Friday, 29 January 2016

Kenapa Takut Bicara Mati?


Ini resume dari buku "Hidup Sesudah Mati"   yang sahabat saya (Milly) kirim untuk saya. Semoga bermanfaat dan jadi ladang amalnya. Tulisannya ada di sini

****

Ketika Rasulullah ditanya tentang mati dan kehebatannya, maka Rasululah menjawab:

"Seringan-ringannya mati adalah seperti duri yang melekat pada lembaran kain wol. Apabila duri itu dicabut, pasti wolnya terbawa"

Sekali waktu pernah ngobrol dengan teman-teman  sebaya tentang orang orang yang sudah meninggal, lalu  merambatlah ke soal kematian. Salah seorang tiba tiba complain

"Udah dong, ganti topik. Jangan ngobrolin soal mati!"

Kenapa orang takut membicarakan kematian?

Menurut  Bey Arifin, pertama karna kurang atau tidak adanya ilmu pengetahuan tentang mati. Seolah kematian adalah kegelapan.  Padahal di depan kematian, itulah kehidupan yang sesungguhnya. Baru terasa dunia cuma permainan menggoda.

Kedua, karna sudah terlanjur asik dengan dosa/maksiat. Berpisah dari kegembiraan adalah kesengsaraan. Selain itu bashirahnya tak bisa berdusta, di alam yang baru harus bertanggung jawab atas kenikmatan semu.

Ketiga, boleh jadi ia masih asing dengan khaliqnya. Enggan bertemu dengan khaliknya lewat sholat. Maka  hatinya sudah merasa bahwa Allah pun enggan bertemu dengannya.

Bagi orang berilmu dan yakin akan hidup sesudah mati, perbekalan mati sudah disiapkan. Letihnya  menahan nafsu, Sabar ujian hidup, ingin segera ia petik hasilnya. Tak takut mati bila Allah mengambilnya dalam keadaan rindu, pasrah, tetap dalam iman.

Sebagaimana  doa yang Allah ajarkan kepada Nabi Yusuf

"Ya Tuhan Pencipta Langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku  dalam keadaan islam dan gabungkanlah aku dengan orang orang shaleh" 
(QS Yusuf 101)

Bila mati dikatakan suatu peristiwa yang paling hebat dan pasti terjadi pada setiap diri manusia,  maka melupakan mati adalah satu kebodohan.
Mengingat kematian amat perlu, supaya kita tak buang buang jatah umur, mau  berbuat baik untuk anak istri, dan semangat membela ummat /agama.

Ada cara agar mudah mengingat mati. Sering seringlah menjenguk karib kerabat yang sakit, mengusrus jenazah, mengantarnya ke kubur, dan rajin mendoakan mereka.

Kehidupan Setelah Mati

Menurut ajaran Islam terbagi ke dalam 5 periode

1. Periode menunggu, yaitu masa sesudah meninggal dunia sampai terjadinya kiamat besar. Semua mahluk Allah binasa, kematian total! Periode menunggu ini dinamai Alam Barzakh atau alam kubur.

2. Periode Peralihan, yaitu berakhirnya dunia ini lalu berganti dengan akhirat. Kejadian ini dinamakan Qiyamat Akbar, kiyamat besar. Sunyi sepi selama 40 tahun lamanya. Tak ada bunyi, tak ada suara, tak ada yang bergerak, tak ada hembusan angin.

3. Periode Kebangkitan, semua yang telah mati tadi dihidupkan kembali. Berapa banyaknya manusia sejak kelahiran Adam hingga akhir zaman? Hanya Allah lah yang tau. Anggota tubuh mereka lengkap kembali. Inila Kebangkitan Masyhar.
Kira kira 40 tahun lamanya  mereka menunggu lagi, kejadian apa selanjutnya?

Masa menunggu membuat mereka panik, letih, lesu , dahaga, lapar, dan panas. Kecuali bagi beberapa golongan manusia istimewa karena dapat perlindungan dari Allah swt.

4. Periode perhisaban. Akan dihitung semua perbuatan, perkataan. Dari masalah kecil hingga besar. Ini hari pengadilan yang prosesnya mirip dengan pengadilan dunia. Tapi hanya Allah hakimnya! Tanpa hakim pengganti atau hakim anggota.

Seluruh manusia dan jin menjadi terdakwa, para malaikat sebagai jaksa penuntut. Sedangkan para Rasul dan nabi menjadi pembela.

5. Periode pembalasan. Tak sedikit pun kezaliman  yang tak terbalas. Semua hak dikembalikan kepada pemiliknya.

Jika ada pertanyaan begini...
Kenapa sih, Allah sudah capek capek bikin alam dan seisinya, lalu dihancurkan? Jika Allah maha sayang, kenapa tak kembalikan saja hambaNya tanpa proses mati dan hisab yang menyakitkan?

Di buku ini ada uraian, betapa lebih menyakitkan bila tak ada  mati dan hisab.
Di daerah Potemon, Surabaya, beberapa tahun silam. Seorang nenek melarat punya beberapa cucu kecil-kecil dan yatim.

Di belakang gubug kecilnya ia menanam kacang. Jika panen, kacang itu direbus lalu si nenek menjualnya ke pasar. Hasilnya cukup untuk beli beras, sayur dan lauk pauk. Namun naas, seorang pemuda merampas uang, hingga nenek pulang dengan tangan hampa. Jadilah nenek dan cucu lapar sepanjang hari. Sementara si pemuda dapat masuk ke warung sate, makan enak dengan uang rampasan.

Berjalannya waktu si pemuda dan nenek pun  meninggal dunia.
Menurut pikiran anda, mungkinkah keduanya menjadi tanah dan tak ada persoalan? Yang merampok dan korban rampok sama sama jadi tanah, dan tak ada apa apa di kemudian hari?

Menurut pikiran yang sehat dan sadar akan Kebesaran dan Kebijaksanaan Allah yang telah menciptakan dan menghidupkan kedua insan itu, yakin bahwa keduanya akan diperlakukan Allah sesuai dengan perbuatan mereka selama di dunia.

Kehidupan sesudah mati dan hisab amat diperlukan untuk menegakkan keadilan, mengembalikan semua hak yang terlanggar.

Masih banyak contoh lain,bukan? Banyak koruptor pemakan harta orang tertindas, banyak yang tak menerima hak waris karna keserakahan, anak kecil yang tak berdaya di siksa keji, bayi lemah di bunuh  sebelum ia sempat menghirup udara. Bahkan para Nabi dan Rasul pun di bunuh!

Apakah adil, jika semua hamba kembali dengan aman, lalu dapat kelezatan syurga tanpa perhitungan?
Jadi kematian memang menakutkan, tapi kehidupan sesudah mati adalah harapan bagi orang yang sudah berpayah payah menjaga taqwa dan harapan bagi penuntut keadilan.

Wallahu a'lam...(Bersambung)














4 comments:

  1. terima kasih diingatkan ya mak...
    menarik banget cara menjelaskannya

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah jika manfaat, terimakasih hadirnya mbak Dessi yang cantik :)

    ReplyDelete
  3. memang perlus selalu diingatkan agar kita siap ya mba..

    ReplyDelete