Sunday, 14 February 2016

Anti Nama Itu





Ayu Ting Ting  dapat alamat palsu?

Bisa jadi bukan palsu! Tapi alamat yang dicari pakai nama pejuang! Sebab kalau kita keliling Indonesia, nama jalan dengan memakai nama pahlawan  yang sama bertebaran di mana-mana.

Memakai nama pahlawan semata mata karna ingin mengenang dan mencontoh semangatnya.
Nama jalan adalah identitas suatu wilayah, dan  berpengaruh terhadap psikologis penduduk.Ia merupakan identitas publik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dari sana terpatri  rasa  bangga.


Jangan coba coba mendadak ganti nama jalan. Buktinya tidak sukses rencana mengganti nama jalan wilayah istana presiden dari nama Jalan Merdeka diganti dengan jalan Soekarno-Hatta.
Jadi,  tidak tepat kalau soal alamat disandingkan dengan istilah "Apa arti sebuah nama?"


Tapi ada lho, masyarakat  yang menolak satu nama pahlawan untuk nama jalan! Padahal pahlawan itu punya jasa besar dan banyak dikenal orang. Kota Bandung menolak nama Gajah Mada. Kenapa?

Ceritanya begini...
Jaman baheula kan ada 2 kerajaan super power di Nusantara ini, yaitu kerajaan Majapahit dan Pajajaran. Tahun 1350 mereka berperang. Raja Mapahit waktu itu Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada. Sementara Kerajaan Pajajaran di pimpin Prabu Maharaja Laingga Buana.
Konon perang ini di latar belakangi masalah Cinta dan dendam.

Ada satu lukisan yang dilukis diam diam oleh seniman besar kala itu. lukisan gadis cantik bernama Diah Pitaloka Citaresmi, putri Raja Lingga Buana. Lukisan itu  membuat Raja Hayam Wuruk jatuh cinta.Timbul niat sang raja ingin mempersunting gadis itu.

Kalau lihat silsilah, sebenarnya Raja Hayam Wuruk juga masih berdarah sunda. Sebab pendiri kerajaan Majapahit yaitu Raden Wijaya adalah keturunan Dyah Lembu Tal  yang bersuamikan Rakeyan Raja Darma, adik Raja Kawali bagian dari kerajaan Pajajaran.

Hayam Wuruk membayangkan, alangkah indahnya bisa menyatukan 2 kerajaan besar, karna perkawinan. Setelah mendapat restu keluarga kerajaan, maka dikirimlah utusan  untuk menyampaikan surat kehormatan sekaligus lamaran pada raja Pajajaran . Ia mengusulkan agar perhelatan perkawinan  dilaksanakan di kerajaan Majapahit.

Dewan kerajaan Sunda sebenarnya  keberatan, karna dianggap  tak lazim bagi adat Nusantara pada waktu itu, pengantin pria harusnya yang mendatangi dan melaksanakan pesta di tempat pengantin wanita.

Meski ada yang menentang, Maharaja Linggabuwana tetap memutuskan berangkat setelah mendengar dari ibunya sendiri Tribuawana Tunggal Dewi akan silsilah hubungan darah. Pergilah rombongan ke Pasanggerahan, suatu tempat yang telah disepakati.

Sang Patih  Salah Paham

Patih Gajah Mada sang  penasehat yang saat itu amat dibanggakan raja,rupanya salah mengerti. Ada juga buku sejarah yang menulis, sang Patih bisik bisik pada raja agar  rombongan yang datang itu dianggap telah tunduk di bawah panji Majapahit. Sebab Sumpah Palapa telah terucap, bahwa akan menyatukan seluruh kerajaan nusantra. Beliau mendesak  Raja menerima putri Citra resmi bukan sebagai calon istri, tapi tanda takluk

Raja bimbang , dalam kebimbangan dan belum ada keputusan, telanjur pecah  perselisihan antara Patih dengan rombongan pengantin wanita. Pasukan Bahayangkara di pimpinan gajah Mada sudah berangkat ke Pasanggrahan. Pasukan mengancam, rombongan itu harus mengakui superioritas Majapahit.

Merasa dihina dan dibawah tekanan, murkalah Raja Linggabuwana. Pasukan Balamati yang berjumlah sedikit rela mati demi harga diri. Peristiwa berakhir dengan gugurnya  Raja dan para pembesar. Kebahagiaan perayaan besar akhirnya tak terwujud. Pasukan Balamati dari Sunda cuma rombogan penngantin, teramat sedikit  untuk  melakukan perlawanan pada pasukan yang memang sudah siap perang.

Raja Majapahit amat murka, utusan Dharmadyaksa yang saat itu ada di kerajaan untuk menyaksikan pernikahan di utus untuk menyampaikan permohonan maaf kepada pejabat sementara Sunda,Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Tapi sia-sia, hanya ada kemarahan dan korban perang.

Peristiwa itu membuat hubungan kedua kerajaan renggang. Sejak saat itu  di Sunda berlaku larangan kawin dengan rakyat kerajaan Majapahit. Dendam itu terbawa hingga ke pelarangan memakai nama jalan. Apalagi nama Gajah Mada.

Hadeeehh... sampe segitunya yaa...!
Tapi para moyang kita itu tidak pernah tau, bahwa satu saat  Sunda bisa menerima nama itu dengan lapang Dada dan suka cita. Bukan nama jalan sih ... Tapi nama Bak Mie Gajah Mada asal Jakarta yang baru buka cabang di sana.

Akh ... jadi ngebayangin semangkok mie ayam ngebul dan sepring pangsit goreng!

*Tulisan ini untuk mengikuti Giveaway.












10 comments:

  1. Makanya ada mitos, larangan menikah orang Sunda dengan orang jawa, katanya pasti terpisah nantinya, Ini dilatar belakang runtuhnya Majapahit hanya karena seorang wanita cantik Diah Pytaloka, makanya nama Gajah Mada dilarang di Bandung sebaliknya, nggak ada ya... nama raja Pajajaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum tau tuh,Mbak... Kalau nggak ada berarti sama sama dendam dong yaa..:)

      Delete
  2. Wah, baru tahu cerita ini. Nama besar Gajah Mada ditolak di tanah Sunda hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha...jadi tak selamanya nama pahlawan itu harum yaa....:)

      Delete
  3. oo gitu ya, ternyata pernah terjadi kerenggangan. Ada nggak ya di buku sejarah beginian. Tuh, endingnya ^^ emang kuliner mampu mempersatukan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga baru tau kisahnya, Mbak Lidha :)

      Delete
  4. Iya, dulu aku sering denger cerita sejarah ini, org Sunda dilarang nikah sama org Jawa, krn ga bakalan cocok katanya :D
    Tp org jaman skarang ga mentingan hal itu lg ya. Hehe

    Makasih ya mak Mutia udah udah ikutan GAku ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih juga ya, Mbak Melly... Sudah memberi kesempatan :)

      Delete
  5. Setau saya orang bilang perempuan Sunda dilarang nikah sama laki-laki Jawa Timur, bukan Jawa Tengah(an) gitu mak.

    Etapi dulu suami saya yang orang Jawa Timur pas kuliah di Bandung punya pacar orang Sunda nggak direstui sama ibunya. Karena alasan tadi. Betulan ada ya yang begitu. Etapi itu karena bukan jodohnya aja kali, kalau jadi ya saya nggak jadi nikah sama dia dong. Hahaha

    ReplyDelete