Tuesday, 3 May 2016

Belajar Dari Ikan


Masyarakat Jepang sudah terkenal dengan hobbynya makan ikan Salmon segar. Demi mempertahankan kesegaran, ikan harus dibawa hidup hidup ke resto. Tak peduli berapa lama menempuh perjalanan.

Penjual sering rugi besar, karna ikan mati sebelum sampai. Sementara solusi belum di dapat.

Satu saat tanpa disengaja bayi Hiu terjaring bersama Salmon. Kalau lihat fisik, tak mungkin ia menelan Salmon. Namun sifat predatornya membuat Salmon cemas. Dalam kotak kemasan mereka terus menerus sekuat tenaga menghindar demi mempertahankan hidup.

Walhasil, Salmon tetap segar sepanjang perjalanan.

Meski nggak tega, tapi bisa digambarkan bahwa kita bisa bertahan  hidup karna banyak tantangan dan pertanyaan akan hari depan.
Anak anak adalah ikan Hiu pemacu  semangat, pemantik keberanian.
Hingga kita sampai ke ridho Allah. *Bukan sampai penjagalan resto lho!

Waktu menikmati bersih dan nyamannya stasiun Jakarta-Bogor, pertanyaan sering muncul, kemana pedagang pedagang yang selalu bikin sesak,berisik, bau dan kotor  di sepanjang gerbong / stasiun?

Kekuatan telah bertambah, menggapai luasnya rejeki Allah. Mereka nggak pernah demo, kan? Nggak ada  berita tentang terpuruknya hidup mereka ba'da penggusuran.

Sama makna tapi beda cerita dengan saya. Setelah terzalimi, dada malah lapang, seribu ide bermunculan. Makin yakin dengan QS: Al Fushilat 30-31.
Laa Takhaff wa laa Tahzan!

We need predator. Thats life! 





2 comments:

  1. Alam semesta memiliki banyak pelajaran ya mba, tinggal kitanya bagaimana, apakah bisa menyerap dan mengambil pelajarannya

    ReplyDelete
  2. Benar ... lewat mereka kita jg bisa berdialog dg penciptanya.

    ReplyDelete