Monday, 18 April 2016

Potong Kuku




"Pak Potong kukunya yaa...Sudah panjang panjang tuuh!"
"Nggak usah, Nanti saja!" Kata Bapak dengan gaya khasnya.
"Ayo lah paak!" Saya dan adik sedikit memaksa.

Karna saya sudah terlanjur pegang pemotong kuku, langsung saya gerser kakinya ke pangkuan. Bapak nggak bisa nolak lagi. Mulai jari kelingking saya potong. Lumayan keras!
Sampai di Ibu jari, lebih keras lagi rupanya.

Keringetan ngerjainnya, sebab harus bertahap sedikit demi sedikit, sambil hati hati takut melukai.
Bisa bisa bapak ngambek, lalu suruh stop.

Putri saya inisiatif, pakek cara salon

- Ambil baskom isi air hangat,
- Campur sedikit sabun cair
- Masukkan 2 sendok makan garam
- Handuk
- Minyak Zaitun

Kaki bapak direndam dulu kurleb 10 menit. Kami siram siram supaya cepat efeknya. Baru pemotongan saya lanjutkan kembali.

Wahh...Pekerjaan jadi ringan. Kuku bapak melunak. Satu satu dipotong dan dirapihkan yang tadi bergerigi saat memotong dalam keadaan  kering.
Nggak diduga, campuran dalam air mampu juga melepaskan kotoran lapisan kulit yang sulit dibersihkan.
Kesiaaan...Bapak sulit menopang badannya saat siram wudhu bagian kaki, jadi kurang bersih disela sela jari.

Pekerjaan berlanjut, melepaskan kotoran dengan washlap (Handuk kecil). Bapak keihatan nggak mau berlama-lama. Dia paling risih kalau bikin anak anak sibuk. Kelihatan betul!
Tapi anak dan cucu kompak dijadikan candaan saja.

"Bapak kuteknya mau warna apaa?" Nanya sok serius tapi campur nahan ketawa.
"Hussh!! Jawab bapak sedikit galak, tapi senyum juga.
" Many Pady di sini murah lhoo... Sering-sering ke salon sini yaa..!"
"Ayo cepat! Bapak mau istirahat" 

At the end... kaki bapak diletakkan lagi dipangkuan saya yang sudah beralas handuk. Sebetulnya masih penasaran kepengen lebih bersih lagi. Tapi...ikut maunya aja deh!

Adik saya memijit bahunya, sementara saya membaluri kaki dengan minyak zaitun.
Saya pandangi kaki bapak, sudah berapa kilo jalan yang dia tempuh untuk membela kami?
Semoga kaki ini mampu menjawab pertanyaan Allah dengan cepat dan lancar. 
Perasaan halus merayap ... Beruntung memegang kaki beliau bukan saat di Rumah Sakit, atau ...Akh! *speechless

"Tuuuh...Pak, kakinya tadi keriiing sekarang sudah lembab dan kinclong!" Kata saya
Bapak puas, lalu mengaku selama ini ia menolak jika Ibu kedua ( Baca : Tiri) kami ingin melakukan.

"Waahh... Terimakasih naak! Kata bapak

"Laahh kok terimakasih?  Bayar Pak! Tarif Many Pady 75 000!" Jawab adik saya

'Kamu nih! Hehehe..." Bapak tertawa .













4 comments:

  1. seteah d rendam kuku jadi lebih lunak ya mbak. Kebiasaanku memotong kuku anak2 kalau habis mandi

    ReplyDelete
  2. Betul Mbak...kebantu sekali. Apalagi untuk anak anak . Terimakasih hadirnya yaa...:)

    ReplyDelete
  3. Semoga keberkahan meliputi Bapak kita yaa,Mbak Damarojat :)

    ReplyDelete