Monday, 7 December 2015

Menulis Puisi Menurut Sapardi Djoko Damono (SDP)



Bila yang membaca ini seorang wanita, apa yang dirasa jika pria idaman anda ternyata  pandai menyembunyikan pesona dan cintanya pada anda?
Tiap menatap mata anda, gambar di benaknya adalah sepasang jendela yang kalau terbuka sering menampakkan sapuan warna perbukitan  ketika cahaya pertama matahari muncul

Lalu diam-diam dia menulis...

...Angin dari bukit yang masuk lewat jendela matamu
Sehabis mengemas warna dan aroma bunga
Di terjal perbukitan sana...

Laki-laki itu sadar betul, bahwa kasih sayang mengungguli segalanya, menembus apa pun yang tak bisa dipahami oleh pengertian pinggir jalan, tak kenal teori dan metode, tidak cabul, melaju pesat di ketergesaan waktu, Kasih sayang tak lain adalah kitab suci tanpa kertas tanpa aksara tanpa surah tanpa ayat.

Membayangkan 2 ekor kuda jantan dan betina yang saling menggosok-gosokkan lehernya di perbukitan ilalang  yang menjanjikan tempat bertengger bagi butir-butir embun terakhir kalau cahaya matahari pertama bersinggungan dengan cakrawala.

Bahwa kasih sayang adalah kitab suci yang tersirat 
Kasih sayang beriman pada senyap...

Nah, pastii kleper-kleper kan?

Ini bersumber dari potongan novel kesukaan saya, HUJAN BULAN JUNI karya SDP ( Sapardi Djoko Damono). Penyair, pemusik, pemain drama, Guru Besar dan pembimbing mahasiswa paska sarjana di UI, Undip, Unpad, ITS, dan Institut Kesenian Jakarta.

Hari sabtu beberapa hari  lalu, saya bertemu dengan penyair idola saya ini  *Jangan tanya betapa berbungahnya hati saya!
Beliau membagi ilmunya di gedung Synthesis Square lantai 8-Jakarta, acara Festival Pembaca Indonesia 2015, yang diprakarsai oleh Gramedia.
Dari tema workshopnya saja sudah keren! "Sajak Yang Melipat Jarak"









Di kesempatan emas yang bikin saya tetap cinta Jakarta itu, SDP mengatakan;

Membuat puisi harus betul betul lepas dari perasaan sendiri. Jangan menulisnya dalam keadaan sedih, marah, kecewa dll. Dudukan cerita seperti kita mendudukan orang lain pada kursi  di hadapan lalu kita bercerita dengan lepas, bebas, tanpa beban.
Puisi tentang Marsinah ia buat sampai 3 tahun lamanya, sebab setiap ingin menulis, acapkali rasa marahnya muncul!

Puisi tentang mahasiswa berdemo pun perlu waktu lama. Ia harus mencegah pembacanya dari fikiran suuzon atas keberpihakan politik. Puisi itu akhirnya tuntas dengan cara mewarnai kemarahan dengan cinta, keprihatinan, dan rasa sayang mendalam.

Tulislah puisi dari hal hal sederhana, misalnya tentang daun, ranting, hujan. Kesederhanaan dan logika  akan memunculkan romatisme yang mudah dinikmati pembaca.
Saat menulis adalakalanya  puisi berubah jadi prosa, tapi ikuti saja. Lihat saja puisi Taufiq Ismail dan Rendra, panjang, lepas, bebas!

Lalu, kirimkan karya ke media. Bersiap diri dengan berfikir , dari 1 karung lembar tulisan pasti ada 5 yang terpampang di media. SDP  memperkenalkan karya awalnya di koran Sinar Harapan. Penerbit meletakkannya pada sudut sunyi, hampir terlewat oleh mata pembaca.

Ingin tau kadar tulisan? berlombalah  dengan mereka yang pakar. SDP mengisahkan pernah kalah oleh HB Yassin, tapi ia bangga karna tau siapa saingannya.

Menyenangkan! Acara di tutup dengan pembacaan puisi beberapa peserta yang beliau tunjuk, dapat hadiah, dan bisa berfoto bersama sambil membubuhkan tanda tangan.












5 comments:

  1. suka puisi ya mbak? aku cuma tahu ada Sapardi Djoko tapi belum pernah beli bukunya

    ReplyDelete
  2. Pak Sapardi Djoko Damono itu bapak puisi saya mbak. Hehehe

    ReplyDelete
  3. Wah senangnya bisa dapat tanda tangannya. Saya ada bukunya, pengen minta tanda tangannya juga. Huhuhu

    ReplyDelete
  4. Saya suka puisi. Terimakasih tipsnya dari Pak Sapardi :)

    ReplyDelete
  5. Wah senangnya bisa ketemu langsung dengan pak Sapardi

    ReplyDelete