Thursday, 31 March 2016

8 Hari Sebelum Ajal Menjemput



dnamoraGA



8 hari  tentu terlalu singkat untuk menyiapkan diri menerima kedatangan maut. Penyesalan tak dapat menebus tersia-sianya nikmat waktu.
Maka saya menghadapinya seperti Rasulullah menghadapi akhir ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya.

Singkirkan air mata di siang hari agar tercapai rencana kebaikan. Biarkan dia menurun deras saat bermunajah di pekat dan sunyinya malam.
Saya akan mengemis mengakrabkan diri dengan Allah , berharap agar sayalah yang Allah panggil..."Yaa Ayyuhannafsul Muthmainnah" ( Wahai orang-orang yang berjiwa tenang)

Waktu yang tersisa akan saya pergunakan dengan cerdas, agar terpenuhi semua Hak Allah dan Hak sesama manusia.

Saya tau siapa yang akan menjemput 8 hari lagi, dan saya tau musuh besar saya yang pandai membuat ranjau itu akan memanfaatkan waktu sempit dengan sebaik baiknya pula. 

Ini rencana saya...

Hari Pertama Saat Menerima Kenyataan

Sesuai anjuran Rasul, sholat dua raka'at apabila ditimpa musibah.
Kematian adalah qiamat kecil, maka dalam menerimanya saya butuh kekuatan dari  Allah yang paling mudah ditemui kapan saja.
Saya akan berdoa kepada pemilik nyawa dan nafas.


Ya Rabb...
Hamba terima keputusanMu, meski sebagai hamba dhoif pasti ingin meminta lebih jatah waktu.
Apalah daya hamba yang hanya bermodalkan doa dan air mata.
Segenap penyesalan ada di punggung, karna menyia-nyiakan nikmatnya waktu.
Ampuni hamba  yang sudah berbuat zalim.

Wahai Yang Maha Pengasih diatas segala yang pandai mengasihi.
Segala pujian naik padaMu, terimakasih atas kenikmatan yang Engkau beri.
Maafkan, hamba tak pandai  bersyukur.

Ucapan istighfarku diujung usia ini pasti tak mampu menyucikan catatan dosaku.
Namun Engkaulah pemilik waktu, jadikan kalimat itu panjang dan luas menurut hitunganMu.

Jika memang 8 hari jatahku, Ku mohon ya Rabb
Cukupkan waktu itu untuk memenuhi hak-hakMu dan hak HambaMu.
Jangan biarkan hamba membawa penyesalan setitik pun!
Dan jadikan 8 hari ini menjadi buah bibir yang manis.
Bantu hamba ya Rabb ... Laa haula walaa quwwata illa billah.



Setelah sholat selesai, sudah barang tentu suami yang pertama kali saya ajak bicara. Dengan penuh kesungguhan saya minta maaf atas segala kesalahan. Berterimakasih atas cinta dan  perjuangannya dalam melindungi,  memimpin, dan membahagiakan saya dan anak anak.

Semoga ridhonya memudahkan perjalanan panjang saya. Entah berapa ribu tahun lagi kami akan bertemu, itu pun kalau ada izin Allah.

Saya akan bilang...
Hal apapun yang terjadi sat kebersamaan kami, baik  ucapan, pemikiran, dan tingkah saya yang tak mengenakkan,  sedikit pun tak ada  maksud  saya untuk menyakiti. Semua atas dasar kebodohan dan kelemahan semata.

Karna suami saya lebih sensitif dan mudah  menangis, saya akan menghiburnya dengan  satu bisikan.
Jika kami berdua sudah kuat, barulah anak anak  dikumpulkan untuk mendengar catatan nasib saya.

Hari pertama saja sudah berat, bagaimana hari selanjutnya?
Dengan tegar hati saya akan sampaikan kepada orang tua saya. Bukankah selain  ridlo suami, orang tua adalah pintu syurga ?
Saya minta doa , agar  tetap kuat dan tawakkal menjalani sisa waktu.

