Friday, 23 December 2016

Toleran Itu Mendewasakan

Image result for toleransi


Saya lagi inget mantan tetangga  saya, selang 5 rumah, belasan tahun lalu.
Di satu malam  takbiran  tiba tiba Asisten Rumah Tangganya, Mbak Epon datang. Saya sedang  selonjoran ngaso di depan tv, habis masak lauk lebaran. Rumah masih penuh harum  Opor.

"Bu, maaf saya bertamu malam-malam. Ada surat dari Madam" Katanya sambil sodorkan amplop kecil warna putih

"O, nggak apa-apa. Saya juga belum siap-siap tidur kok!"
Belagak tenang saja, tapi dalam hati terheran-heran. Kok tumben ibu yang pintunya selalu tertutup, tampilan ningrat dan jarang menyapa tetangga itu kirim surat?

Di amplop ada uang dalam lipatan kertas, bertulis...

Selamat malam Ibu.
Mohon maaf jika saya merepotkan.
Apa boleh saya beli ketupat sayur buatan ibu sedikit saja? Anak saya Nevy ingin sekali makan ketupat lebaran.
Terimakasih sebelumnya.



Wah, kenapa baru nyadar ya? malam spesial gini dapur dapur muslim cuma menyebarkan aroma saja. Kasihan, ada yang cuma bisa mencium dan  membayangkan

Saya kembalikan uang dalam amplop dan nggak lama kemudian Mbak Epon sudah keluar pagar bawa rantang menu lebaran cukup buat keluarga kecil itu.

Lingkungan sini nggak punya acara saling kunjung usai sholat ied. Pintu banyak tertutup  karna nonmus,  mudik, atau  langsung ke orang tua di daerah terdekat.
Jauh beda dengan tempat Bapak di Jakarta. Warga yang tak merayakan lebaran bisa sama sama menikmati ketupat karna saling kunjung.

Saya nggak menyangka sejak peristiwa  itu saya jadi akrab dengan Madamnya Mbak Epon. Terbiasa ketuk rumah tetangga antar menu lebaran.
Senang kalau ada ketupat juga di meja makan orang yang tak merayakan lebaran, sesenang lihat wajah mereka saat menerima.

Dan sejak itu pula, saling berikirim makanan berlanjut. Rumah saya selalu dapat kiriman kue kue cantik di hari Natal. Hari hari raya datang tanpa tuntutan harus memberi ucapan, menyejukkan sekali! Mungkin karna sudah terwakili dengan ihlas dan kesantunan.

Toleransi itu sederhana ...
Toleransi bukan MENGIKUTI tapi MENGHORMATI. Seperti Rasulullah yang berdiri dari duduknya saat usungan jenazah orang Yahudi lewat di depan beliau.
Sahabatnya bilang, "Ia orang Yahudi!"
Rasul menjawab: "Bukankah ia manusia?"

Atau seperti seorang gadis dengan anjingnya di taman. Begitu berpapasan dengan ibu berhijab, ia berusaha halau anjingnya agar tak mencium kaki ibu tadi.

Toleransi bukan cuma bikin luas hati. Tapi bisa jadi penahan lidah. Memaksa kita untuk menambah lagi sifat baik.

Satu  cerita di  film kartun Upin dan Ipin. Mereka sedang nonton acara budaya Cina. Bangku deret depan tak boleh diduduki.   Tentu mengundang tanya Upin Ipin.
Sahabatnya Mei Mei  menerangkan, kursi itu akan diisi oleh para hantu. Upin  Ipin mengangguk angguk saja dengan gaya khasnya.
Nggak ada koment, kenapa begitu? ... Aneh!...Lebay! atau kata kata lain yang nggak perlu.

"Dan janganlah kamu memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap ummat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka. Lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan"
(QS Al-An'am 108)

Nggak habis habis cara dan media Allah demi mendidik kita. Kejadian seremeh apa pun tetap terkandung nasehat. Toleran itu mendewasakan.



Sunday, 18 December 2016

Cara Philips Menyambut Hari Ibu

Foto Wilujeng Saja.

Tanggal 8 Desember lalu saya dapat rejeki nomplok. Bisa menghadiri undangan Philips di  Thamrin Nine Ball Room, gedung UOB Jakarta Pusat

Ini pengalaman pertama  ikut event produk yang logonya sudah saya  kenal lama sejak mulai bisa baca . Tertulis di gramaphone ayah saya, piringan hitam, radio transistor, Bohlam, pisau cukur listrik, compact audio cassete dan lain lain.

 Perusahaan Philips dibangun  sejak tahun 1891, oleh dua orang bersaudara, Gerard dan Anton Philips di Belanda, dengan produk pertamanya Bohlam lampu. Kemudian tahun 1920 mulailah bermunculan alat alektronik lainnya.
Terbilang sukses karna penjualannya di tahun 2004 tercatat 30,3 Juta Euro dan memperkerjakan 161.586.000 tenaga kerja di 60 negara.


