Solo, Ny. Swan akan budaya Jawa, khususnya  bidang kuliner.

1.  Ny.Swan ingin sekali masyarakat lebih mengenal dan mencintai kuliner dalam negeri. Dengan cinta makanan bangsa , maka kemana pun seseorang mengejar pendidikan kelak, dapat dipastikan ia akan  tetap kembali  ke Indonesia karna rindu rasa.

2.  Sebagai kampanye terhadap sesama pengusaha restaurant untuk menggunakan bahan bahan lokal  dalam tiap makanan dan minuman yang dijual.  Dan bersama-sama berusaha menggali kisah di balik masakan Indonesia.

3. GCRS juga menjadi tempat Ny.Swan  untuk menggerakkan hati pemerintah  supaya ke depan dapat  terjadi sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan petani, juga seluruh pihak yang mendukung masakan Nusantara.




Ny.Swan Kumarga yang dijuluki "Lincah Seperti Kupu-Kupu" oleh suaminya Pak Heru Kumarga memang pas! Beliau energik, gesit, tak betah lama-lama di satu tempat. Kami lihat sendiri Ny.Swan tetap turun tangan  meski sudah rapih berkain batik.

Kami sampai tak menyangka bahwa beliaulah pencetus pertama Restaurant Dapur Solo. Dengan sang suami bekerja keras, fokus, sungguh-sungguh, dan yang terpenting menurut Ny. Swan adalah ...

Bekerja karna bersyukur sudah diberi kesehatan dan kekuatan oleh Tuhan. 

Dalam rangka bersyukur itu pula, ibu yang rela mengantar kami ke stan-stan sambil menjelaskan bahkan melayani itu, bersemangat merengkuh petani, pengusaha dan pemerintah  demi cinta negeri.

Penuh semangat dan mata berbinar beliau menceritakan awal berdagangnya cuma di garasi dengan modal 1 ulekan (Coet) pengasih mertua  dan uang 100 ribu rupiah di tahun 1988. Cuma 2 macam dagangan saat itu, jus buah dan rujak. Permulaan yang baginya proses menuju anak-anak  tangga perjuangan selanjutnya. Hingga kini pengertian tentang keberhasilan tetap ia pegang teguh, yaitu

  "Keberhasilan bukan dari Kekayaan, tapi dari kepuasan jiwa"


KELILING ICIP-ICIP

Terusa terang, kepinginnya semua menu saya makan. Apalagi sebelum acara sudah diberi voucher banyak banget! Tapi lambung is lambung, ada batas maksimumnya. Jadi saya mulai dengan makan yang ringan dulu, seperti Ronde, Tahu petis, dan es krim.

Tahu petis rasanya mirip tahu gejrot yang ada di Bogor, bumbu bawang putihnya dominan. Bedanya, cabe rawit tidak diulek dan diberi petis. Setelah itu makan menu sarapan pagi khas Solo yang namanya Bubur Solo Tumpang Letok.
Yaitu bubur yang disiram sambal goreng krecek, tahu dan telur puyuh, dan tempe, semuanya bersantan. Hehe.. cukup segitu! Lambung saya  penuh rasanya.


Bubur Solo Tumpang Letok.


Sisa voucer, saya belikan 3 kotak nasi Langgi Spesial buat pak suami dan 2 anak.
Nasi Langgi ini salah satu  menu andalan Dapur Solo. Tampilannya unyu-unyu, seperti mini tumpeng. Lauk iringannya itu lhoo yang bikin saya selalu rindu makanan Solo. Terdiri dari serundeng manis gurih, abon, dan empal lembut yang cocok buat semua lidah.
JAJANAN LAIN








INTERIOR KHAS DAERAH







JELANG PULANG

Diiringi musik keroncong , kami sempat menyaksikan kelas membuat "Tumpeng Tsum Tsum". Pengikutnya ibu-ibu semua, maklum ini belajar berkreasi untuk bekal sekolah si kecil. Makanan sederhana disulap jadi menarik berbentuk tokoh kartun atau boneka anak-anak.


