Thursday, 28 July 2016

Menata Pola Pikir


Lihat peralatan makan berantakan sisa acara makan makan di rumah, pasti kesal, kan? Gelas di mana-mana, susunan piring tak teratur  diselingi sampah,tisu dan sendok yang berminyak. Beban pekerjaan terasa berat.

Hmm... Saya bukan mau mereview sabun cuci lho!
Ini cuma pengantar dari sebuah pemikiran. Bahwa setiap pekerjaan dan beban pikiran pasti akan ringan, bila kita mau menyederhanakannya dengan pemilahan atau pengelompokan.

Piring satu satu kita ambil dan kumpulkan sampahnya  dalam satu kantong, siram sedikit, susun rapih, gelas dan sendok kumpulkan berkelompok, trus siap mencuci.
Dengan pengelompokan  beban pekerjaan akan ringan dan hati lapang. Seolah mencuci hanya 3 macam jenis barang saja, bukan setumpuk barang kotor menjijikan!

Pun beban hidup. Bila otak terasa penuh, baiknya buang  sampah-sampah  masalah lalu dari ingatan , menjauh dari persoalan orang yang bukan urusan kita. Kelompokan mana urusan diri sendiri yang paling urgent untuk cepat diselesaikan.
Mau mencatatnya? Cakeeep! Pasti berkurang lagi.

Bisa menata pikiran, artinya kita meringankan beban sendiri.
Bisa diumpamakan, pikiran kita seperti magnet yang amat kuat. Sadar atau tidak, kita menarik semua apa pun yang pola  pikir kita beritau. Jika kita yakin kehidupan itu sulit, maka kesulitan terus yang kita temui. hasil yang kita peroleh sesuai dengan apa yang kita yakini.

Akal menolong kita menemukan cara pengelompokan tadi. Akibatnya pikiran kita berubah, kita yakin bahwa tak berat mencuci piring sebanyak itu.
Kita menciptakan pola pikir kita sendiri, tapi pada saat yang sama pola pikir menciptakan diri kita.

Jangan anggap remeh kata-kata. Darinya pola pikir juga bisa bergeser.
Misalnya, seorang anak dengan penuh iba berkata pada Ibunya, seorang penjual kue keliling.

"Kasihan ibu, kerja keras terus  setiap hari  agar kita bisa makan"

"Nggak kok! Ibu cuma hobby bikin kue . Banyak orang yang suka, dan kita dapat uang!"

Anak lega, ibu terhibur dengan sendirinya.

Tak sedikit orang menghadiri seminar, ceramah, berjanji di hari ultah atau pas malam tahun baru, tujuannya ingin mengubah hidup mereka. Tapi tak lama kemudian energy mereka merosot. Mereka mencoba mengubah hasil, tanpa menggeser pola pikir.



Tuesday, 26 July 2016

Alumni SMA 1 Bogor, Berbagi Bahagia




Bulan Juli banyak  undangan. Acara halbil komunitas, reuni kampus, reuni alumni SMA 1 Bogor angkatan 86, acara  pernikahan, dan kajian.  Jarak waktunya berdekatan.
Khawatir lupa, saya tempel note di samping kulkas. Pokoknya menyolok terlihat kalau mau masuk dapur. *Sok sibuk banget ya!

Undangan SMA 1 paling pagi.
Saya bukan alumni sana. Kedatangan saya untuk terima donasi (Disponsori yayasan Kick Andy) secara simbolis, untuk anak dhuafa binaan saya.

Wah, ribet! Harus siapkan makanan  sebelum berangkat. Pak suami yang saya kira mau pesan sarapan praktis, nggak taunya minta dibuatkan nasi goreng pedas.
Mana bawang merahnya piyik piyik, jadi lama  ngupasnya!

Eh, kenapa ya,  kalau masak dadakan hasilnya yahut? Bumbu berasa dan harumnya kecium. Ah, sayang nggak bisa nikmatin karna harus siap siap.

Panitia sudah jauh jauh hari kirim dafar acara, kebangetan kalau mereka panggil, saya masih di jalan.

Setelah rapi seger, buka pintu luar, trus nyalahin mobil. Eeehh... mobil nggak mau distater! Padahal udah mbela-belain ngelap pagi-pagi, biar nggak dekil sendirian di parkiran.
Haddoh! Padahal waktu pakek terakhir nggak apa-apa,kok!  *Hehe, terakhirnya tu pas lebaran sih, setelah itu nggak pernah dipanasin.
Terpaksa naik ojek lalu jalan kaki sedikit.