Foto Wilujeng Saja.


Tak pernah saya lupa, perlengkapan rumah tangga pertama yang saya miliki  saat baru berumah tangga adalah strika merk philips. Lalu menyusul blender, mixer, dengan merk sama.

Rupanya Philips rutin mengadakan event tahunan. Dan karna bulan Desember ini terselip hari nasional, hari ibu yang sangat spesial, maka Philips Indonesia bagian dari Royal Philips (NYSE: PHG, AEX:PHIA) mengadakan acara bertema "Philips Mother's Day Coocking Battle".

Di pintu gedung saya  harus melewati detector dan susuri banyak lorong. Setelah belak-belok sampailah di Ballroom , berkarpet tebal, sejuk dengan pencahayaan teduh romantis.
Pandangan pertama kali terbentur pada susunan cangkir putih. Nah, ini yang selalu terbayang saat  berdesakan dengan orang kantor  di kereta comuter bila ikut event pagi hari. Letih perjalanan dari  Bogor ke Jakarta jadi luntur kalau lihat pojokan minuman hangat dan cemilan. Philps memahami betul yaa. *Happyy!



Foto Wilujeng Saja.



Philips juga menyambut tamu dengan 4 meja hidangan. Meja juice, meja makanan siang menu Soto, Nasi Komplit, meja cemilan, meja dessert, dan ituuuuh, Asinan Betawi!
Tidak perlu sungkan, sebab Philips membuka acara dengan makan siang terlebih dahulu.

Tapi saya utamakan minum teh lalu ke meja registrasi. Di sana panitia sudah siap dengan lembar pers rilis. Ini yang paling dibutuhkan.

Menarik! Nikmati makan siang bukan dengan cara standing party, melainkan duduk di kursi manis berderet rapih. Makanan sangat cukup, dan tidak kelihatan  piring kotor disekitar. Petugas berseragam hitam itu cepat sekali kerjanya.

Dari kejauhan pandangan saya terbentur pada meja Juice. Bentuk Juicernya unik, mirip  Kendi ( Wadah air minum jaman dulu). Di bannernya tertulis "Tahan Lama Melayani Keluarga"
Kalimat yang  menyentuh  perasaan sebagai ibu. Pas juga dengan peran Philips selama ini.

Foto Wilujeng Saja.

















Mumpung sepi, sebelum masuk ruang acara saya lihat dulu juicer keluaran philips HR 1855 . Simple dan ringan! Olahan jusnya halus merata. Ada beberapa lagi juicer keluaran philips type lain.

Ruang utama sudah ramai. Riuh suara pengunjung  ulah canda Augie Fantinus.
Sementara Hatna Danarda dan Nicky Tirta dengan teduh tenang memakai celemek sambil senyum ramah mengarah ke kamera.
Acara pemotretan perlu tambahan waktu karna banyak ibu-ibu berselfie ria dengan 3 Papa muda selebriti itu.


Philips berhasil menciptakan pertemuan seru demi memberi apresiasi kepada pengguna produk Philips, seperti yang dijelaskan   Ibu Maria V. Simanjuntak dalam sambutannya, selaku Senior Marketing Manager, Domestic Appliances,Philips Personal Health Indonesia.

Foto Wilujeng Saja.

Foto Wilujeng Saja.

Foto Wilujeng Saja.


Acara Lomba Masak

Piring piring cantik putih berbagai ukuran dan bentuk sudah tersedia. Piring putih membuat makanan apa saja di atasnya jadi menarik mengundang selera.

Begitu waktu lomba dimulai,  peserta berbagi tugas. Pasangannya yang wakil dari  media dan blogger langsung menyerbu lemari tempat bahan dasar masakan.
Penonton harap harap cemas, apa artis yang jarang pulang karna sibuk entertaint orang ini bisa masak?
Tapi tanya itu terjawab dengan kesan santai mereka saat mengolah masakan. Tidak ada grogi sedikit pun!

Foto Wilujeng Saja.

Hatna Danarda dan Nicky Tirta memang antusias ikuti tantangan. Sebab passionnya di masak. Berbeda dengan Augie Fantinus yang baru kali ini memasak. Namun keduanya punya keinginan  sama, ingin bisa membahagiakan istri.


 Nicky Tirta memasak Nasi Liwet khas Sunda dengan Pepes Tahu.
Augie Fantinus membuat Korean Beef Rice Bowl, dan  Hatna Danarda memasak Butter Rice With Honey Grilled Prawn.
Itu hidangan utamanya. Sedang tantangan lain, mereka membuat minuman smoothies ala  mereka sendiri.

Produk Baru Philips

Kenapa mereka memasak begitu santai tanpa beban?
Sebab peralatan dapur yang digunakan adalah peralatan modern dari philips. Diantaranya, Rice Coocer Gold HD 3128 yang dilengkapi dengan tehnologi 3D heating. Hasil masakan matang merata sempurna dan kehangatan nasi terjaga.
5 lapisan ProCeramicnya 3x lebih kuat, dan lebih  tahan gores.

