Wednesday, 20 January 2016

Merasa Takjub




Jangan biarkan diri  didikte oleh kebiasaan rutin, pengulangan setiap hari, gerak yang sama, melewati tempat yang sama, berjumpa dengan orang yang sama, hingga menumpulkan indera kita. Melewatkan hal indah disekeliling kita, lama lama si takjub memudar. Seperti makan kue diirisan ketiga, semua jadi biasa...

Saya melihat "Takjub" seperti melihat hadiah, rejeki ! Perasaan terpana hingga kita diliputi oleh emosi yang sulit untuk dijelaskan.

Takjub di masa kanak-kanak  datang dari hal hal sederhana.
Seperti yang saya ingat, di perjalanan jauh, Bapak membawa saya mendekati jendela mobil, nampak istana putih megah dikelilingi rumput hijau segar. Rusa berjalan tenang, merumput dengan leluasa. Ketakjuban pertama!

Demikian seterusnya, rasa itu terlatih lalu mendorong semua indera untuk mencari. Ada di daun melayang lalu jatuh perlahan, deru ombak, merasakan lembut  pasir disela jemari, berdiri di antara kebun teh, bunga-bunga pegunungan, dan tau bahwa ada udara sejuk yang beda dengan suhu rumah.

Takjub adalah perasaan yang membuat kita benar-benar merasa hidup, badan yang kecil ini ternyata bagian dari sesuatu yang lebih besar!

Semakin tambah usia ketakjuban bertambah bentuk. Tak hanya lewat alam, warna, puisi, lagu, lukisan dan wewangian saja. Di tempat  kereta sesak tak nyaman  saya  terpana melihat seorang gadis belia membaca quran kecil yang lembarannya sudah bergelombang sambil bergelantunngan. Penarik becak yang menyelipkan pakaian terbaiknya untuk sholat. Atau pernah saya lihat di sisi tempat sampah besar, ada bocah tengkurap di sehelai plastik membaca majalah anak anak bersampul kotor hasil temuan ayahnya yang masih sibuk cari rongsokan.

Kalau saya ceritakan pada Bapak, akan meleleh air matanya. Dengan suara dari pilek dadakan dia pasti bilang "Itulah romantika hidup,nak!"

Ketakjuban selalu ada, kita adalah bagian dari seni atau syair hidup di planet bumi.
Dan setiap  ketakjuban yang kita rasakan memberikan kita kilasan rahasia tentang makna kehidupan.

Kapan terakhir Anda merasa takjub?




No comments:

Post a Comment