Alhamdulillah, acara  nggak pakek basa basi dan nggak bertele tele .
Nggak lama kemudian saya dengan wakil beberapa yayasan Panti asuhan dan club sepak bola, ke pentas menerima donasi sesuai  rencana waktu.



Saya suka dengan model acara reuni seperti ini. Sarat manfaat dan membuat orang lain ikut bahagia.
Mereka sumbang buku ilmu pengetahuan, sepatu sekolah, sepatu bola,  juga aksi sumbang darah.
Bukan sekedar kumpul, ketawa, karaokean dan makan makan sambil ngumbar cerita dan aib lama.

Nggak semua orang senang dengan acara reuni. Seperti salah seorang ibu pedagang bensin eceran  saat diajak temannya untuk hadir.

"Saya tidak mau datang, karna saya miskin!"

Jawaban yang bikin sontak sahabatnya.

"Tapi kan, nggak ada hubungannya reuni dengan kaya atau miskin!"

"Saya tetap tidak mau datang!" Tegasnya. 

Dia enggan menghadapi pertanyaan teman yang  menyinggung perasaan. Kerja di mana? Tinggal di mana? Anak sudah berapa?

Siapa tau, yang ditanya tidak punya pekerjaan tetap? Ada yang belum dikaruniai anak, dan ada yang malu menyebut alamat rumah karna nggak ada embel embel Komplek/Perumahan yang serba indah namanya.

Saya lupa baca di mana? Ada celetukan pedas tentang reuni.
"Hallah... untuk apa gue dateng? Paling nyaksiin temen kaya berpengaruh jadi sanjungan, trus dia yang kasih sambutan dan ngajuin ide. Gue mendadak jadi mahluk yang nggak bersyukur!

Puluhan tahun berpisah tentu cerita hidup orang bisa jauh berbeda seperti bumi dan langit. Baiknya pertemuan dijadikan kesempatan untuk saling beri manfaat, saling melengkapi, hingga  nilai silaturrahmi bukan cuma sekedar "Ketemu".

Saya dapat informasi tambahan, alumni angkatan 89 ini  punya simpanan kas lumayan besar untuk beasiswa anak anak sahabatnya yang berkekurangan. Semoga jadi contoh buat alumni sekolah lain.

Terimakasih SMA 1 Teladan, ... Terimakasih Yayasan Kick Andy.
Semoga  ridlho dan berkah Allah  tercurah buat anda semua.... Amiin ya Rabb.











Saturday, 23 July 2016

Batal Menulis


Sebenernya kepengen nulis kegiatan tadi siang. Saya mewakili yayasan, memenuhi undangan reuni SMA 1 Bogor, angkatan 89, untuk menerima donasi secara simbolis.

Bagus ya, musim halbil dan reunian paska lebaran begini, digunakan sebaik baiknya untuk menyantuni dhuafa. Bukan menghambur uang dan cerita di cafe cafe.

Tapi, sejak kemarin  perut saya sakit. Puncaknya habis sholat maghrib,tadi. Jadi setelah minum obat, langsung tidur.

Alasan lainnya, saya pusing liat postingan-postingan lama. EYDnya ancur mbleduk! Duh, ilfil euy!

Banyak tulisan yang harus dibenahi. *Orangnya juga sik!
Saya tak teliti pada tanda baca, dan tak sabar mengedit sebelum dipublish.

Keliatan banget, tulisan cuma pelampiasan. Asal  bisa cerita, ya sudah!
Padahal bikin sakit mata pembaca. *Yang faham EYD pasti gemes deh!

Hari hari memang harus ada yang diperbaru dan diperbaiki, kan?
Kalau cuma makan minum, apa bedanya sama hewan?

Ok, saya mau sholat isya,trus  tidur lagi! Selamat malam dan selamat istirahat,sahabat... :)


Sunday, 17 July 2016

Ambil Bunga saat Resepsi Usai



Seperti biasa kalau resepsi pernikahan usai, tamu anak-anak, wanita muda,sampai usia tua mengincar bunga-bunga segar dekorasi ruang. Saya juga pernah begitu, tapi beraninya kalau  perkawinan keluarga. Bunga Krisan yang berasal dari Italy dan bunga  Lily  paling bikin jatuh hati dibanding segar dan meronanya bunga Mawar.

