Saturday, 9 July 2016

Wanita di depan Bakerry



Mulai turun dari mobil, menyeberang, memeluk teman yang sudah beberapa menit menunggu, saya lakukan dalam 1 waktu. Sempat ujung mata  menangkap ada wanita muda melihat kegiatan saya.  Ia berpakaian lusuh duduk di depan pintu toko kue Mayestik tempat saya janjian.

Waktu berlalu... Kami bicara soal  sumbangan kacamata, pelaksanaan pembangunan MCK di Pesantren Bantar Gebang  sambil menunggu satu sahabat lagi.
Sudah hampir siang, tapi belum ada pengunjung toko yang memberi wanita itu sedekah.

Setelah sahabat yang ditunggu datang, masuklah kami ke toko pilih-pilih  kue untuk donatur yang akan kami kunjungi.
Saya juga beli roll cake lembut rasa pandan untuk bapak buka puasa. Kebetulan rumah donatur satu wilayah dengan bapak.

Meski banyak kue kue cantik terpampang,  tapi fikiran saya masih saja  ke wanita itu.

"Dia kan masih muda, harusnya bekerja!" Kata teman yang faham, saya tidak fokus belanja.

Di antrian kasir, saya berdiri paling belakang. Tiba tiba sahabat saya (Dara) yang sudah selesai bayar bilang ...

"Mbak nggak usah bayar, saya sudah niat nraktir!" 

Wahh, belum sempat bilang terimakasih dia sudah menyodorkan  3 kotak kue mahal. Suprise!!

"Yang Kue Bika Ambon  untuk Bapak ya!" Pesan dia dengan suara pelan khasnya.

Dara amat sayang dan hormat pada bapak. Entah mengapa, meski bapak sedikit bicara tapi  teman-teman yang yatim sayang sejak  kenal bapak.

(Terimakasih Dara, si lembut hati dan pemurah)

Saya bergegas keluar cari wanita tadi. Tradisi sendiri sebenarnya, setiap menerima kenikmatan, saya harus segera memberi sesuatu kepada yang pantas menerima.  Senang bisa mengekspresikan rasa syukur  selagi hangat.

Wanita tadi wajahnya datar waktu menerima uang. Namun di luar dugaan dia berdiri dan  masuk membuntuti. Saya dan teman teman terpana menunggu, mau apa dia??

Dengan tenang dia ke samping kasir  lalu  masukkan uang pemberian saya ke kotak amal!

"Lhoo, kok! Apa dia marah dikasih segitu?" Kata teman sambil tertawa penuh heran.

"Mungkin dia menjalankan bisnis amal MLM". Jawab saya asal.
Tapi sungguh, kami dan pengunjung lain heran campur kagum.

(Kiranya, Cukup satu bintang di malam gelap,  karna kita yakin kerlipnya cermin dari sumber cahaya yang memberi kebaikan pada kehidupan.)

Ini mirip kisah nyata Kakek Dobri Dobrev dari Bulgaria yang usianya mencapai 100 tahun di tahun 2014 lalu. Kakek berjanggut panjang itu dapat julukan malaikat karna kekayaannya habis ia serahkan untuk amal.

Hingga kini ia masih berdiri di depan gereja Katedral Alexander Nevsky mengenakan mantel tua. Setiap menerima sedekah dari pejalan kaki, ia sumbangkan kembali.

Ah, jadi ingat lagi mangkok kosong, jalannya, dan tatapan orang disekeliling.





4 comments:

  1. Hai mba salam kenal yaaa saya suka konten blognya ^^
    Visit back ya mbaa makasih ;)

    ReplyDelete
  2. Terimakasih yaa, senang dapat koment dan hadirnya. Semoga Indah Nihayaturramah tetap semangat menulis, dan kelak bisa bergabung dengan komunitas penulis.Salam hangat dari Bogor. :)

    ReplyDelete
  3. Mba Oty, ceritanya saya sukaaaa banget. Mlm amal. Sedikit saran, EYD nya bisa diperbaiki sedikit lagi agar lebih mudah dibaca. Perlu koma atau titik di penggalan kalimat. Tadi agak lama saya memahami alurnya. Maaf ya mba. Sekedar saran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Arin yang baik... Senang sudah diingatkan. Seringkali saya tidak teliti EYD. Trimakasih ya Mbak :)

      Delete