Monday, 11 April 2016

Senyum Mereka Senyum Kita Juga





Seringkali apa yang dihawatirkan pada kenyataannya tak terbukti.
Tanpa disadari kita  (eh, saya..) lebih menuruti sangka sebelum fakta.

Pantas ada yang bilang, berprasangka berarti tak menghargai otak sendiri. Karna ada beribu kemungkinan. Paling tidak buatlah 70 kemungkinan sebelum tau yang sesungguhnya.

Meski saya bukan ketua panitia, sudah 2 kali rapat , dan konfirm terus lewat WA, masih saja terus berdoa penuh harap semoga saya mampu amanah,  pelaksanaan baksos berjalan baik, lancar, semua terlayani. Jangan sampai ada panitia yang lalai dari tugas lalu jadi berantakan!

Perjalanan ke lokasi sampah  pagi itu  teramat lancar untuk ukuran orang yang masih buta alamat. Dokter Lutfi menjemput di ujung jalan tol. Kami berpelukan hangat karna jarang ketemu.
Baru tutup pintu mobil dia sudah beri 3 bungkusan. Kopi biji kurma, permen kurma dan bross bunga warna pink yang langsung saya sematkan di jilbab. *Fi...kamu kok baik terus!?

Akh...Saya jadi mengungkit cerita lama tentang pemberian kalung mutiara putih mungil hadiah ultah saya  ke 20 kalau tidak salah. Pokoknya masih imutlah!
Bu dokter itu tersenyum senang. Nggak sangka saya masih menyimpannya. *Hehe cuma duit yang nggak awet!

Lokasi baksos masih 1 km lagi.. Tapi bau sampah mulai tercium saat saya mampir ke tempat foto coppy. Ajib juga ... Di mana-mana toko masih tutup. jelang sampai di lokasi ketemu ini toko. Apa jadinyaa kalau klinik buka tanpa kertas pendaftaran? Ini tugas teman yang terlupa, nggak apalah! Yang penting ada bantuan Allah.

Di Lokasi

Mengharukan...Para santri sudah duduk rapih berbaju putih bersih. Grup rebana sambut dengan shalawat, padahal cuma kami ber 2 yang datang lebih awal.

Para ibu  tenang menunggu. Lihat tenda dan kursinya terlalu resmi buat klinik gratisan! Trimakasih Pak Ustad Abdul Azis...

Rombongan lain masih dalam perjalanan. Wahh, padahal petugas pendaftaran harusnya datang lebih pagi.

Tiba tiba seorang ibu mendatangi  saat saya menulis name tag.

"Bu, supaya tidak repot, saya bisa menulis daftar pasien"

Nggak pakek lama, meja itu dikerumuni lalu tersusun 85 nama pasien dan bertambah terus..
Masya Allah!

Begitulah seterusnya... Anak anak santri sigap membantu apa pun yang disuruh Pak Ustad. Tak terasa Jam 12 saat azan, semua kelar!

Dokter Ossy bertuga memberi penyuluhan DBD dan TB. Ada hadiah buat ibu ibu jika mampu menjawab kwis. Senang liat mereka gembira terima hadiah yang anak saya bungkus tadi malam *Bungkusnya unik sih!

Barakallah..
Untuk apa cemas? Untuk niat baik, pertolongan Allah sudah menunggu. Semoga kecemasan saya hanya karna ingin menyempurnakan ihtiar. Bukan karna tak yakin akan uluran tanganNya.

Amanat terselesaikan. Banyak waktu untuk alumni Riska  sambung rasa, sambung kangen, berbagi cerita.

Ini bonus kali yaa... Kan  silaturrahminya lewat jalan Allah. Bonus lainnya sahabat saya yang sinusitis berat, hanya sebentar pilek, setelah itu sibuk membagi bagikan obat.Lupa dengan sinusnya.


Lalu, saya yang biasanya  cepat bosan dan gelisah kalau berada di antara orang banyak, bising, dan berantakan. Kali  ini nggak lho!! Alhamdulillah...

Senyum mereka senyum kita juga. Membahagiakan orang lain sama dengan membahagiakan diri sendiri.
Semoga Allah ridlo, berkenan menjadikannya syafaat pada hari di mana buku amalan sudah ditutup!














PENGOBATAN








PENYULUHAN




PARA UNDANGAN



Akad Pembelian Lahan Untuk MCK



BERBAGI















SAMPAI JUMPA DI KEGIATAN BERIKUTNYA...

No comments:

Post a Comment