Terimakasih Bapak Dan Ny.Swan yang tidak hanya memberi undangan dan hidangan saja, tapi dengan jujur ihlas membagi ilmu bisnis kulinernya kepada kami.
Semoga jejak mulianya diikuti oleh pengusaha-pengusaha lain yang hanya berorientasi pada menu-menu asing, berbahan dan  berbumbu import.

Yuuk... Buat pembaca yang ingin  memanjakan lidah tapi kelamaan menunggu festival berikutnya, datang saja ke Dapur Solo yang sudah punya 13 cabang di seluruh Jakarta. Alamat dan aneka menunya bisa dilihat  DI SINI




Friday, 11 December 2015

Hutang Tulisan...



Wahh...saya banyak hutang,nih! Dead Line lomba cerpen hukum tinggal beberapa hari lagi.
Persyaratannya lumayan banyak, untung panitianya baik sekali, namanya Icha. Dia seumuran dengan anak pertama saya. Kami sering kontak lewat email, dan dengan sabar dia memberi arahan bagaimana memasang  lisensi CC-BY pada karya saya di media HUKUM ON LINE, agar terlindung hak ciptanya *  Pengen dijadiin mantu rasanya...

Kunjungan ke Festival Buah dan Bunga di IPB dan Workshop "Keunikan Tulisan Jadi Karya" juga belum saya tulis. Memang bukan review-an sih, tapi padat informasi bagi yang senang berkebun dan menulis.

Insya Allah esok jam 8 pagi sudah janjian mau ke Jakarta penuhi undangan Pembukaan Resto Makanan Daerah, lalu lusanya  hadiri peluncuran produk baru PHILPS. Hihi...lumayan, dapat bocoran bukan dapat uang lelah, tapi goodybag Strika-an philips yang memang saya cinta produknya.
Pernah pakek strika yang ada semprotan airnya atau "Steam Iron" lebih dari 15 belas tahun tanpa rusak, binasanya di tangan tukang service waktu minta betulin lampunya doang!

Ada satu lagi, saya mau tulis tentang produk mie rasa kepiting khusus diet, yang tiba-tiba datang diantar petugas JNE. Tidak ada kewajiban, tapi sekedar mengasah rasa syukur saja.

Sukak kepikiran kalau belum menulis, karna kembali ke niat awal saya bikin blog, harus banyak manfaat !
Bay de wey, Iman saja suka turun naik, apa lagi semangat menulis?

Insya Allah kelar deh! "The Power Of Kepepet!"  Kekuatan manusia yang tersembunyi saat kepepet.
Seperti bom Atom yang bikin Jepang jadi hebat!

Thursday, 10 December 2015

Coba Dulu Dengan Yang Alami



Suami saya mengeluh sakit pada persendian ... tepatnya di pangkal paha. Kesian, jalannya jadi sulit, dan yang paling kesian kalau lagi sholat, karna dia depan, jadi kelihatan banget dia tahan sakit.

Menebak nebak sudah barang tentu muncul, apa ini karna asam urat? *Asam urat mungkin kesel ya, sering dituding!
Dan saya tak punya keberanian untuk menawarkan ke dokter, dia anti dokter sejak kecil. "Jangan coba-coba bawa saya ke Dokter, kecuali kalo sudah pingsan!" Begitu pesannya dulu.

Ya sudah, saya coba dengan obat warung penghilang rasa nyeri yang judul belakangnya SP, tapi kurang efek. Trus saya serang lagi dengan pengobatan luar. Saya kompres dengan air suam suam kuku, asapnya masih mengepul di kain, tapi tangan masih mampu memeras meski takut takut. Setelah kain kurang panasnya,  saya baluri balsem.

Kemana pun berobat, 1000 dokter didatangi tetap saja Allah yang menyembuhkan. Jadi, jangan ragu mencoba  obat lain yang sudah Allah titipkan di bumiNya, untuk ikhtiar.

Dan masya Allah ...  Ternyata kunyit  bisa menguatkan tulang rawan! Antioksidannya bisa memperbaiki kerusakan oksidatif  karna peradangan, meski hanya 44 % mengurangi nyeri. Lebih komplit kalau air perasan kunyit itu dicampur sedikit bubuk lada hitam. Kandungan magnesiumnya baik untuk perbaikan tulang dan metobolisme.