Hari Ke 2, Bersama Bapak

Tentu orang tua dan keluarga akan datang ke rumah saya. Pertemuan mengharukan karna melihat bapak yang renta bersedih. Tapi saya selalu ingat nasehatnya bahwa Allah di atas  segala, Dari Allah, bersama Allah,  untuk Allah.

Saya tak akan membiarkan banyak air mata, sebab ada amanat yang harus disampaikan.
Dengan berjuang melapangkan dada, saya ingatkan bahwa ini nikmat dari Allah, karna saya dapat warning. Apa jadinya bila Malaikat datang  tanpa memberi kesempatan berbuat apa pun?




Saya akan minta pembuktian sayang mereka dengan membantu  mengutamakan amanat dari Allah yaitu :

-Menyerahkan tugas saya di Yayasan

-Menyerahkan  buku Kas, buku daftar pekerjaan yang belum selesai, piutang orang,  dan  kartu ATM.

-Menunjukan catatan saya tentang pembagian waris sesuai dengan hitungan Allah.

-Pesan-pesan agar tata cara kepengurusan jenazah sampai pemakaman,bebas dari cara adat. Tak perlu mambuat indah makam, cukup nisan sederhana saja.


Terakhir, Saya hanya  ingin duduk berdua dengan Bapak.  Meminta ia menceritakan masa kecil saya yang  paling menarik di ingatannya.
Kalau tak membuat bapak bersedih, saya ingin merebahkan kepala di pangkuannya, membalas cerita tentang kebaikan kebaikan bapak yang selalu saya kenang.

Bapak harus tau, bahwa sudah saya ihlaskan bila ada kekurangan bapak dalam memenuhi hak anaknya. Doa ampunan sudah saya panjatkan bila bapak pernah melanggar larangan Allah demi sayangnya pada anak.

Hari Ke 3, Hari Pendelegasian:

Anak anak saya beri tugas, ada yang mensedekahkan barang barang milik saya setelah mereka dan keluarga dekat memilih barang mana yang mereka suka.

Anak lain membawa surat kepada perwakilan guru, dosen dan ustad ta'lim yang saya ketahui hanya alamat rumahnya saja. Semoga surat itu bisa jadi pesan berantai ke lainnya.

Sedangkan anak bungsu perempuan saya memeriksa barang barang di rumah.
Siapa tau ada buku atau barang pinjaman yang belum dikembalikan.

Sementara itu, saya menulis pesan di media sosial untuk semua sahabat. Tulisan singkat permohonan maaf dan minta doa mereka. Beberapa jam kemudian semua akun saya tutup.  Kecuali tulisan Blog yang mengandung kebaikan. Semoga jadi amal jariah.

Perlengkapan pengurusan jenzah dan tanah makam sudah lama siap, karna kami sekeluarga masuk anggota yayasan kematian.

Tinggal membuat surat terimakasih dan kenang kenangan  untuk yang memandikan, mengusung, penulis nama di nisan, penggali kubur, pembaca doa , dan imam sholat. Walau seandainya suami dan anak anak yang melakukan, mereka tetap mendapatkan.

Hari Ke 4, Hari Tatap Muka 

4 hari sudah terlewati, tinggal separuh lagi kesempatan. Meski setiap hari tak pernah lepas dari keadaan wudlu, tapi tetap saya mohon perlindungan dari Allah akan bisikan setan yang kerap datang. Terlebih pada masa kritis nanti.

Seusai menjawab azan, doa naik ke langit meminta janji Allah dan Rasulnya. "Barang siapa yang menjawab dan berdoa setelah azan, maka dimudahkan baginya mengucap kalimat tauhid saat sakaratul maut."

Hari ini saya  ingin bisa makan bersama dengan 3 orang janda dhuafa , mantan guru guru TK, dan orang orang yang amat berjasa dalam hidup saya. 3 janda itu  sangat  banyak membantu saat kegiatan sosial.

Maunya, sayalah yang menyiapkan segala sesuatu buat mereka, tapi saya perlu menyimpan tenaga. agar bisa berlama lama sholat di sepertiga malam, membaca dan memahami Quran.

