Tuesday, 17 May 2016

Menyikapi Cinta


Wanita itu mencuri curi pandang saat makan berdua dengan suaminya.

Ah, siapa yang pernah menyangka, ia akan duduk di sini bersama pria yang dahulu hanya ia anggap teman, pengisi waktu agar punya cerita dengan lawan jenis, sekedar jaga gengsi di depan teman bahwa ia punya pengagum, dan malam minggu tak sepi.

Dia Ayah dari anak-anak yang di matanya seperti belahan nyawa.
Tanggung jawabnya terlalu banyak, kadang kesibukan membuat hari lewat tanpa perbincangan hangat.

Angka tahun terus bertambah, seiring bertambahnya kerutan di wajah.
Bahtera perkawinan bertahan meski sesekali oleng.

Entah percikan kekuatan dari mana, saat mereka menikmati sore di beranda, tetiba wanita  itu  melepaskan tanya.

"Apakah suatu saat Abang akan menikah lagi?"


"Mungkin, karna semua laki-laki mempunyai bakat untuk itu. Tapi secara praktis tidak akan menyenangkan.
Di dunia ini satu satunya standar moral yang aneh dan disepakati diseluruh dunia adalah moral dalam lembaga perkawinan.
Bayangkan! Semua transaksi sekarang harus bayar di muka, dan orang mendapatkan apa yang ia mau. Dalam perkawinan, pembayaran dan ikatan berlangsung selamanya.

Kalau bukanlah karena Tuhan, lembaga perkawinan adalah kontrak moral yang paling dungu. Itulah sebabnya Allah mengatakan "Silahkan polygami asalkan kamu bisa berlaku adil.
Hanya pria dungu yang tak paham bahwa izin polygami bukanlah free will, tapi by tight condition dan mungkin mission Impossible! Paham?"

"Bang... Pernahkah abang menyesali perkawinan?"

"Satu satunya yang ku sesali dalam hidup ini adalah karna aku tak pernah menyesali apa yang terjadi! Bahkan aku tak pernah menyesal, kenapa aku bukan jadi dokter, sosok  yang kau dambakan

Menyesal adalah hasil pikiran dan nalar, dan nalar tak mampu menjelaskan hal yang paling sederhana tentang cinta. Jadi ihlas melewati hidup adalah cara mudah untuk bahagia" Jawab suaminya dengan kalem

"Apa, karna cinta?"

"Ketahuilah olehmu, bahwa sebesar apa pun cinta laki laki atau perempuan kepada selain dari pada Tuhan, bukanlah cinta yang aman! Tuhan tak pernah meminta, Tuhan selalu memberi, sama dengan orang tua kita, tanpa cemburu mereka ihlas berkorban. Cinta aman!
Itulah sebabnya aku hormat dan sayang pada ibuku, karna cinta ibuku adalah cinta amanku, bayang bayang Tuhan..."

"Benarkah semata-mata karna rasa aman yang membedakan cinta sesungguhnya?"

"Ya, sesungguhnya cinta pada selain Tuhan hanya ada dalam pembesaran fikiran, di perasaan. Cinta tidak akan selesai dirumuskan dengan pemikiran.
Cinta aman takkan kau peroleh dari pasangan, anak, cucu, menantu, harta, jabatan. Seseorang hanya punya satu cinta, yaitu TUHAN. Yang bagaikan air sungai yang bisa mengalir ke mana-mana, membelokkan ke selatan atau utara, tapi sebetulnya satu arus saja, menuju Tuhan.

Ketika aku memutuskan untuk melamarmu  jadi istriku, maka itulah keberanian. Karna banyak cinta diutarakan tanpa keberanian menikah. Anugerah, itu hadiah besar dari Allah. Semua itulah harga yang harus kita bayar, sepanjang usia berbagi rasa, merawat, memanjakan dan dimanjakan.

Kita tak akan merasa aman, merasa tentram, hanya dengan menyewa, membeli, lalu memandangi, paham,kan?
Aku bisa saja mengagumi keindahan ikan berenang dalam aquarium.
Memandangi wanita cantik berlenggak lenggok di pinggir kolam renang. Tapi aku  tak merasakan cinta aman. Aku hanya bisa memandangnya.

Tapi... Kamu adalah takdirku yang dianugerahkan Allah, yang bukan hanya kupandangi, tetapi kamu memang amanah terindah dari pemberi cinta, Allah!"

Dan...
Ahirnya wanita itu sadar bahwa ia harus bersyukur, suami adalah anugerah, meski kadang terkesan seperti ikan yang berenang dalam aquarium. Ada kebebasan namun terhalang oleh  dinding tebal dalam bentuk budaya dan agama yang mengharuskan menjaga kehormatan suaminya dalam kondisi apa pun!

Menghindari fitnah, menjaga dan merawat semua yang diamanahkannya, dan menantikannya ketika pulang, karena Tuhan tentunya...

"Lalu, bagaimana sikapmu terhadapku?" Suaminya berbalik tanya

"Abang bukan pria sempurna, tapi yaaa...limited edition!"


















No comments:

Post a Comment