Monday, 1 February 2016

Yang Terjadi Setelah Kematian

Lanjutan dari tulisan sebelumnya , di sini, dan di sini

Apa Yang Terjadi Setelah Kematian?

Yang terjadi adalah , semua  ruh-ruh berkumpul di Alam Barzakh (Alam Penantian).
Menurut Ibnu Qayyim, ruh ruh itu tidak sama kedudukannya. Masing-masing  sesuai dengan amal perbuatan di dunia.

Tempat yang tertinggi adalah disediakan untuk para Nabi dan Rasul. Dan di antara mereka pun ada tingkatan-tingkatannya atau derajatnya, seperti yang Rasulullah SAW saksikan pada saat Mi'raj

 Ada ruh yang diumpamakan burung burung hijau yang berterbangan , yaitu ruh ruh para syuhada. Namun ada yang masih tertahan di pintu, karena hutangnya di bumi belum terlunasi. Bahkan ada mujahid yang tempatnya di Neraka karna ia  mencuri harta ghanimah (Harta Rampasan Perang), padahal yang dicurinya cuma 1 lembar pakaian.

Dalam surat Al-A'raf  , Allah memberi gambaran, bahwa ruh ruh yang  baik sesudah bercerai dari jasad, di alam barzah ini mendapat bentuk dan rupa seperti di dunia. Mereka saling bergaul dan berkasih sayang lagi.
Dan ruh penentang Allah, akan tersiksa tak putus putusnya selama menanti hari akhir (Kiamat). Fisik menderita, tapi lebih menderita lagi perasaan menyesal.

TERJADINYA KIYAMAT

Kiamat adalah kejadian maha dahsyat yang pasti  terjadi. Sehingga Allah memberinya beberapa nama.

- Al Haqqah               (  Sesungguhnya  yang Pasti Terjadi)
- Al-Qaari'ah              ( Sesuatu yang mengguncangkan)
- Al Faz'ul Akbar       ( Kegemparan yang maha dahsyat)
- Al-Zalzalah              ( Kegoncangan bumi)

Orang beriman tak bersedih hari itu,  karena mereka sudah ditemani dan dihibur malaikat sejak di kubur. Mereka juga  tak khawatir karna sudah memegang janji Allah.

Hari itu semua baru merasa betapa  singkatnya hidup di bumi. Bagi orang bercatatan baik, ia menyesal mengapa tak berbuat kesalehan lebih bayak lagi? Sebaliknya bagi pendosa, ia meyesal mengapa tak pandai menggunakan waktu?

Bila ditanyakan pada si miskin, apakah penderitaannya di dunia panjang? Dia menggeleng.
Si kaya  tertunduk, kebahagiaan menikmati harta ternyata seperti sehari saja. Dan untuk mendapatkan harta itu ia korbankan kebahagiaan akhirat.

Melihat Wajah Allah

Setelah melewati tahap goncangan dahsyat , mizan,  shirot, dan puncak kenikmatan syurga sudah di dapat, maka puncak bahagia  akhirat adalah menatap wajah Allah.
Jika di bumi Nabi Musa pingsan meliat sebagian kecil cahaya Allah dan isi jagat bisa terbakar bila melihatnya, maka di hari akhir ini, melihat cahaya Allah adalah kesenangan.

*******

"Wahai yang janji dan ancaman Allah tidak berpengaruh dalam dirinya, tak bergeming oleh ancaman dan peringatannya. Wahai yang terlepas bebas, kau akan dirantai dengan tanganNya, setelah itu kau akan lenyap  usang.  lalu tercipta lagi

"Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah kami akan mengulanginya"....

"Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya".

Kematian mencerai beraikan yang kita satukan, mengoyak oyak yang kita tinggalkan, setelah itu kebangkitan berkuasa. Berapa banyak penyesalan di hari penyesalan? Kita susah payah membangun dan memperkuat, akhirnya  runtuh di batas waktu

."Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya"



Hari penuh huru hara yang menakutkan! Kesibukan yang berbeda dari segala kesibukan. Hati nurani terguncang mencengangkan akal. Tak ada lagi yang memanggil nama anak-anaknya.


Air mata deras berderai, orang berdosa resah gelisah, ingin kembali ke dunia. Sekali kali tidak!
Sungguh celaka orang yang dimurkai. Rabb tak ingin melihatnya.

 Pada hari itu semua raja tertunduk, yang terbelenggu susah lepas. Sementara bagi  hamba mukmin berhati taqwa. Itulah hari rayanya.

Saudara-saudaraku, kembalilah dengan kerinduan dan taubat yang baik. Basuhlah dosa-dosa lampau dengan air mata. Tak mengapa kita puasa di sini, asalkan bisa berbuka di sana...

(By.Ahmad Musthafa  Mutawalli)






1 comment: