Friday, 12 February 2016

Pikiranmu Tidak Benar


Waktu Bogor bebenah kota, taman cantik di mana-mana. Kolong jalan layang tadinya becek, dekil, kosong, sekarang jadi hijau, bersih, dindingnya berlukis tema alam, separuh tumbuhan merambat, mampu mencegah tangan Vandalist.

Tapi apa komentar orang yang saya temui di kendaraan umum? Mereka menggerutu... "Pemda harusnya jangan urusi taman dulu! Jalan masih banyak yang bolong-bolong kok! Gimana sih??"

Padahal itu cuma pikiran mereka saja, mereka tidak tau pemerintah Jepang menyumbang dana 400 milyar khusus untuk lingkungan alam kota Bogor,bukan jalan.

Saya pernah berfikir salah. Waktu menjaga anak di Rumah Sakit, saya pinjam gelas pada suster. Baru sebentar pinjam, beberapa saat kemudian dia  cari cari saya sampai ke apotik cuma mau minta kembalikan gelas. Gerrah dong! Masak sih, perkara gelas doang sampe segitunya??

Akhirnya baru tau setelah anak saya yang belajar management hotel bilang. Memenej peralatan Rumah Sakit itu sama dengan Hotel. Setiap barang ada penanggung jawabnya. Petugas sip1 harus tepat waktu  menyerahkan barang dengan jumlah sama pada petugas sip 2.

Tapi saya juga pernah jadi sasaran orang yang berfikir salah.
Sejak gadis saya tak pernah jatuh cinta apalagi berniat punya pasangan seniman, meski demikian saya suka puisi! Karya siapa pun saya cari dan baca! Setiap puisi punya sajian sendiri sendiri yang sama nikmat. Lalu ada seseorang bilang saya jatuh cinta pada  penulisnya, lhaaaa kok gitu?  Salah benerr dan bener bener salah!!

Tak apalah! itu sih, masalah kecil. Saya anggap angin  lewat saja.karna mau dibuktikan dengan apa?

Yang berat waktu saya mengantar Bapak ke Rumah Sakit. Kaki beliau sudah tak kuat, tapi bersikukuh tak mau di tuntun, dan menolak kursi roda! Terpaksalah saya jalan perlahan ikuti maunya.

Problemonya, dari kecil sampe tua begini, bapak selalu menyuruh 5 anak perempuannya berjalan di depan. Paling anti membelakangi anak !
Nah, jadilah sepanjang jalan orang memandang. Bisik terdengar, saya anak yang tega membiarkan orang tua berjalan tertatih di belakang.
Haddoh!! Hari itu rasanya saya kayak putri durhaka, berjalan dengan dagu terangkat di depan orang tua lemah.

Kita tak pernah tau sesuatu terjadi  karna apa??
Menduga-duga sama sekali jauh dari fakta. Parahnya jika tampilan mendukung pemikiran salah.

Saat begitu  orang lebih suka  cari  PEMBENARAN, bukan KEBENARAN (Yang haq).







No comments:

Post a Comment