Wednesday, 1 June 2016

Wanita Sunyi Berhati Karat


Alis kiri dan kanannya bertaut. Kerutan kesal bertimbun
Wanita itu terusik dengan urusan yang tak pernah tuhan puji
Padahal ia tau, tak boleh ada kemarahan kecuali agama tuhannya dihina.

Entah mengapa bangkai kambing bertelinga 1 lebih ia cintai
Dari pada "Mahligai pertemuan"

Jari jemari tak henti meraup sebisa mungkin gemerlap tipu
jangan sampai mengalir  di sela
Hitung punya hitung, cukuplah untuk membeli syurga
dan mengambil hati Tuhan...Menurutnya.

Segerombolan anak kecil berbaju lusuh mendekat
Seujung kuku dibelah 7, ia beri.
"Tapi kalian harus singkirkan debu di rumahku!"

Hidup tak ada yang gratis
Semua ada hitungannya
Sesuai pelajaran matematika yang sangat ia sukai
Herannya, hanya perhitungan  kali dan tambah.
Tak pernah mau kenal tanda kurang dan bagi

Kemarin ia sibuk cari cara
Bagaimana agar sinar lampunya tak terbagi ke tetangga.
Sudut sudut rumah tak lepas dari mata
Seekor semut pun tak boleh menitipkan makanannya di sana

Bu Sobri tetangga yang sesekali di sapa saat ada butuh
hanya menganga, melihat wanita itu ada di antara piring yang kotorannya sudah mengering berkerak
Makanan bercendawan di atas meja
buah keriput menyesakkan kulkas

Lihatlah! Aku bersih dan senang bersedekah! Katanya
Sambil mendekap pundi pundi uangnya

Tetangga yang sering di suruh suruh itu menutup wajahnya
Jijik dan malu!
Tubuh wanita di hadapannya penuh perhiasan
namun tak berbaju!!
Segera ia ambil seribu langkah
Tak hiraukan teriakan di balik punggung

"Bu!! "Tolong ... tolong aku sekali  saja!
Jika aku mati semayamkan aku dalam lahat kaca!
Aku benci debu!"

Hahh?? Sekali saja katanya??
Gila !!
Kakiku  pernah lecet karna urusan dia, berbayar roti sepenggal

Riuh hujan menyerbu bumi dalam jangkauan malam
Cemeti  petir membelah pekat
lamat lamat terdengar ratapan
Tetangga tidak tega meski pernah tergores lidah tajamnya

Kasihan.... Wanita sunyi!
Suami debu di kaki
Anak tak punya, saudara pergi
Teman tak  sehati

Ah, seharusnya tetangga tak perlu seprihatin itu!
lolongan tangis...
Lantaran setitik percikan hujan mengenai surat tanahnya.

Wanita sunyi berhati karat

















2 comments:

  1. uhh...ngeri mbak. naudzubillaahi min dzaalik. meski ga mampu menelan maknanya satu demi satu tapi secara garis besar saya bisa mengerti.

    terima kasih sudah mengingatkan.

    ReplyDelete
  2. Ya Mbak... Semoga kita dijauhkan dari hal demikian yaa. Kita tinggalkan dunia ini kelak dengan kebaikan saja , amiiin ya Rabb...

    ReplyDelete