Hari Ke 5 , Hari Nostalgia

Ini saat spesial dengan suami. Saya beri ia  1 kotak yang lama tesimpan.
Di dalamnya ada lukisan wajah saya yang ia gambar dengan pinsil saat masih pacaran dulu, Album pernikahan, mahar quran,baju hangat, kartu ucapan ultah, surat meyurat saat ia jauh, dan lain lain yang semuanya menjadi benda kesayangan saya.





Alhamdulillah jika ia mau menyimpan hingga ajal menjemputnya. Namun jika akan melukai pengganti saya, maka sudah saya ihlaskan untuk diapakan saja.
Semoga wanita itu salehah, mampu membahagiakannya dan pandai mengambil hati anak anak.

Suami saya tak boleh cemburu, karna  saya tak putus meminta bantuan Allah  agar mampu mencintai Allah di atas segala. Mengharap dapat bertemu dengan Rasulullah di  telaga Al-Kautsar.

Kotak ke 2 adalah barang-barang masa kecil anak anak yang masing masing punya cerita sendiri setiap  menatapnya.Ada lukisan pertama, buku diary yang rajin saya catat sejak mereka balita, kartu ulang tahun dari papanya, dan selembar kartu  ucapan ulang tahun untuk saya yang mereka gambar sendiri.

Meski badan mereka sudah besar, cinta dan rindu saya masih sama seperti saat melepas mereka ke kelas pertama sekolah.




Mereka menganggap saya guru, padahal dari mereka saya  banyak belajar dan mendapat banyak pahala, insya Allah.
Anak anak dititipkan dalam tempat yang namanya Cinta (Rahim). Kecintaan pada mereka semata mata hanya karna Allah.

Yang laki laki saya titipkan cincin untuk istri istri mereka. Sedang anak wanita semata wayang saya mendapat cincin yang sehari hari saya pakai,  hadiah perkawinan dari almarhum Neneknya. Saya tak banyak menyimpan perhiasan karna tak dibiasakan sejak kecil.

Lalu bagaimana cincin nikah? Cincin yang di bagian dalamnya terukir nama suami saya itu, akan tetap saya pakai hingga dia sendiri yang membukanya di saat akhir.

Hari ke 6, Badan Melemah

Tak banyak lagi saya berkata-kata. Makan sedikit, permintaan juga sedikit.
Waktu semakin sempit. Saya hanya minta rumah tak ramai orang.
Anak anak sudah tau tugasnya, membersihkan dan merapihkan rumah, karna beberapa hari lagi tamu akan datang.

Saya harap suasana takziah sampai pemakaman  tidak berisik saling suruh menyuruh dengan suara keras. Mereka datang dengan ihlas untuk mendoakan, bukan jadi ajang reuni, apalagi selfie. Semoga kematian saya bisa menjadi nasehat seperti yang Allah dan Rasul inginkan.

Hari ke 7, Ungkapan Cinta

Dalam badan yang makin lemah saya berdoa semoga Allah membersihkan bathin saya dari segala ketakutan dan was-was. Tanamkan keihlasan dalam dada saya saat menerima keputusan Allah.

Sama dengan 6 hari sebelumnya, di sela waktu ibadah, saya selalu ingin mendengar suami dan anak anak mengaji untuk menenangkan saya dan manfaat utama untuk mereka sendiri.
Seusai mereka membaca, akan  selalu saya peluk,cium dengan bisikan bahwa saya mencintai mereka. Minta maaf mereka apabila ada janji yang tak terpenuhi, atas segala tingkah saya yang tak mereka sukai.

Hari ke 8, Tak Banyak Kata

Masih ingat dalam otak saya, bagaimana Rasulullah masih berdoa jelang ajalnya. Maka saya memohon agar kelak Allah melindungi kami di Yaumil Masyhar, bertemu di telaga Kautsar dan dihimpun kembali dalam Jannahnya.

Insya Allah saya tak terbebani karna pesan lisan sudah terucap, diperkuat dengan   tulisan yang ada  dalam kotak nostalgia kami.

