Wednesday, 16 March 2016

Tulisan Tengah Malam

Pak, Otty belum bisa tidur, dan mau nulis buat bapak.

Bapak, dulu otty susah ketemu pacar,karna harus ada izin bapak .  Sekarang, susah ketemu bapak karna harus ada izin pacar (suami).

Bagaimana tidur bapak malam ini? Kemarin kata Any yang dapat giliran temani bapak, batuk bapak hanya sekali saat tidur, alhamdulillah..
Mudah mudahan kita ketemuan nanti, bapak sudah betul betul pulih ya... Biar kita ngobrolnya asik, nggak usah diselingi batuk. Pilu deh, kalau liat bapak pegang gelas agak gemetar, berharap dengan tegukan air itu pembicaraan kita berlanjut lagi.

Kenangan bapak dengan Anta Amin  selalu bapak ingat, bagaimana kalian bertahan hidup di antara ombak dengan sebilah papan pecahan kapal yang terkena bom. Kalau tak salah sudah lebih dari 16x diceritakan, tapi nggak bikin bosan. Karna bukan dari isi cerita, tapi dari semangat di air wajah bapak.

Yang sedih cerita pertemuan  dengan Anta di kampung setelah bapak merantau puluhan tahun di Jakarta. Dia sudah tak waras, penyakitan, dan tersisih dari warga. Tidur menyendiri di bale tua.
Tapi begitu bapak datang menyanyikan lagu kenangan, dia terbangun, mendadak waras meneruskan lirik. Matanya hidup segar. Tertawa bahagia. Cuma sebentar, habis itu dia lunglai dan kembali ke dunia sepinya.

Sichiro san, Kadommo, Siro San, nama pemberian tentara Nippon, karna bapak dan kawan kawan bersuara emas. Dimanja dengan pakaian dan makanan, asalkan bisa menyanyikan lagu ajaran mereka  yang mengingatkan kampung halaman dan keluarga.

Pak, bahagia memiliki Bapak yang menapaki 3 zaman. Sejak model alat tulis berbahan batu tipis, buku kertas singkong, sampai note book yang tipis dan besarnya sama, bedanya bisa membelah belah isi bumi dengan sgala ceritanya.

3 zaman itu membuat bapak sulit dijangkau cara fikirnya.Terlalu  sabar pada hal besar, dan marah pada hal kecil, soal ngaret.

Maaf pak, sebagai anak pentil kurang ilmu, kadang kesal lihat bapak keras kepala, santai, dan cuek! Membiarkan masalah yang bikin geregetan ingin segera dihancur lumatkan. Ternyata guru hidup bapak mengajarkan bahwa segala sesuatu akan berubah , ada umurnya dan tiap orang punya alasan dalam bertindak.

Pak, malam ini anakmu sulit tidur, kalau rumah kita bersebelahan  ingiiin tidur disebelah bapak,  Cengeng nggak sih,pak?

Pengen tidur beneran, bukan karna di straap kayak dulu. Rifky  bilang, mendingan duduk di kursi listrik dari pada tidur di sebelah Opa.

Pak, oty kangen...
Bapak kan senang baca, nanti tulisan ini di copy saja yaa, karna air mata pasti meluncur kalau diucapkan. Asal bapak tau isi hati ini saja. Meski kata katanya nggak seindah puisi bapak.

Oty cinta sama bapak, bangga, dan slalu cari adakah kelebihan bapak pada diri suami?

Semua orang tua punya kelemahan dan kesalahan  pada masa pendidikan rumah berjalan, tapi semua sudah bersih sebersih bersihnya,tak bersisa di hati .
Kalau bapak tau kesalahan yang tersembunyi, pasti bapak akan lebih banyak lagi galaknya. Maafkan ya pak...*cium tangan dan pipi bapak.

Perih pak, sunyi malam begini ingat bapak pulang ngajar  dengan baju basah kehujanan demi anak bisa sekolah, harkat keluarga naik tanpa warisan yg diperebutkan.

Perih pak, saat semua tidur begini,  ingat waktu  pagi pagi bapak antar oty Posma mahasiswa baru. Bapak berdiri di kejauhan dekat tiang bendera krn takut ketahuan panitia,mengantar anak. Bapak nampak bangga  bisa melihat anak pertamanya kuliah.

Duhh... ngerembeng nih! Istirahat dulu nulisnya ya, Pak. Mau nangis sampe puas, sambil siap solat utk doakan bapak.

Semoga Allah menunjukkan cara mengasihi bapak dengan tepat,benar,pas dengan maunya bapak . Bukan karna maunya anak.

Dalam keterbatasan dan kelemahan , otty ingiiiin membahagiakan bapak. Semoga Allah yang bikin luaass dalam pandang dan rasa bapak.

Semoga Allah sempurnakan ,tak ada kekurangan, tak ada penyesalan dalam menjaga ahlak di hadapan bapak. Mohon ridlo dan maaf bapak ya..


Selamat tidur ,Pak. otty sayang bapak lahir bathin, dunia akhirat.  *cium lagi.

2 comments:

  1. Nggak bisa komen mba, selain rasa yang sama, kangen ayahku saat membaca tulisan ini.
    Rasanya memang selalu kurang saja, melayani orang tua, karena memang apa yang mereka berikan untuk kita tak akan pernah terbalaskan ya mba

    ReplyDelete
  2. Benar Mbak, Semoga Allah menghimpun kita bersama mereka di syurga , kelak yaa..

    ReplyDelete