Friday, 8 July 2016

Saat Ramadhan Usai...






Selamat Hari Raya Iedul Fitri sahabat-sahabat tersayang
Taqabbalallahu Minna wa Minkum
Shiyamanaa wa shiyaamakum

Semoga hati kita tetap ramadhan
Giat dalam beramal ibadah
Dan selalu merasa diawasi Allah



Ramadhan telah pergi...Apa yang sahabat lihat dan rasa?

Saya melihat...

Ada yang jatuh bangun meninggikan kwalitas taqwa
Setengah mati menjaga waktu dan lidah  dari terkaman kesia sia an
Pertengahan malam masih ada suara parau menahan kantuk
 melantunkan ayat di surau kampung.

Tapi di lain tempat, ada rekan kerja muslim anak saya yang memandang aneh,
"Hah, kamu bisa puasa lengkap 30 hari?"

Seorang ibu bepergian dengann 2 putrinya ke Kota
"Hari ini kami libur puasa, karna ada pertunjukan di gedung Kesenian"

Di sudut rumah makan, tak jauh dari gedung sekolah Islami,
Beberapa pelajar mengikik riang
Masing masing pamer cerita
Bangga mampu akting  puasa di depan orang tua

Ibu, juga remaja berhijab  makan di sisi jalan.
Karyawan pabrik, rame rame merokok di tempat teduh.
Sopir angkot dengan santai merokok .

Saya yakin...
Ibu mereka sejaman dengan ibu saya
berani menghardik, bila makan tak sembunyi-sembunyi
saat masa "Berhalangan" datang

Saya yakin mereka juga pernah merasakan
bagaimana puasa setengah hari
dengaan mata yang selalu menatap  jam dinding
lalu dengan sabar sang ibu membujuk, menguatkan.

Di mana rasa malu kini?
Di mana hasil didikan orang tua dahulu?

Apa yang saya rasa?

Rasa senang, karna rumah baru yang saya tempati minim barang. tak makan banyak waktu  untuk bebenah/bebersih, hingga khatam quran bertambah dibanding tahun lalu.

Mampu menolak undangan menarik, bisa menahan diri dari nge-blog, dan alhamdulillah,  suasana rumah  juga masjid nyaman untuk ibadah.

Rasa senang terbesar, ada yang mengingatkan saat prasangka negativ muncul. Menghibur saat keluh kesah,  ketakutan datang.

Kesulitan pun ada,
Sulit menahan kantuk! Supaya mata segar lagi... berbagai cara saya lakukan.
Buka FB sebentar, ngemil, ngopi, dll. Tapi karna dipaksa  jadi migren.

Pernah sulit menahan nafsu. Saya makan cabe rawit dengan risoles saat buka puasa, kontan malamnya sakit lambung , walhasil tak puasa besoknya.

Yang bikin sedih...
Saat sholat isya dan witir terakhir!
Bukan karna takut tak ada umur di ramadhan mendatang!
Tapi mempertanyakan sikap Allah saat melihat ibadah saya sebulan.
Akankah Ia berkenan mengubahnya menjadi peta yang jelas arah untuk "Kembali"
atau jadi tongkat kearifan, pembimbing keseharian?

Sepuluh malam terakhir, sedih dan tanya datang kembali
Apa layak  berharap mendapat si seribu bulan?
Taat kepada imam keluarga tak memungkinkan saya untuk beritikaf,
sedikit kesempatan untuk hadir menyenangkan hati orang tua, selalu terputus saat berdua dua dengan Allah.

Al-Adl sifatullah...
Banyak hamba dalam keterbatasan...
Perempuan menyusui, tukang panggul di pasar terengah letih, penjaga rumah sakit, petugas keamanan. apakah tanpa itikaf lalu  moment mulia itu tak pantas untuk mereka?
Allah pemberi karunia kepada hamba yang dikehendakiNya. Sifat adilnya tentu membuat perhitunganNya jitu, siapa yang layak menerima.


Tetap berusaha meski sempit!
Laa yukallifu nafsan ila wus'ahaa.
















No comments:

Post a Comment