Adalagi obat alami lain yang bisa dicoba seperti Jintan Hitam, atau Teh hijau sencha.
Hehe... kalau repot, beli Habbatussaudah saja lah!

Alhamdulillah sekarang suami saya sudah sembuh. Kemarin sudah bisa makan enak.
Kayaknya nggak ada kebahagiaan lain, selain melihat suami lahap makan masakan kita. Haha...Sambal buatan saya bikin dia ketagihan!

So, jangan terburu-buru memutuskan ke dokter.
* Allah Maha Baik dan Maha Sayang yaa ...  Kebangetan kalau kita kurang syukur.






Monday, 7 December 2015

Menulis Puisi Menurut Sapardi Djoko Damono (SDP)



Bila yang membaca ini seorang wanita, apa yang dirasa jika pria idaman anda ternyata  pandai menyembunyikan pesona dan cintanya pada anda?
Tiap menatap mata anda, gambar di benaknya adalah sepasang jendela yang kalau terbuka sering menampakkan sapuan warna perbukitan  ketika cahaya pertama matahari muncul

Lalu diam-diam dia menulis...

...Angin dari bukit yang masuk lewat jendela matamu
Sehabis mengemas warna dan aroma bunga
Di terjal perbukitan sana...

Laki-laki itu sadar betul, bahwa kasih sayang mengungguli segalanya, menembus apa pun yang tak bisa dipahami oleh pengertian pinggir jalan, tak kenal teori dan metode, tidak cabul, melaju pesat di ketergesaan waktu, Kasih sayang tak lain adalah kitab suci tanpa kertas tanpa aksara tanpa surah tanpa ayat.

Membayangkan 2 ekor kuda jantan dan betina yang saling menggosok-gosokkan lehernya di perbukitan ilalang  yang menjanjikan tempat bertengger bagi butir-butir embun terakhir kalau cahaya matahari pertama bersinggungan dengan cakrawala.

Bahwa kasih sayang adalah kitab suci yang tersirat 
Kasih sayang beriman pada senyap...

Nah, pastii kleper-kleper kan?

Ini bersumber dari potongan novel kesukaan saya, HUJAN BULAN JUNI karya SDP ( Sapardi Djoko Damono). Penyair, pemusik, pemain drama, Guru Besar dan pembimbing mahasiswa paska sarjana di UI, Undip, Unpad, ITS, dan Institut Kesenian Jakarta.

Hari sabtu beberapa hari  lalu, saya bertemu dengan penyair idola saya ini  *Jangan tanya betapa berbungahnya hati saya!
Beliau membagi ilmunya di gedung Synthesis Square lantai 8-Jakarta, acara Festival Pembaca Indonesia 2015, yang diprakarsai oleh Gramedia.
Dari tema workshopnya saja sudah keren! "Sajak Yang Melipat Jarak"









Di kesempatan emas yang bikin saya tetap cinta Jakarta itu, SDP mengatakan;

Membuat puisi harus betul betul lepas dari perasaan sendiri. Jangan menulisnya dalam keadaan sedih, marah, kecewa dll. Dudukan cerita seperti kita mendudukan orang lain pada kursi  di hadapan lalu kita bercerita dengan lepas, bebas, tanpa beban.
Puisi tentang Marsinah ia buat sampai 3 tahun lamanya, sebab setiap ingin menulis, acapkali rasa marahnya muncul!

Puisi tentang mahasiswa berdemo pun perlu waktu lama. Ia harus mencegah pembacanya dari fikiran suuzon atas keberpihakan politik. Puisi itu akhirnya tuntas dengan cara mewarnai kemarahan dengan cinta, keprihatinan, dan rasa sayang mendalam.

Tulislah puisi dari hal hal sederhana, misalnya tentang daun, ranting, hujan. Kesederhanaan dan logika  akan memunculkan romatisme yang mudah dinikmati pembaca.
Saat menulis adalakalanya  puisi berubah jadi prosa, tapi ikuti saja. Lihat saja puisi Taufiq Ismail dan Rendra, panjang, lepas, bebas!