Saya fikir, empunya hajat pasti terlalu sibuk untuk memikirkaan bagaimana kesudahan bunga bunga itu. Seperti waktu adik bungsu saya menikah, kami cuma bawa pulang sedikit bunga pelaminan untuk hibur mata. Tak ada beban melihat tamu melepas lepas  bunga dari partisi maupun vas meja makan.

Hari ini seusai acara resepsi di masjid  Baiturrahman Gedung DPR, saya lihat pemandangan yang menyentuh.

Seorang ibu dan anak perempuannya usia kira-kira 5 atau 6  tahun terpesona memandangi  karangan bunga di sisi kanan pintu masuk. Pelan pelan sang ibu mencabut 2 bunga krisat pink untuk mereka seorang satu.

Anaknya menggeleng sambil cemberut.  Si ibu berinisiatif pilih bunga lain. Tapi tetap saja anak merengek sambil buang bunga.
Dengan sedikit kesal si ibu memungut lalu  menggamit anak menuju parkiran.

Di sana ada  bunga ucapan pada  bord besar. Si Ibu memberinya bunga-bunga warna kuning.
Namun diluar dugaan, usaha ibu bukan menghibur malah membuat anak marah sambil menangis.

"Nggak Mauuu, nggak Mauuu! Ini punya orang!"

Ibunya tertegun sebentar, lalu membuang semua bunga yang sudah dikumpulkan dan berlalu dari situ.

*Ambil bunga Bank hukumnya haram. Hukumnya apa ya kalau  ambil bunga pesta?  :)





Saturday, 9 July 2016

Wanita di depan Bakerry



Mulai turun dari mobil, menyeberang, memeluk teman yang sudah beberapa menit menunggu, saya lakukan dalam 1 waktu. Sempat ujung mata  menangkap ada wanita muda melihat kegiatan saya.  Ia berpakaian lusuh duduk di depan pintu toko kue Mayestik tempat saya janjian.

Waktu berlalu... Kami bicara soal  sumbangan kacamata, pelaksanaan pembangunan MCK di Pesantren Bantar Gebang  sambil menunggu satu sahabat lagi.
Sudah hampir siang, tapi belum ada pengunjung toko yang memberi wanita itu sedekah.

Setelah sahabat yang ditunggu datang, masuklah kami ke toko pilih-pilih  kue untuk donatur yang akan kami kunjungi.
Saya juga beli roll cake lembut rasa pandan untuk bapak buka puasa. Kebetulan rumah donatur satu wilayah dengan bapak.

Meski banyak kue kue cantik terpampang,  tapi fikiran saya masih saja  ke wanita itu.

"Dia kan masih muda, harusnya bekerja!" Kata teman yang faham, saya tidak fokus belanja.

Di antrian kasir, saya berdiri paling belakang. Tiba tiba sahabat saya (Dara) yang sudah selesai bayar bilang ...

"Mbak nggak usah bayar, saya sudah niat nraktir!" 

Wahh, belum sempat bilang terimakasih dia sudah menyodorkan  3 kotak kue mahal. Suprise!!

"Yang Kue Bika Ambon  untuk Bapak ya!" Pesan dia dengan suara pelan khasnya.

Dara amat sayang dan hormat pada bapak. Entah mengapa, meski bapak sedikit bicara tapi  teman-teman yang yatim sayang sejak  kenal bapak.

(Terimakasih Dara, si lembut hati dan pemurah)

Saya bergegas keluar cari wanita tadi. Tradisi sendiri sebenarnya, setiap menerima kenikmatan, saya harus segera memberi sesuatu kepada yang pantas menerima.  Senang bisa mengekspresikan rasa syukur  selagi hangat.

Wanita tadi wajahnya datar waktu menerima uang. Namun di luar dugaan dia berdiri dan  masuk membuntuti. Saya dan teman teman terpana menunggu, mau apa dia??

Dengan tenang dia ke samping kasir  lalu  masukkan uang pemberian saya ke kotak amal!

"Lhoo, kok! Apa dia marah dikasih segitu?" Kata teman sambil tertawa penuh heran.

"Mungkin dia menjalankan bisnis amal MLM". Jawab saya asal.
Tapi sungguh, kami dan pengunjung lain heran campur kagum.

(Kiranya, Cukup satu bintang di malam gelap,  karna kita yakin kerlipnya cermin dari sumber cahaya yang memberi kebaikan pada kehidupan.)

Ini mirip kisah nyata Kakek Dobri Dobrev dari Bulgaria yang usianya mencapai 100 tahun di tahun 2014 lalu. Kakek berjanggut panjang itu dapat julukan malaikat karna kekayaannya habis ia serahkan untuk amal.