     Sumber Gambar


Ada lagi produk lain, Philips Daily Collection Steamer lengkap dengan manual timer. Sangat memudahkan  pengguna untuk mengatur lamanya pengukusan.
Bagaimana dengan menu yang dipanggang? Phillps punya Table Grill dengan  lempengan bertemperatur tinggi agar terjaga kadar air bahan makanan yang dipanggang.

Saya masih menggunakan blender Pilips model lama karna masih kuat. Blender terkini lebih meringankan pekerjaan. Kapasitas 1,25 liter bisa tercampur rata dan halus sempurna hanya dengan satu kali tekan. Benda keren ini yang bikin peserta lomba sukses membuat  smoothies.

Enak yaa, tehnologi membuat kegiatan masak jadi menyenangkan, lebih mudah cepat dan aman untuk semua keluarga. Seperti yang diungkapkan Bapak Yongky Sentosa, Head of philips Personal Health Indonesaia.

Umpama ada anak remaja yang ingin praktek masak, atau para bapak yang belum pernah masak ingin membuat kejutan untuk istri tercinta,  maka  peralatan ini akan  menjauhkan mereka dari rasa takut gagal.

Acara Penutup

Waktu acara cicip-cicip, peserta lomba  menghampiri audience.  Augie maksa deh, minta dipuji. Tapi memang benar enak kata ibu yang mencicip.
Sedikit  koreksi dari  seorang ibu, agar bahan kacang baiknya disangrai dari pada digoreng.

Ahirnya sampai pada puncak acara yang ditunggu. Pengumuman pemenang lomba masak dan peraih door price. Terus terang saya tak pernah  hoki kalau acara door price. Jadi saya cuma menunggu pengumuman juara lomba masak .

Dan,  keluar sebagai pemenang adalah Nicky Tirta!
Waahh... Wajahnya bahagia  betul! Tambah bahagia lagi dia bersama pesaingnya,  karna dapat kejutan, istri  istri mereka dimunculkan di ahir acara.
Sayang... Saya tidak bisa mengabadikan hasil masakan dan ekspresi mereka. Ponsel saya kehabisan bateray. :(

Apa saya sedih tidak dapat Door Price? Tentu tidak, karna Philips memberi kebahagiaan lain. Setoples mungil coklat yang dikemas cantik, buku resep Sajian Spesial Di Hari Istimewa, dan voucher belanja! Terimakasih Philips :)


Seperti itulah ibu, tak perlu penghargaan besar untuk membayar letihnya. Kejutan kecil dan ketulusan sudah amat berarti.
Tak heran bila survey oleh Independent Grocers Of Australia (IGA) mengambil sample dari 1000 ibu, hanya 35%  dari responden yang merasa dapat mengandalkan hari ibu sebagai hari rehat untuk santai dari kesibukan rutin.

Semoga para bapak atau suami dapat mengapresiasi para ibu dengan cara sederhana yang menyenangkan. Membuat kejutan dengan masakan seperti cara Philips menyambut hari ibu.

Oh ya, ada pengumuman. Philips mengadakan kompetisi foto bersama keluarga dengan rice coocker Philips. Hadiahnya menarik! Berupa 180 koin emas. Ditunggu sampai tanggal 31 Desember 2016.  Keterangan lengkap bisa dilihat      di sini atau  di Facebook Philips Home Living ID.





Tulisan ini untuk mengikuti lomba blog yang diadakan oleh Philips

Thursday, 15 December 2016

Festival Makanan Padang



Foto Kuliner Saja.

Biar hujan pengunjung tetap datang. Beberapa stand penuh antrian sampai menutup jalan, soalnya  Festival  makanan Padang ini cuma berlangsung 2 hari sih..

Jalanan basah, kardus-kardus  yang semula buat atasi becek sudah kayak bubur. Ekhh!! Nggak enak banget, apalagi nginjeknya lama karna pengunjung beradu dari dua arah.
Hihi, sampe segitunya ya mbela belain perut. 

Menu Padang banyak penikmatnya. Cocok utk semua lidah dan makin banyak varian. Kayak ini nih.... Rendang sayur Paku. Biasanya kan cuma digulai untuk siraman lontong. Lainnya rendang ayam, telur, paru, sampe singkong direndang juga!


Foto Kuliner Saja.
Foto Kuliner Saja.


Beberapa tenda sudah sepi, tapi tetap saya datangi jika  masih punya sample menu unik. Buat motret motret doang.
Makanan kampung yang sudah sering saya  makan seperti Lamang Tapai, Bubur Kampium, Kapiang Kacang, Karipiak Sanjay, Ikan Bilih, lewaat...

Yang nantangin banget,yang ini nii..
Lado Jariang  isi 6 biji di toples mungil, harga 25 ribu.  Rendang udang renyaaaah banget, trus ampas rendangnya bikin nagih! Harganya 75 ribu. Paling buat 3 orang makan nasi. Saya cicip samplenya, masya Allah! Krenyes-krenyes full bumbu, tapi nggak basah minyak.

