Friday, 4 December 2015

Jujurkah Tulisan Kita?


Dok.Pribadi

Adakah  ganjalan saat sahabat menulis? Meski menulis jadi hobby yang mudah  bukan berarti tak ada kendala. Ada yang terkendala dengan masalah judul. Isi cerita sudah selesai, tapi cari judul yang pas, menarik, eye catching, berkesan, lamaaa ketemunya.

Ada juga yang  siap menumpahkan ide cerita, tapi mogok , kayak saya ini...
Sukak mikir, cerita saya sudah jujur atau belum? Kalau ada tempelan embel-embelnya, lebay sampe bohong,nggak ya?
Suka malu lho, sama baginda Rasul yg selalu jujur di saat bagaimana pun, meski dalam guyon! Misalnya begini...

Seorang ibu tua datang memperkenalkan diri, lalu dia menyebut nama dan ciri fisik suaminya. Dia berharap Rasulullah mengenal suaminya bila sholat berjamaah. Rasulullah cerdas dan mudah menghafal, beliau tau siapa yang dimaksud.

Lalu beliau tanya, "Yang matanya ada putih-putihnya,kah?"
Si ibu langsung kaget, "Tidak Rasulullah, mata suami saya sehat, tak ada cacatnya!"

Rasulullah senyum .... "Bukankah, semua mata manusia ada putih putihnya?"
Si Ibu langsung tersadar dan senyum senyum tak percaya bahwa Rasulullah bisa guyon untuk menghangatkan suasana.

Para tabiit tabi"in yang menyampaikan hadist Rasul punya syarat utama, yaitu KEJUJURAN, meski  pada binatang sekali pun. Bila diketahui seorang ulama membohongi kucingnya dengan berlagak memberi makanan padahal tangannya kosong, maka hadis yang ia sampaikan tak masuk hitungan lagi.

Cepat atau lambat, blog yang kita ciptakan ini akan kita tinggalkan. Ketidak jujuran kita jadi arca / patung yang menetap. Bicara catatan malaikat terlalu jauh! Yang tertulis disini saja tak pernah bisa berkilah.

Kita ini bukan puzzle yang sempurna bentuk ya... Masih banyak kekurangan yang harus di isi dengan benar, paling tidak kita BERUSAHA periksa hati dan tulisan.

Menulis itu sebenarnya MELATIH kejujuran. Menulis adalah ekspresi diri sendiri, bukan orang luar. Mahkota penulis bukan pada nget-top nya karya, tapi pada kejujuran.

Mungkin kita bisa mencoba dengan ...

- Tidak mengkopas tulisan orang lain tanpa izin, apalagi ngaku-ngaku karya sendiri.

- Tak berlebihan memuji saat mereview produk

- Menggali sumber tulisan dari pengalaman diri atau kejadian di sekitar yang kalau diperhatikan bisa jadi segudang cerita dalam 1 hari. Orang lain hanya pelengkap saja.

- Bila ingin menceritakan pengalaman pahit orang lain,  kita lebur saja menjadi cerita perenungan

- Trus apa lagi? Hehe... kayaknya segitu dulu, Lha,saya juga masih belajar,kok!


 *Kita bebenah yuk! Periksa hati ... Periksa tulisan.







2 comments:

  1. Wah nyentil saya nih. Saya kalo nulis, apalagi kalo untuk lomba, memang ya berdasarkan pengalaman nyata. Tapi, saya dramatisir. Dilebay-lebaykan gitu deh. Hehehe.... biar dramatis. Soalnya gak rame kalo ditulis tanpa drama. :D

    ReplyDelete