Assalamualaikum wrwb,
Papa sayang...
Tak ada yang mampu mengelak dari perpisahan. Namun dengan rasa bahagia dan bangga, bahwa kematianlah yang memisahkan kita. Terimakasih sudah setia mendampingi. Mama bersyukur karna Allah sudah mempertemukan kita.

Kehadiran papa adalah anugerah. Menjalani hidup bersama dengan cinta pun anugerah. Segala noda telah lenyap dengan maaf.

Jika sewaktu waktu datang perasaan gundah, atau merasa kurang berbuat untuk mama, percayalah bahwa Allah akan menggantinya dengan hikmah lain. Bila belum merasa cukup dengan itu, maka doa-doa dalam tahajjud buat mama akan menyempurnakannya .


Wassalam,

Peluk sayang dari Mama.

*****

Assalamua'alaikum wrwb
 Anak anak yang Mama sayangi...
Puji syukur pada Allah yang menganugerahi kalian dalam kehidupan mama.
Keputusan Allah amat kuat,Nak. Jangan berlarut dalam kesedihan. Kelak semua pun akan kembali.

Ingat  selalu pesan-pesan Mama,diantaranya...
Hadirkan tanya sebelum mata tertidur. Sudahkan bersedekah hari ini?
Adakah orang yang tersakiti lantaran perlakuan dan lidahmu?


Kalian anak mama yang saleh dan salehah, tak pernah menyusahkan mama.
Jika sayang Mama, Didik diri kalian dan keluarga untuk beribadah dengan benar.
Di mata mama kalian bersih dengan maaf. Maka maafkan mama dan  ihlaskan .

Wassalam,
Peluk sayang dari Mama.


letter by Maiden11976





“Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway”






















12 comments:

  1. hari terakhir rasanya ingin selalu dekat dengan orang-orang kesayangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mbak Inna... Padahal ada kejadian besar di hadapan kita yaa...:(

      Delete
  2. Mbaaaa.. :'(

    Speechless saya. Kalau biasanya cuma merinding baca tulisan teman-teman, kali ini saya ikut tercekat. :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Arinta, senang dapat kunjungannya. Semoga kita kembali dengan bahagia tanpa sesal yaa..

      Delete
  3. Tiada kata yang bisa kuucapkan setelah membaca tulisan ini selain... MasyaAllaah... indah nian tulisan ini.. juara di atas juara... bukan hanya terhanyut dan terbawa... tapi menjadi penggugah jiwa... mengingat usia di dunia yang memang tak akan lama...

    ReplyDelete
  4. Bacanya sambil membayangkan aku yg ada di posisi Mbak Oty... alangkah indahnya. Kalau aku kayaknya 8 hari akan gedumbrangan menyeleaaikan banyak sekali urusan dunia yg mungkin akan memberatkan perjalananku kalau nggak diselesaikan dan itu banyaaaaak.
    Semoga sempat berbenah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita minta pada pemilik waktu saja yaa,Mbak Donna... Yang banyak bisa jadi sedikit, yang repot jadi mudah, yang berat jadi ringan, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Semoga kita termasuk hamba yang bisa kembali dg tenang tanpa penyesalan, amiin. Terimakasih mbak Donna sdh mau datang ke blog ini dan menshare. Smg manfaat buat kita..

      Delete
  5. Salam kenal Mbak Indry, senang dapat kunjungannya. Kita saling mengingatkan dan saling doa yaa..

    ReplyDelete
  6. Ya Allah... semoga aku bisa memanfaatkan sisa2 waktuku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin ya Rabb...semoga terkabul doanya. Trimksh sdh berkunjung,Mbak Noorma, dan salam kenal :)

      Delete
  7. aq nangiiis bacanya mak :( Terimakasih tulisannya, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    ReplyDelete
  8. Trimakasih Mbak Desi, GA mu lah yang sudah membuat saya berfikir lebih komplit lagi dalam mempersiapkan kematian. Semoga berkah melimpah lebih banyak lagi untuk adik sholihah...

    ReplyDelete