Kenapa mahal bingit, ya? Mungkin karna harga cabe dan kelapa naik lagi. *Inget omongan teman saya... Kalah deh, sama harga diri!


Foto Kuliner Saja.Foto Kuliner Saja.
Foto Kuliner Saja.Foto Kuliner Saja.

"Uni, buliah singga siko,Ni..!"
Ibu muda sholehah minta saya mampir. Tapi menu padangnya yang biasa di Resto.
Stand Dendeng Bakuah, Martabak Padang, antriannya  panjang. Apalagi Bika Padang, sudah full pesanan.
Ujung ujungnya saya ke stand Ayam Bumbu Hitam dan Pangek Daun Singkong.

"Ayam hitam nda do lai. Lah habih sadonyo.  Pangek jo sisa ayam gulai saketek, Ni" Kata penjual.

"Ondee Ni! Manga nda buek nan banyak Ni? (Pasrah deh, ayam bumbu hitam sdh habis)
"Nda ba'a. duo porsi pangek jo ayam gulai"

Saya beli 2 porsi pangek daun singkong dan gulai ayam saja buat bapak. Kaget waktu bayar, ternyata muraaah banget! Dia bilang karna saya pembeli terakhir. Dan... Saya dapat Bumbu hitam haratiss! Alhamdulillah. Se-imil juga nggak apa apa deh, lumayan buat cocolan!




Foto Kuliner Saja.Foto Kuliner Saja.
Foto Kuliner Saja.



Space antara stan sempit  dan kurang bangku. Akibatnya banyak pengunjung makan  di dekat  tumpukan sampah kemasan, dan  di taman yang seharusnya terjaga.
Mereka nggak peduli lagi, yang penting kesampaian keinginannya.
Sambil nikmati musik Kalempong mengiringi tarian lincah anak anak remaja.

Kalau lihat suasana begini jadi terkagum-kagum sama cara Allah memanjakan hamba. NikmatNya meliputi segala sesuatu.  sampe ke jeroan/tenggorokan. Nggak mungkin  enak kalau nggak ada sistem koordinasi dan sistem panca indera. Nggak sampe ke piring kalau nggak ada hujan dan panas. Nggak tertelan tanpa enzim jasa kerja saraf terhalus.

Manusia sampai  lupa. Dikira kandungan makanan yang bikin maknyuss. Padahal dikasih sakit flu sedikit saja,   makanan sudah nggak berarti. Sel hidung tertutup lendir, gagal menyampaikan partikel aroma ke otak.

To remind me..
Semoga  mampu bersyukur, makan sekedar menegakkan badan untuk ibadah.

Jakarta masih gerimis, kendaraan umum banyak kosong, alhamdulillah bisa ke bapak hari ini dengan bawa sesuatu. Dari jauh masih kedengaran lagu tarian itu..

Ikolah Indang oi Sungai Garinggiang
Kami tarikan basamo samo
Sambuiklah salam oi sambah mairiang
Pado dun sanak alek nan tibo

Dindin badindin oi dindin badindin..

Entah kapan ada Festival makanan Padang lagi?

Foto Kuliner Saja.

Foto Kuliner Saja.












Wednesday, 7 December 2016

Saling Menguatkan


Kemarin takziah ke Jakarta. Tetangga saya meninggal karna kanker paru lalu menjalar sampai ke otak.
Saat sakit, sabarnya luar biasa. Tanpa keluhan apalagi erangan. Sepanjang perjalanan berputar terus kenangan baiknya.

Rencana dimakamkan jam 10. Alhamdulillah, bisa datang sejam lebih awal dan bisa menatap wajah ibu cantik yang sedikit bicara itu terakhir kali.

Tapi... Ternyata jam 9 sampai sana, kifayah sudah selesai disholatkan. Oo rupanya jam 10 itu sebisa mungkin sudah tutup pusara. Orang orang gerak cepat, yang di rumah, musholla dan parkiran. Saya masih diam diam bingung.
Mau antar ke pemakan atau nggak?

Hukum wanita ziarah ke kubur dulunya, dilarang,  dibolehkan, lalu dilarang lagi.
Era Mekkah terlarang  karna saat itu kesyirikan masih melekat kuat. Paska Hijrah dianggap aqidah sudah tertanam hingga larangan dicabut. Selanjutnyaa??

Masih mikir...

Dari jauh saya lihat ibu almarhumah  tertahan di pintu, matanya mencari-cari sandal. Refleks saja saya hampiri, sodorkan satu persatu sendal yang banyak parkir. Nah, ketemu !

Waktu pakai sandal, tangan gemetarnya bertahan di lengan saya. Pelan-pelan kami jalan  menuju mobil sambil menahan tubuh lemasnya.
Legaaa waktu beliau sudah duduk dengan nyaman, lalu saya siap pulang.
Ehh... Tangannya nggak mau lepas! Terbawalah saya dalam rombongan pengantar jenazah. *Gimana Allah aja deh..

