Tuesday, 19 April 2016

Renungan Jelang Sore


Lukisan mahal sapuan kwasnya lembut. Peralihan dari satu objek ke objek lainnya sangat  halus tak kentara. Makin natural, makin dicintai.

Musik berkelas tidak serta merta muncul keras. Pendengar beradaptasi dulu lewat kelembutan nada. Di pertengahan perlahan nada naik..meninggi.. puncak dari ungkapan rasa. Kemudian dengan halus menurun ke nada asal.

Make up termahal sentuhan warnanya samar . Si empunya wajah seperti tak tersentuh pewarna. Mata yang memandang cuma menangkap kesan cerah, mata hidup, pipi merona segar.

Make up murahan teramat  kasar. Polesan warnanya tajam, persis badut!

Saya sedang berusaha menggambarkan dengan sederhana akan ahlak mulia. 
Halus tapi tak lembek. Tegas tapi tak menyakiti. 

Seperti lebah yang hinggap dan pergi... Bunga tak bergoyang.

Tak ada suatu kebaikan yang dihasilkan kecuali dari kelembutan dan kesabaran.

Saya fikir, orang yang enggan berdoa minta diberi ahlak baik adalah orang yang  "merasa" pribadinya sudah sempurna.

Rasul pemilik ahlak paling terpuji, quran berjalan, panutan ummat. Tetap berdoa diberi ahlak mulia.

Ceritanya ini renungan jelang sore saat hujan menyelimuti Bogor...

2 comments:

  1. Saya speachless mak bacanya dan ikut merenung :( semoga masih termasuk hambaNya yang rendah hati tidak menganggap diri ini sempurna

    ReplyDelete
  2. Amiin ya Rabb... kita punya keinginan yang sama. Terimakasih Mbak Ranny..:)

    ReplyDelete