Thursday, 12 May 2016

Menyikapi Waktu


Suatu hari Amir bin Abdul Qais berjalan melewati sahabat-sahabatnya yang sedang berbincang tanpa arah. Mereka pun memanggil "Kemarilah, duduk bersama kami!"

Amir menjawab : "Tahan dulu matahari! Baru aku akan duduk bersama kalian"

Kalau waktu itu benda, mungkin para peneliti, pengusaha mega proyek, pelajar yang kehabisan waktu mengisi soal ujian,   akan mengincarnya dari tangan orang-orang yang duduk bersedekap sarung tak tau apa yang hendak dikerjakan. Berapa pun mereka pasti berani bayar.

Mungkin para ulama menangis memohon, agar tinta ilmu bisa sepenuh usianya.
Mungkin Penduduk Barzah  menangis berusaha menggapai, meski secuil demi kesempatan beramal.

Waktu banyak berhambur, di rapat yang bertele-tele, obrolan dalam perjalanan, pesta, keramaian. Padahal waktu tak bisa mundur, apalagi berulang.

Saya belum pandai mengelola waktu. Salah satu kunci kesuksesan di dunia adalah kemampuan mengatur waktu.
Harusnya lebih banyak lagi yang saya perbuat. Karna saya bukan orang yang punya kesibukan hingga harus memikirkan, apakah bisa tidur sejenak sebelum berangkat ke bandara? Apa bisa tidur 2 jam sebelum bekerja lagi?

Anak pertama saya hanya punya waktu 5 jam di rumah, setelah itu harus tempuh perjalanan 4 jam (PP) naik kereta ke kantornya di Jakarta.
Adiknya yang design lighting, pagi pagi berangkat ke Bali atau Surabaya tengok proyeknya, sore sudah harus kembali ke Jakarta.
*Semoga mereka tetap mengutamakan waktu ibadah

Disadari atau tidak, kebodohan mengelola waktu, bisa menzalimi orang lain. Misalnya dokter yang sering datang telat, menyiksa pasien. Tambahan dosa pula karna bikin orang ngedumel  mencerca.

Begitu hebatnya sang waktu. Bisa jadi manfaat atau malah jadi musibah.
Bisa juga menguras dompet!

Ingat waktu saya lalai bersiap-siap, begitu sadar waktu sudah menipis.
Penampilan pergi jadi tak maksimal, tanpa sarapan, angkot terasa lamban. Muka setress, keringetan!
Akhirnya harus bayar  mahal untuk ojeg, dan sarapan mahal pula di stasiun.

Bagaimana dengan mereka yang ketinggalan pesawat, uang tak kembali?
Atau yang parah, telat periksa ke dokter, hingga perlu obat mahal dan menghadapi argo kuda perawatan Rumah Sakit?

Jawaban Amir Bin Abdul Qais tadi  mengajak kita berpaling dari orang bodoh (Penyia waktu).

Belum terlambat!
Yuk, susun planning keseharian, kewajiban  kecil hingga besar.
Bagi kueh waktu dengan adil, antara kepentingan umum dan diri sendiri.
Pasang niat dan kesadaran, supaya pekerjaan duniawi pun bernilai ibadah.
Minta pada pencipta waktu, agar semua terasa lapang meski jatah tetap 24 jam sehari.

Tentu perlu bijak dalam mengelola kegiatan, kelola waktu,prioritas dan kemampuan diri.
Baca buku akhir akhir ini saya merasa kurang. Maka biar beberapa lembar terbaca, buku tetap jadi teman perjalanan.

Fb-an sudah jarang,  menulis blog saya lakukan dengan cepat. Tidak perlu panjang, yang penting rutin. Darinya saya belajar disiplin.
Pokoknya diusakanlah, tidak luntang lantung di medsos

Kata ahli,  waktu paling banyak digunakan manusia adalah saat tidur.
Saya ingat bagaimana kwalitas tidur Rasulullah. Cuma sebentar tapi terasa lama/cukup

Orang yang banyak ilmu dan kurang ilmu, tetap punya waktu 24 jam. Yang banyak rejeki dan biasa biasa saja, sama jatah waktunya. Yang hafal quran dan dan tak bisa baca quran, punya nikmat waktu 24 jam.
Manusia beruntung atau merugi tergantung cara menyikapi waktu





























No comments:

Post a Comment