Usai acara doa dan tabur bunga, ibu tadi sudah dipapah keluarganya. Tinggal saya sendiri menyusuri jalan  makam. Ya Allah ... Di depan ada pemandangan yang mengaduk perasaan. Suami dan dua anak almarhumah berjalan beriringan, saling menguatkan.









Tuesday, 29 November 2016

We Are The Master Of Our Mind



Sebuah percakapan di Resto Baba Gendut.


Saya :
"Jadi gimana caranya supaya kita nggak jadi manusia  reaktif? Gampang  marah, mudah tersinggung, apa saja dikoment, trus cepat menshare berita.

Mbak Iwed:
"Bayangkan tubuh kita ada 2, satunya keluar jadi penonton sejenak. Netralkan hati, lihat jernih masalah, cek ricek data yang masuk di otak"

"Segala kejadian sebenarnya bersifat netral. Cara fikir kita akan membuatnya jadi cerah, suram, bahkan menakutkan. Kenapa kita mudah panik, marah, dan cepat melabelkan orang lain? Sebab kita tidak tahu bagaimana otak kita bekerja. Bagaimana persepsi terbentuk lalu menimbulkan emosi. Dan emosi mendorong manusia merespon peristiwa"


Mbak Iwed yang  ihlas berbagi ini sering menjadi trainer seminar Parenting di daerah dan luar negeri . Tulisannya bersama psikolog Okyna Fitriani laku di pasaran hingga cetak ulang (The Secret Of Lightening Parenting). Jadi ini  kesempatan emas menerima transferan ilmunya.

Mbak Iwed:

"Tau nggak? Karakter manusia tu berpola seperti binatang. Kalau orang suka pendam-pendam perasaan lalu dimuntahkan saat emosi memuncak, itu pola sapi yang memamah biak. Kalau orang langsung bereaksi setiap ada aksi, itu pola ular!"

Plaakk!! Serasa ditampar!

Acara kangen-kangenan ini  bikin benderang pandang. Selama ini banyak kesalahan internal external. Kok bisa yaa...sampe nggak nyadar gitu?

Mbak Iwed memberi tehnik-tehnik menyelesaikan emosi supaya tetap tenang dan berdaya dalam situasi apa pun. Lembutnya tutur kata, intonasi bicara, volume suara, akan membawa ketenangan buat semua.

Di dalam rumah saja kita bisa terpengaruh dengan emosi negativ, apalagi jika kaki sudah melangkah keluar. Banyak hal buruk mempengaruhi emosi.
Hidup harus berkwalitas dengan menjauhi kebodohan
Pantess... 37 kali Allah mengulang kata bodoh dalam Quran. Karna cuma orang bodoh yang lihai menzalimi diri dan orang lain.

Trus gimana supaya kita nggak cepat bereaksi  dengan berita medsos?
Mbak Iwed yang gemar berfoto mesra dengan suami ini, suatu hari baca artikel yang banyak mengundang komentar, judulnya "Pasangan Yang Bahagia Justru Tidak Suka Pamer Kemesraan di Medsos"

Bagaimana reaksinya? Apa tersinggung? Nggak!
Ada cara menghadapinya. Ia ciptakan percakapan di kepala. Istilahnya Meta Model, yang gunanya untuk mengklarifikasi sekaligus menyelesaikan emosi.

"Pasangan Yang Bahagia Justru Tidak Suka Pamer Kemesraan Di Medsos" Itu kata siapa? Ada datanya nggak? Mana samplenya? Melalui penelitian kah? Mana hasil surveynya ?
Nggak berdasar, kan? Jadi itu murni pendapat subjektif penulis.

Ini sebetulnya sudah terpapar di QS Hujurat:6 tentang "Tabayyun" Check and recheck. Surah yang sarat dengan pesan etika , moralitas, prinsip muammalah  yang menunjukan kwalitas akal manusia.
Kita banyak makan nasehat tentang SABAR . Tapi dalam praktek, kita butuh ilmu terapan

Kesimpulannya:
Nggak usah dipikirin! So, terpancing emosi, mengkopas, mengomentari, menshare artikel tak berdasar, bukan tindakan cerdas.

Notted:

1. Listen and acknowledge
2. Make piece your mind
3. Realize your thoughts are just thoughts
4. Observe your own mind
5. Retrain your mind to rewire your brain
6. Practice self-Compassion



We are the master of our mind.
 Kita nggak bisa ngatur mulut orang lain. Maka yang diatur pikiran sendiri




Sunday, 27 November 2016

Today...




Pagi ini harusnya ke Kebun Raya, ikuti kursus gratis menanam Bunga Anggrek . Tapi bapak tiba tiba telepon, yayasan Jakarta butuh dana renovasi musholla wakaf Almh.Ibu.

Kok pas banget! Kas yayasan Bogor lagi miniiim. Amanatnya pun untuk pendidikan. *Binuuun.
Terus putar otak sambil menanti bantuan Allah entah lewat apa dan berbentuk apa?