Hingga kini ia masih berdiri di depan gereja Katedral Alexander Nevsky mengenakan mantel tua. Setiap menerima sedekah dari pejalan kaki, ia sumbangkan kembali.

Ah, jadi ingat lagi mangkok kosong, jalannya, dan tatapan orang disekeliling.





Friday, 8 July 2016

Saat Ramadhan Usai...






Selamat Hari Raya Iedul Fitri sahabat-sahabat tersayang
Taqabbalallahu Minna wa Minkum
Shiyamanaa wa shiyaamakum

Semoga hati kita tetap ramadhan
Giat dalam beramal ibadah
Dan selalu merasa diawasi Allah



Ramadhan telah pergi...Apa yang sahabat lihat dan rasa?

Saya melihat...

Ada yang jatuh bangun meninggikan kwalitas taqwa
Setengah mati menjaga waktu dan lidah  dari terkaman kesia sia an
Pertengahan malam masih ada suara parau menahan kantuk
 melantunkan ayat di surau kampung.

Tapi di lain tempat, ada rekan kerja muslim anak saya yang memandang aneh,
"Hah, kamu bisa puasa lengkap 30 hari?"

Seorang ibu bepergian dengann 2 putrinya ke Kota
"Hari ini kami libur puasa, karna ada pertunjukan di gedung Kesenian"

Di sudut rumah makan, tak jauh dari gedung sekolah Islami,
Beberapa pelajar mengikik riang
Masing masing pamer cerita
Bangga mampu akting  puasa di depan orang tua

Ibu, juga remaja berhijab  makan di sisi jalan.
Karyawan pabrik, rame rame merokok di tempat teduh.
Sopir angkot dengan santai merokok .

Saya yakin...
Ibu mereka sejaman dengan ibu saya
berani menghardik, bila makan tak sembunyi-sembunyi
saat masa "Berhalangan" datang

Saya yakin mereka juga pernah merasakan
bagaimana puasa setengah hari
dengaan mata yang selalu menatap  jam dinding
lalu dengan sabar sang ibu membujuk, menguatkan.

Di mana rasa malu kini?
Di mana hasil didikan orang tua dahulu?

Apa yang saya rasa?

Rasa senang, karna rumah baru yang saya tempati minim barang. tak makan banyak waktu  untuk bebenah/bebersih, hingga khatam quran bertambah dibanding tahun lalu.

Mampu menolak undangan menarik, bisa menahan diri dari nge-blog, dan alhamdulillah,  suasana rumah  juga masjid nyaman untuk ibadah.

Rasa senang terbesar, ada yang mengingatkan saat prasangka negativ muncul. Menghibur saat keluh kesah,  ketakutan datang.

Kesulitan pun ada,
Sulit menahan kantuk! Supaya mata segar lagi... berbagai cara saya lakukan.
Buka FB sebentar, ngemil, ngopi, dll. Tapi karna dipaksa  jadi migren.

Pernah sulit menahan nafsu. Saya makan cabe rawit dengan risoles saat buka puasa, kontan malamnya sakit lambung , walhasil tak puasa besoknya.

Yang bikin sedih...
Saat sholat isya dan witir terakhir!
Bukan karna takut tak ada umur di ramadhan mendatang!
Tapi mempertanyakan sikap Allah saat melihat ibadah saya sebulan.
Akankah Ia berkenan mengubahnya menjadi peta yang jelas arah untuk "Kembali"
atau jadi tongkat kearifan, pembimbing keseharian?

Sepuluh malam terakhir, sedih dan tanya datang kembali
Apa layak  berharap mendapat si seribu bulan?
Taat kepada imam keluarga tak memungkinkan saya untuk beritikaf,
sedikit kesempatan untuk hadir menyenangkan hati orang tua, selalu terputus saat berdua dua dengan Allah.

Al-Adl sifatullah...
Banyak hamba dalam keterbatasan...
Perempuan menyusui, tukang panggul di pasar terengah letih, penjaga rumah sakit, petugas keamanan. apakah tanpa itikaf lalu  moment mulia itu tak pantas untuk mereka?
Allah pemberi karunia kepada hamba yang dikehendakiNya. Sifat adilnya tentu membuat perhitunganNya jitu, siapa yang layak menerima.


Tetap berusaha meski sempit!
Laa yukallifu nafsan ila wus'ahaa.