Lalu, kirimkan karya ke media. Bersiap diri dengan berfikir , dari 1 karung lembar tulisan pasti ada 5 yang terpampang di media. SDP  memperkenalkan karya awalnya di koran Sinar Harapan. Penerbit meletakkannya pada sudut sunyi, hampir terlewat oleh mata pembaca.

Ingin tau kadar tulisan? berlombalah  dengan mereka yang pakar. SDP mengisahkan pernah kalah oleh HB Yassin, tapi ia bangga karna tau siapa saingannya.

Menyenangkan! Acara di tutup dengan pembacaan puisi beberapa peserta yang beliau tunjuk, dapat hadiah, dan bisa berfoto bersama sambil membubuhkan tanda tangan.












Friday, 4 December 2015

Jujurkah Tulisan Kita?


Dok.Pribadi

Adakah  ganjalan saat sahabat menulis? Meski menulis jadi hobby yang mudah  bukan berarti tak ada kendala. Ada yang terkendala dengan masalah judul. Isi cerita sudah selesai, tapi cari judul yang pas, menarik, eye catching, berkesan, lamaaa ketemunya.

Ada juga yang  siap menumpahkan ide cerita, tapi mogok , kayak saya ini...
Sukak mikir, cerita saya sudah jujur atau belum? Kalau ada tempelan embel-embelnya, lebay sampe bohong,nggak ya?
Suka malu lho, sama baginda Rasul yg selalu jujur di saat bagaimana pun, meski dalam guyon! Misalnya begini...

Seorang ibu tua datang memperkenalkan diri, lalu dia menyebut nama dan ciri fisik suaminya. Dia berharap Rasulullah mengenal suaminya bila sholat berjamaah. Rasulullah cerdas dan mudah menghafal, beliau tau siapa yang dimaksud.

Lalu beliau tanya, "Yang matanya ada putih-putihnya,kah?"
Si ibu langsung kaget, "Tidak Rasulullah, mata suami saya sehat, tak ada cacatnya!"

Rasulullah senyum .... "Bukankah, semua mata manusia ada putih putihnya?"
Si Ibu langsung tersadar dan senyum senyum tak percaya bahwa Rasulullah bisa guyon untuk menghangatkan suasana.

Para tabiit tabi"in yang menyampaikan hadist Rasul punya syarat utama, yaitu KEJUJURAN, meski  pada binatang sekali pun. Bila diketahui seorang ulama membohongi kucingnya dengan berlagak memberi makanan padahal tangannya kosong, maka hadis yang ia sampaikan tak masuk hitungan lagi.

Cepat atau lambat, blog yang kita ciptakan ini akan kita tinggalkan. Ketidak jujuran kita jadi arca / patung yang menetap. Bicara catatan malaikat terlalu jauh! Yang tertulis disini saja tak pernah bisa berkilah.

Kita ini bukan puzzle yang sempurna bentuk ya... Masih banyak kekurangan yang harus di isi dengan benar, paling tidak kita BERUSAHA periksa hati dan tulisan.

Menulis itu sebenarnya MELATIH kejujuran. Menulis adalah ekspresi diri sendiri, bukan orang luar. Mahkota penulis bukan pada nget-top nya karya, tapi pada kejujuran.

Mungkin kita bisa mencoba dengan ...

- Tidak mengkopas tulisan orang lain tanpa izin, apalagi ngaku-ngaku karya sendiri.

- Tak berlebihan memuji saat mereview produk

- Menggali sumber tulisan dari pengalaman diri atau kejadian di sekitar yang kalau diperhatikan bisa jadi segudang cerita dalam 1 hari. Orang lain hanya pelengkap saja.

- Bila ingin menceritakan pengalaman pahit orang lain,  kita lebur saja menjadi cerita perenungan

- Trus apa lagi? Hehe... kayaknya segitu dulu, Lha,saya juga masih belajar,kok!


 *Kita bebenah yuk! Periksa hati ... Periksa tulisan.