Pada ahirnya dapet  "Rejeki Ide simple" , bapak ringan ... saya ringan. Bapak terbantu, amanah terjaga.
Semoga renov lancar. Musholla  di bantaran sungai itu bisa dimakmurkan pengajian anak-anak  dhuafa,  setelah  kurleb 6 atau 7 tahun  jagoan kampung menyerobot  jadi rumah tinggal, paska musibah kebakaran.

Beberes rumah dan ke ATM kelar. Matahari sudah tinggi, tapi tetap ke Kebun Raya. Ciaaan deh, panggung sudah kosong!
Untungnya rumah kaca angrek tetap terbuka.

Sepi pengunjung malah nyaman. Bebas pilih objek foto, nggak usah nunggu orang lewat baru cetrak cetrek kamera.
Beneran lhoo... Serasa dapat hadiah spesial dari Pencipta kebun ini!
Nikmati sendirian sisa hujan, dingin, daun dan batu  basah, pakis menjuntai di pohon tua, gemuruh deras sungai Ciliwung, kicau burung, kabut di kelok jalan, semua cantik segar! Kembalikan ingatan ke jalan setapak kaki gunung Gede-Pangrango.







Lempar tatap haru dengan menyebut nama kekasih. Seruput perlahan kehangatan pesanNya.
Nikmatnya memeluk diri sendiri, menghiburnya. Nggak ada yang menuntutnya  sempurna. Setiap kesulitan yang ditemui akan menjadi sumber bahagia nggak berbatas. Pahami takdir sebagai program satu satunya yang sempurna dan dirancang husus.


Today...
I choose to feel life
Not to deny my humanity, but embrace it










Wednesday, 23 November 2016

Teman Sarapan





Gara gara baca artikel perjalanan karirnya Panglima RI Jendral  Gatot Nurmantyo, yang namanya terinspirasi dari pahlawan Gatot Subroto itu , saya ketemu dengan komentar mantan Kepala Angkatan Perang RI Letnan Jenderal TB Simatupang, di bukunya yang berjudul "Report From Banaran : Experiences During People's War

"Saya tidak tahu mengapa, pimpinan militer banyak dari Banyumas dan Kedu. Seperti Sungkono, Sadikin, Bambang Sugeng, Gatot Subroto, dan tentu tak boleh dilupakan, Pak Urip"

Lantas dia bilang, "Pada masa itu muncul pembicaraan bahwa dialek Banyumas memang terdengar lebih militan dibanding dengan dialek masyarakat jawa lainnya.

"Saya kerap bercanda, menganggap orang orang itu (Para pemimpin militer  asal Banyumas) sebagai "Prussian of Java"

Kebetulan Pak Gatot Nurmantyo berasal dari Banyumasan bagian Utara.
Wah! Jadi penasaran dengan sejarah Prussia yang mempangaruhi Eropa di abad 16 hingga 19, dan apa hubungannya dengan para jendral kita?
Jadi browsing deh! Dan nggak lupa mencatatnya.

Saat sarapan pagi adalah saat paling enak mencatat informasi, istilah baru, dan ilmu apa saja. Buku kecil di meja makan selalu menemani saya sarapan.
Otak masih segar, sesegar sisa embun di luar.
Lagi pula suasana sepi. Pak suami dan anak-anak lapernya jam 10an.



Tentang Prussia

Wilayah Prussia sekarang, ada di antara wilayah Rusia dan Polandia,
Dahulu dia negara terkuat di Eropa. Berhasil menguasai Jerman negri asal nenek moyangnya (Arya Jerman), Polandia, spanyol, Prancis. Selisia, Bavaria, Frankfurt, Nurenburg dan  Austria. Hingga  Austria memberinya julukan "Negara Perampas"

Tentara Prussia terkenal kuat dan pemberani. Darah nenek moyangnya suku Barbaarian dan Suku Vandalis yang tinggal di tepian sungai Rhein - Jerman mengalir dalam tubuh mereka.

Unik juga alur ceritanya. Peranakan Jerman yang mengembara, balik memerangi Jerman, tapi ahirnya menyatukan negri pecahan Jerman sampai jadi Jerman besar.

Jumlah tentara sedikit, tapi punya tehnologi senjata terbaru saat itu, bernama Dreyse Needle Gun.
Memiliki keunggulan, pendek, mudah disimpan, nyaman dipakai ketika sembunyi atau tiarap, tapi memiliki jarak tembak jauh.


Suku Baarbarian.


Istilah "Orang Prussia" sering digunakan terutama di luar Jerman, untuk  menguatkan kesan dari profesionalisme, militerisme, dan konservatisme.

Raja pertama Prussia,Frederic The Great I. Saking hebatnya orang Prussia sampai-sampai  suksesor kemerdekaan Amerika atas Inggris pun dari imigran Prussia.

