Tuesday, 26 July 2016

Alumni SMA 1 Bogor, Berbagi Bahagia




Bulan Juli banyak  undangan. Acara halbil komunitas, reuni kampus, reuni alumni SMA 1 Bogor angkatan 86, acara  pernikahan, dan kajian.  Jarak waktunya berdekatan.
Khawatir lupa, saya tempel note di samping kulkas. Pokoknya menyolok terlihat kalau mau masuk dapur. *Sok sibuk banget ya!

Undangan SMA 1 paling pagi.
Saya bukan alumni sana. Kedatangan saya untuk terima donasi (Disponsori yayasan Kick Andy) secara simbolis, untuk anak dhuafa binaan saya.

Wah, ribet! Harus siapkan makanan  sebelum berangkat. Pak suami yang saya kira mau pesan sarapan praktis, nggak taunya minta dibuatkan nasi goreng pedas.
Mana bawang merahnya piyik piyik, jadi lama  ngupasnya!

Eh, kenapa ya,  kalau masak dadakan hasilnya yahut? Bumbu berasa dan harumnya kecium. Ah, sayang nggak bisa nikmatin karna harus siap siap.

Panitia sudah jauh jauh hari kirim dafar acara, kebangetan kalau mereka panggil, saya masih di jalan.

Setelah rapi seger, buka pintu luar, trus nyalahin mobil. Eeehh... mobil nggak mau distater! Padahal udah mbela-belain ngelap pagi-pagi, biar nggak dekil sendirian di parkiran.
Haddoh! Padahal waktu pakek terakhir nggak apa-apa,kok!  *Hehe, terakhirnya tu pas lebaran sih, setelah itu nggak pernah dipanasin.
Terpaksa naik ojek lalu jalan kaki sedikit.

Alhamdulillah, acara  nggak pakek basa basi dan nggak bertele tele .
Nggak lama kemudian saya dengan wakil beberapa yayasan Panti asuhan dan club sepak bola, ke pentas menerima donasi sesuai  rencana waktu.



Saya suka dengan model acara reuni seperti ini. Sarat manfaat dan membuat orang lain ikut bahagia.
Mereka sumbang buku ilmu pengetahuan, sepatu sekolah, sepatu bola,  juga aksi sumbang darah.
Bukan sekedar kumpul, ketawa, karaokean dan makan makan sambil ngumbar cerita dan aib lama.

Nggak semua orang senang dengan acara reuni. Seperti salah seorang ibu pedagang bensin eceran  saat diajak temannya untuk hadir.

"Saya tidak mau datang, karna saya miskin!"

Jawaban yang bikin sontak sahabatnya.

"Tapi kan, nggak ada hubungannya reuni dengan kaya atau miskin!"

"Saya tetap tidak mau datang!" Tegasnya. 

Dia enggan menghadapi pertanyaan teman yang  menyinggung perasaan. Kerja di mana? Tinggal di mana? Anak sudah berapa?

Siapa tau, yang ditanya tidak punya pekerjaan tetap? Ada yang belum dikaruniai anak, dan ada yang malu menyebut alamat rumah karna nggak ada embel embel Komplek/Perumahan yang serba indah namanya.

Saya lupa baca di mana? Ada celetukan pedas tentang reuni.
"Hallah... untuk apa gue dateng? Paling nyaksiin temen kaya berpengaruh jadi sanjungan, trus dia yang kasih sambutan dan ngajuin ide. Gue mendadak jadi mahluk yang nggak bersyukur!

Puluhan tahun berpisah tentu cerita hidup orang bisa jauh berbeda seperti bumi dan langit. Baiknya pertemuan dijadikan kesempatan untuk saling beri manfaat, saling melengkapi, hingga  nilai silaturrahmi bukan cuma sekedar "Ketemu".

Saya dapat informasi tambahan, alumni angkatan 89 ini  punya simpanan kas lumayan besar untuk beasiswa anak anak sahabatnya yang berkekurangan. Semoga jadi contoh buat alumni sekolah lain.

Terimakasih SMA 1 Teladan, ... Terimakasih Yayasan Kick Andy.
Semoga  ridlho dan berkah Allah  tercurah buat anda semua.... Amiin ya Rabb.











No comments:

Post a Comment