Tuesday, 15 December 2015

Bentuk Syukur Ny.Swan Dapur Solo 1988




Meski keluarga saya bukan berasal dari daerah Solo, tapi makanan khas Solo sudah tak asing lagi di telinga dan lidah, karna ada kerabat kami yang menetap disana. Setiap datang tak lupa membawa oleh oleh makanan awet seperti Serundeng dan Bumbu Pecel siap pakai. Ada pun menu makanan berat cuma dengar ceritanya saja.

Maka waktu terima undangan dari Resto Ny.Swan Dapur Solo yang mengadakan  Gelar Cita Rasa Solo 2015 ...  Jangan tanya bagaimana perasaan saya. Berbungah luar biasa bercampur penasaran. Saya ingin lihat langsung seperti apa wujud  dan rasa  Tengkleng Kambing, Garang Asem,Brambang Asem dan teman-temannya?

Lumayan lama perjalanan dari Bogor ke Sunter. Dari  daerah bergunung ke ujung Jakarta tepian laut.
Tapi letih kami terbayar tunai begitu menelusuri jalan Sunter Utara no 7. Kiri kanan jalan berkibar umbul umbul  bertuliskan  Festival Kuliner & Kebudayaan Trasional Tematik.
Tak disangka, acara ini ternyata sudah ke 3 kalinya dan menyediakan menu daerah lain juga, lho!

Mas Candy Christiawan selaku Marketing sudah berdiri di gapura meski acara belum dibuka.  Suasana ramah  langsung terasa.
 "Kami memang  ingin membuat pelanggan merasa Hommy, Cozy, dan Comfort" Demikian kata Mas Candy dengan ramah.

Mumpung belum dipadati pengunjung, kami segera ambil gambar suasana dengan leluasa.
Ada 30 tenda yang diisi sajian makanan, dan minuman. Masuk lebih jauh, telinga tamu disejukkan  dengan kericik air , mata dihibur lenggokan ikan hias besar di bawah pot pot tumbuhan hijau segar. Dan di sudut-sudut teras, nampak arena melukis Batik, permainan khas anak-anak desa, juga pentas musik dan tari.

Inilah ide awal konsep GCRS (Gelar Cita Rasa Solo) sejak 3 tahun silam, muncul dari kerinduan pemilik Dapur Solo, Ny. Swan akan budaya Jawa, khususnya  bidang kuliner.

1.  Ny.Swan ingin sekali masyarakat lebih mengenal dan mencintai kuliner dalam negeri. Dengan cinta makanan bangsa , maka kemana pun seseorang mengejar pendidikan kelak, dapat dipastikan ia akan  tetap kembali  ke Indonesia karna rindu rasa.

2.  Sebagai kampanye terhadap sesama pengusaha restaurant untuk menggunakan bahan bahan lokal  dalam tiap makanan dan minuman yang dijual.  Dan bersama-sama berusaha menggali kisah di balik masakan Indonesia.

3. GCRS juga menjadi tempat Ny.Swan  untuk menggerakkan hati pemerintah  supaya ke depan dapat  terjadi sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan petani, juga seluruh pihak yang mendukung masakan Nusantara.




Ny.Swan Kumarga yang dijuluki "Lincah Seperti Kupu-Kupu" oleh suaminya Pak Heru Kumarga memang pas! Beliau energik, gesit, tak betah lama-lama di satu tempat. Kami lihat sendiri Ny.Swan tetap turun tangan  meski sudah rapih berkain batik.

Kami sampai tak menyangka bahwa beliaulah pencetus pertama Restaurant Dapur Solo. Dengan sang suami bekerja keras, fokus, sungguh-sungguh, dan yang terpenting menurut Ny. Swan adalah ...

Bekerja karna bersyukur sudah diberi kesehatan dan kekuatan oleh Tuhan. 

Dalam rangka bersyukur itu pula, ibu yang rela mengantar kami ke stan-stan sambil menjelaskan bahkan melayani itu, bersemangat merengkuh petani, pengusaha dan pemerintah  demi cinta negeri.

