Saturday, 27 February 2016

Agar Mampu Melawan Fitnah




Pusing ya, semakin banyak baca, semakin banyak pertanyaan memenuhi rongga fikir kita. Mana kebenaran, mana yang fitnah, samar terlihat.

Pengertian fitnah dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia  sangat berbeda. Dalam bahasa Arab yang diambil dari 13 surah,  ada 13 arti fitnah. Kalau ke 13 itu dilebur ke dalam bahasa Indonesia, maka intisarinya

"Segala sesuatu yang tadinya tidak ada, menjadi ada"

Hasil googling saya, ketemu  Tafsir  Jami'ul Bayan yang menulis, kelak akan terjadi syubhat  atau kesamaran antara kebenaran dan kebathilan. Istilah bahasa Jawa, Wong ngerti mangan ati ,Sing suwarane seru oleh pengaruh.
Ada juga yang mengibaratkan, Orang jahat naik pangkat, orang yang lugu dibelenggu, orang yang mulia dipenjara.

Fitnah berawal pada lalainya menjaga lidah. Kalau era globalisasi sekarang, sumbernya bisa pada gambar dan tulisan. Mereka lebih tajam menyakitkan  dari beribu pedang yang tertuju ke satu jantung.

Banyak dosa lisan kita dalam satu hari, keluar begitu saja tanpa rasa karna dianggap biasa. Padahal dampaknya besar bagi orang lain. Untuk menyelamatkan lidah,  Ustad  Zainal Abidin LC. menasehati...

"Tak semua pemikiran harus dikomentari, dan tak semua komentar harus dipikirkan"

Kata kata sederhana itu sangat membantu.  Mengingatkan saya bahwa dengan diam, paling tidak kita bisa menyelamatkan hati dan keadaan.


Ah, saya jadi ingat kisah ini ...

****

Seorang santri mendatangi Kiai yang amat disegani. Dengan sangat hati hati si santri bilang,

"Kyai, ajarkan saya sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan  saya"

Kiyai tersenyum, "Apa kamu bersungguh-sungguh?" Dijawab santri dengan anggukan yakin. "Ya Kyai!"

Kiyai diam sesaat, nampak berfikir seperti ingin memberikan doa-doa khusus buat muridnya. Apakah sebuah tips tirakat? Atau amalan tertentu? Pokoknya yang bisa menghapuskan catatan dosa, begitu bayangan santri.

Tapi ternyata kata-kata yang keluar dari mulut Kyai sama sekali tak relevan dengan bayangan.

"Apa kamu punya kemoceng di rumah?" Tanya Kyai

Hahhh?? Kemoceng, apa hubungannya? Tapi karna kyai benar-benar serius, ia menurut saja.

"Ya, saya punya,Kyai. Tapi apa yang akan dilakukan dengan kemoceng itu?"

Kyai tersenyum..."Kau akan belajar sesuatu darinya"

"Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku" Katanya,"Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu, ingatlah-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalan yang kau lalui.

Si santri mengangguk. Barangkali maksud kiyai agar ia dapat merenungi kesalahan-kesalahannya dengan menjatuhkan bulu satu persatu. Maka kesalahan itu akan gugur diterbagkan waktu.

****

Keesokan harinya santri kembali menemui kiai dengan kemoceng botak yang tak sehelai bulu pun di tangkainya. Lalu ia serahkan pada Kyai.

"Ini Kyai, bulu bulu kemoceng sudah saya jatuhkan satu persatu sepanjang perjalanan saya, 5 kilometer dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang kyai yang sudah saya ceritakan pada banyak orang. Maafkan saya kyai... maafkan saya!"

Sang kyai mengangguk angguk sambil tersenyum. Dada santri mengalir rasa hangat dan tenang di raut mukanya.

"Aku sudah memaafkanmu, seperti yang kukatakan kemarin. Barangkali kau hanya hilaf dan hanya sedikit mengetahui tentang aku. Tapi kau harus belajar sesuatu..." Katanya

Santri terdiam mendengar perkataan yang lembut menyejukkan itu.

"Kini , pulanglah!" Kata kyai

Baru saja santri berniat pamit dan mau mencium tangannya tapi kyai melanjutkan.

"Pulanglah dengan berjalan kaki  melalui jalan tadi"

Santri terkejut mendengar permintaan itu. Apakah ini syarat berikutnya?

"Disepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu bulu kemoceng yag tadi kau cabuti. Esok hari laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang dapat kau kumpulkan!"