Yang bisa menyaingi Prussia hanya Rusia dan Turki Usmani.
Ketiganya kelak gagal, namun Prussia bisa dibilang sirna! Tersobek bagian negara itu ke negara tetangga (Polandia dan Sovyet) sejak Hitler berkuasa dan ingin mendirikan negara kesatuan Jerman, tahun 1941.

Asik  baca tentang Prussia ini. Sejarahnya nyambung ke penaklukan negeri-negeri Eropa oleh tentara muslim dari bani Utsmani hingga koalisi eropa yang menyerang Jerussalem dalam perang Salib.

Ada yang tragis dalam perang itu. Pasukan Eropa yang menjalankan serangan darat menderita panas dan kehausan. Mujur, di tengah gurun mereka dapati Oase.
Panglima perang amat gembira,  langsung turun berlari menuju air. Sampai ia lupa beratnya baju besi. Panglima mati dalam air.

Begitu ceritanya...
Teh manis saya dengan roti panggang yang rada-rada angus enak ini tinggal sedikit. Habisin dulu ah!
Kamu punya teman sarapan juga,kan?




















Thursday, 17 November 2016

"Lestari Wastraku, Lestari Negeriku".




Negeri kita ini  ajaib ya..
Panglima TNI Gatot Nurmantyo pernah bertanya di hadapan para presiden Badan Mahasiswa se Indonesia.
"Coba cari, daerah mana yang tidak punya senjata khas? Daerah mana yang tak punya tarian perang? Tidak ada!

Semua pulau di negeri ini punya sesuatu yang khas. Baik bahasa, rumah,  perhiasan, musik, makanan, buah-buahan, binatang dan lain-lain.
Dan kemarin saya melihat kekayaan lain .... 183 macam kain tradisional Nusantara, pada  acara "Seribu Nuansa Satu Indonesia" di Museum Nasional Jakarta.

Pameran yang melibatkan 34 museum dari 433 museum seluruh Indonesia ini mengundang   duta-duta museum dari berbagai daerah. Menginap 4 hari di satu hotel dan datang bersama  mengenakan baju khas daerahnya masing-masing.
Kami berdoa dan mengumandangkan lagu  Indonesia raya bersama dalam gedung putih berpilar.  Di hangatnya cuaca politik saat ini, tentu membawa perasaan tersendiri yang sulit dilukiskan. 

Tamu kehormatan telah  membuka Cenara bertutup beludru hitam payet emas,  tanda acara dimulai.  Disusul tari Sulawesi  berbaju Bodo yang warna dan modelnya selalu bikin saya jatuh cinta.

Dulu, waktu aktif menari di Taman Mini Indonesia, Bapak  Ibu wanti wanti berpesan, tarian adat apa saja, boleh! Asal jangan tari Anging Mamiri dan tari Pendet. Haha...kuciwa!





Dirjen Pariwisata sebagai pembicara kedua setelah Kepala Musium mengatakan, kain tradisonal kita sudah mendapat pengakuan badan dunia sebagai warisan budaya. Tinggal pengakuan dalam negeri saja yang belum maksimal.

Sebisa mungkin ajak dan biasakan anak anak berpakain  tradisionil pada acara khusus keluarga. Pendidikan tentang warisan budaya pun penting dengan cara mengajak mereka ke pameran-pameran.

Waktu pejabat dan utusan daerah memasuki ruang pameran. Undangan media seperti saya dan teman-teman dipersilahkan menikmati hidangan dulu.
Eh ... Belum sampai meja hidangan, di dekat pilar sisi gedung ada Mbok-mbok gesit tengah meracik pecel Madiun dengan asesories kerupuk gendar dan rempeyek kacang.
Wah... Menu lain dengan perangkat  mewah itu kalah deh!
Yang bikin lengkap menariknya, berdampingan dengan pendopo mungil. Seorang guru berblankon siap ajari kami membatik.








Ruang Pameran

Begitu masuk, teman teman belia yang cantik ajak selfie dulu, Ok lah! Karna tak ada tongsis, jadi "Tongmas"saja! *Tolong Mas! 
Satpamnya baik hati, sangat sabar, kayaknya nggak sekali dua kali deh, diminta tolong.





Pada dinding pintu masuk, pengunjung disambut  foto foto tua bertema baju adat dan peralatan menenun sederhana.
Kalau boleh saya kelompokkan, pameran ini menampilkan  3 fase pembuatan  pakaian. Masa  kulit kayu, serat alami, lalu kenal kapas.

Baju kulit kayu semula polos, lalu tersentuh seni,  hasilnya... lukisan unik dengan warna asli dari tumbuhan membuat baju tak sekedar penutup aurat dan pelindung saja, tapi keindahan dan kebanggaan.
Berlanjut terus hingga muncul  bordir, payet, manik manik, sulam, di atas kain yang makin lama makin lembut.


Decak kagum saya pada tetua kita dahulu. Di tiap alur dan warna , bisa kita dapati   sifat penenun, suasana hati dan suasana alam di mana mereka  tinggal.
Menempa kulit kayu super kasar hingga jadi lembaran lentur tentu  butuh proses panjang dan kesabaran.
Maka berdiri diantara alat tenun dan sampiran kain, seperti melihat kelincahan jemari perempuan rumahan yang taat, sabar dan punya cita rasa rasa seni tinggi.