Penuh semangat dan mata berbinar beliau menceritakan awal berdagangnya cuma di garasi dengan modal 1 ulekan (Coet) pengasih mertua  dan uang 100 ribu rupiah di tahun 1988. Cuma 2 macam dagangan saat itu, jus buah dan rujak. Permulaan yang baginya proses menuju anak-anak  tangga perjuangan selanjutnya. Hingga kini pengertian tentang keberhasilan tetap ia pegang teguh, yaitu

  "Keberhasilan bukan dari Kekayaan, tapi dari kepuasan jiwa"


KELILING ICIP-ICIP

Terusa terang, kepinginnya semua menu saya makan. Apalagi sebelum acara sudah diberi voucher banyak banget! Tapi lambung is lambung, ada batas maksimumnya. Jadi saya mulai dengan makan yang ringan dulu, seperti Ronde, Tahu petis, dan es krim.

Tahu petis rasanya mirip tahu gejrot yang ada di Bogor, bumbu bawang putihnya dominan. Bedanya, cabe rawit tidak diulek dan diberi petis. Setelah itu makan menu sarapan pagi khas Solo yang namanya Bubur Solo Tumpang Letok.
Yaitu bubur yang disiram sambal goreng krecek, tahu dan telur puyuh, dan tempe, semuanya bersantan. Hehe.. cukup segitu! Lambung saya  penuh rasanya.


Bubur Solo Tumpang Letok.


Sisa voucer, saya belikan 3 kotak nasi Langgi Spesial buat pak suami dan 2 anak.
Nasi Langgi ini salah satu  menu andalan Dapur Solo. Tampilannya unyu-unyu, seperti mini tumpeng. Lauk iringannya itu lhoo yang bikin saya selalu rindu makanan Solo. Terdiri dari serundeng manis gurih, abon, dan empal lembut yang cocok buat semua lidah.
JAJANAN LAIN








INTERIOR KHAS DAERAH







JELANG PULANG

Diiringi musik keroncong , kami sempat menyaksikan kelas membuat "Tumpeng Tsum Tsum". Pengikutnya ibu-ibu semua, maklum ini belajar berkreasi untuk bekal sekolah si kecil. Makanan sederhana disulap jadi menarik berbentuk tokoh kartun atau boneka anak-anak.


Terimakasih Bapak Dan Ny.Swan yang tidak hanya memberi undangan dan hidangan saja, tapi dengan jujur ihlas membagi ilmu bisnis kulinernya kepada kami.
Semoga jejak mulianya diikuti oleh pengusaha-pengusaha lain yang hanya berorientasi pada menu-menu asing, berbahan dan  berbumbu import.

Yuuk... Buat pembaca yang ingin  memanjakan lidah tapi kelamaan menunggu festival berikutnya, datang saja ke Dapur Solo yang sudah punya 13 cabang di seluruh Jakarta. Alamat dan aneka menunya bisa dilihat  DI SINI




18 comments:

  1. wah keren acaranya dan itu makanannya bikin ngiler

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah nih mbak, undangannya di luar dugaan. Menu Jawa memang te o pe ya...:)

      Delete
  2. keliatan enak semua ya, jadi pingin nyobain kuliner nya solo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepat! Enak ditatap, enak disantap! :)

      Delete
  3. tumpeng dengan bentuklucu digemari anak-anak jadi menarik untuk dimakan ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mbak, porsi restonya nggak trll besar, jada anak anak bs makan tanpa sisa.

      Delete
  4. Replies
    1. Hayuuu...diicip icip!terpenuhi deh,kangennya. :)

      Delete
  5. Uwaah.. Itu tumpeng tsum-tsumnnya lusu banget XDDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. XD....demi anak anak, apa juga dicoba ya :)

      Delete
  6. Tumpeng tsum-tsumnyaa.. Lucu bangeeett XDD
    Pengen deh kesana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayang ya mbak... acaranya cm setahun sekali :(

      Delete
  7. Saya asli sukoharjo, alias solo coret hehehe. Tp kulinernya sehari2 khas solo juga. Menurut saya mbak, paling enak nikmat lezat tu tengkleng kambing. Sungguh enak. Hehehe
    Oseng soun juga enak. Hehehe mampir mbk www.osengsoun.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oseng Soun? Baru denger tu,Mbak... Baik, sinsya Allah saya berkunjung ya

      Delete
  8. Aku paling suka menu nasi langgi, komplit sih lauknya, hahaha
    Suasananya hommy banget ya, bikin mupeng berkunjung kesana tapi sayang jauuh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Owh jauh ya? Semoga bisa ada resto lain yang menunya sama yaa... :)

      Delete
  9. Mau bangett ,Mbakku... Nggak pakek acara kesasar lagi! :)

    ReplyDelete