Santri terdiam...

""Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini" Tutup Kyai.

****
Sepanjang jalan pulang santri berusaha mengumpulkan bulu. Hari yang terik, perjalan panjang melelahkan, betapa sulit menemukan bulu yang sudah terbang tertiup angin, atau menempel di kendaraan menuju kota jauh, atau tersapu kemana yang tak diketahui.

Tapi ia harus menemukan, mecari di setiap sudut jalanan, ke gang gang sempit,ke mana saja! Ia terus berjalan.

Setelah berjam jam, ia berdiri di depan rumahnya dengan baju basah keringat.Hari menjelang petang, hanya ada 5 helai yang berhasil ia kumpulkan.

Keesokan harinya dengan wajah murung ia temui Kyai lagi, dan menyerahkan 5 helai bulu kemoceng.

"Hanya ini yang berhasil kutemukan,Kyai"

Kyai terkekeh "Kini kau belajar sesuatu!"

"Apa yang kupelajari Kyai? Aku benar-benar tak mengerti"

"Tentang fitnah-fitnah itu" Jawab Kyai.

Tiba tiba santri tersentak, dadanya berdebar, kepalanya berkeringat.

"Bulu bulu yang kau cabut dan jatuhkan disepanjang jalan adalah fitnah yang kau sebarkan. Meski pun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah itu telah menjadi bulu yang berterbangan entah ke mana.
Bulu bulu itu adalah kata katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak bisa kau duga duga. Ke berbagai wilayah yang tak kau bisa hitung!"

Santri menggigil mendengar petuah itu. seolah ada tabrakan pesawat di kepalanya. Banyak mata pisau menghujam dadanya. Ingin ia menangis sekeras kerasnya sambil memotong motong lidahnya.

Kyai melanjutkan...

"Bayangkan salah satu fitnah itu kembali pada dirimu. Barangkali kau akan meluruskannya, tak ingin mendengarnya lagi, tapi kau tak dapat menghentikan.
Kata katamu tersebar diluar kendalimu. Tak bisa dimasukkan dalam kotak atau dikubur dalam dalam. Tapi angin mengabadikannya"

"Fitnah fitnah itu telah menjadi dosa yang terus menerus beranak pinak tak berujung hingga kau wafat. Agama menyebutnya sebagai DOSA JARIAH, diluar kendali pelakunya. Mereka kelak akan jadi pemberat timbangan keburukan"

Santri menangis hebat sambil mengucapkan astaghfirullah berulang ulang.

"Kini , kau telah belajar sesuatu...Fitnah itu bukan hanya  tentang dirimu dan orang yang kau sakiti, tapi lebih luas lagi. Demikianlah anakku..."

Kyai mengatakan kalimat akhir dengan berbisik. Sebagian pipinya basah air mata.




















9 comments:

  1. Ulasannya dalam mba, makasih sudah diingatkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sama ,Mbak Nefer yang baiik. Senang dikunjungi. Kita saling mengingatkan dan saling doa yaa..

      Delete
  2. Replies
    1. Mbak Memes, salam kenal. Terimakasih ya, sudah mau hadir. :)

      Delete
  3. Dan saatnya meraba diri sendiri, tanpa sadar kitapun acapkali melakukannya. Semoga Allah melindungi kita ya mba. Terima kasih sudah diingatkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin ya Rabbal 'alamiin..Terimakasih doanya. Salam kenal Mbak Yuli :)

      Delete
  4. terkadang kesadaran itu muncul setelah terlihat semua efeknya...
    semoga kita selalu bisa menjaga ucapan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin ya Rabb... terimakasih doanya,yaa. Salam kenal Mak Nova, dan terimakasih sudah berkunjung.

      Delete
  5. Tulisan yang sangat mencerahkan, Mak. Ini jadi pengingat juga buat saya, barangkali ada lisan yang tak terjaga, dan mungkin, itu menyakitkan bagi sebagian orang. Meski kadang, kerap kali Allah pun selalu menunjukkan kabar-kabar yang datang, yang isinya sungguh menyayat hati. dan seperti tulisan mak Mutia, Barangkali seseorang yang menghembuskan kabar buruk tentang saya pun, dia hanya hilaf dan hanya sedikit mengetahui tentang saya. :)
    Semoga kita terus belajar dan mengambil makna dari setiap kejadian yaa. #ThankYouILearn

    ReplyDelete