Stand-stand cerah bersinar menyoroti busana kulit kayu, tenun ikat. Tenun Sederhana,  Lompat Lungsi, songket, Batik, Tapis, Jumputan, Sulam dan Aplikasi. Duh, pengen ngeborong aja bawaannya. *Baju kayu,nggak.

Masing masing punya filosophi, sejarah, dan peruntukkannya. Bicara Tenun saja ada 26 macam. Belum  bicara Batik yang sama sama dari Pulau Jawa tapi banyak beda. Pembahasan panjang, jadi si museum nggak mau repot, tinggal kasih buku tentang Kain dan putar film dokumenter kain nusantara di stand sudut. Jadi, ngasih saya PR nih, Pak?





Sepinya Museum Di Daerah

Habis sholat zuhur sempat diskusi santai dengan salah seorang ibu, pejabat museum Sumatra Barat.
Sejak benda asing bernama internet muncul, toko buku banyak gulung tikar, museum di daerah kurang menarik untuk dikunjungi, sepi, berdebu.

Sudah waktunya bikin  acara yang tak biasa, supaya pelajar tertarik mengenal peninggalan sejarah dan budaya, bukan sekedar membaca permukaannya  melalui ebook.

Mustinya...*Sok tau deh!  Museum menggunakan tehnologi canggih dalam eventnya. Seperti anjungan Ramayana atau Hello Kitty di wisata Dunia Fantasi.
Sambil berperahu, pengunjung dibawa ke alam fantasi,  masuk ke kerajaan Majapahit, ketemu suasana perang (Teatrikal)  lalu menggema sumpah Gajahmada. Ngayal dulu 

Nonton Film Durasi Panjang







Ruang auditorium berdampingan dengan Bazaar handy craft. Di ruang sejuk itu  peserta disajikan film dokumenter "Toraja Melo", artinya Toraja yang Indah.Mengisahkan perjuangan Ibu Dinny Yusuf (Pendiri Torajamelo), merangkap aktifis perempuan yang mengangkat derajat kain tenun Toraja ke pasar Internasional.

Diawal sih semangat, karna dengar ceramahnya Dr.Harry Widianto (Direktur Pelestarian Cagar Budaya) tentang tema seminar "Lestari Wastraku Lestari Negeriku".
Dengan santai kocak, ahli gigi tengkorak manusia purba ini menerangkan arti Wastra, yaitu Pelestarian Kain Tradisional yang bukan peninggalan bersejarah dalam bentuk benda saja, tapi juga non benda. Karna punya filosophi dan punya pengaruh psikologis. Tahun 2009  resmi diterima UNESCO.

Menyusul tayangan desa Toraja, perempuan dan ibu muda berjuang melempar kain tenun artistik ke pasar dunia sambil berkuat hati menghadapi mafia benang.

Cantik cantik corak tenun pada upacara pengantin, keagamaan, dan kematian. Siapa sangka, kesederhaan hidup di alam cantik itu menghasilkan kain bergengsi di Eropa.

Di tengah film, lebih banyak orasi dari pada actionnya. Peserta mulai letih. Tang ting suara cangkir dan harum kopi mbuyarkan konsentrasi. Apalagi bapak di sebelah saya sudah ambil serabi solo dan aneka rebusan.

Ingat, kan? Otak kita menghasilkan biokimia yang namanya endorphin. Dia terlibat dalam proses belajar dan mengingat di fase antara alfa dan Theta. Kalau kelamaan konsentrasi, kondisi gelombang otak jadi nggak menentu. Hihi, bilang aja mau ngopiii.

Oh iya,tau arti  corak batik ini ??

 Image result for batik tema awan


Dari pak Doktor tadi, saya baru tau, ini batik Mega Mendung asal Cirebon. Pesan batik... "Semoga Ada Perdamaian" . Manusia harus mampu meredam amarah dalam situasi apa pun.

Hmmm, seperti pekat awan yang menyimpan gumpalan es, kali yaaa.. Manusia di bumi nggak pernah bisa lihat prosesnya sampai jadi hujan yang menyejukkan dan manfaat bagi orang banyak. So, tahanlah amarah demi kebaikan. *Yang terahir ini ngarang bebas.

Begitulah hasil kunjungan saya...
Detil kain dan fungsi museum, saya tulis di lembaran lain saja, deh!
Nanti bacanya keburu boring.

Yang asik sih, datang saja ke pameran! Sampai tanggal 20 November,kok.
Nanti ada workshop membatik dan jumputan. Pameran ini akan membuka wawasan, selain meningkatkan  pemahaman serta kecintaan masyarakat hususnya generasi muda terhadap kekayaan budaya nasional, spesifiknya kain tradisional.




"Lestari Wastraku Lestari Negeriku".