Friday, 26 August 2016

Berusaha Dan Berserah


Saya agak nggak enak waktu tukang ojek yang tengah mengantar saya mengeluh  pendapatannya yang akhir akhir ini merosot tajam.

"Gara gara Gojek sama Grab bu, jadi susah begini!"

Saya diam saja. Harus bilang apa? Anak-anak saya yang dulu sering naik ojeg dia, sekarang  lebih memilih transportasi online.

"Bukannya Mamang punya langganan antar jemput sekolah?"

"Ada sih bu, tapi masih keneh kirang"*Masih juga kurang.

"Mudah-mudahan rejeki datang dari tempat lain ya,Mang" Kata saya.

"Amiin bu, Amiin"

Masih setengah jalan, saya mencoba nyambung pembicaraan lagi.

"Tapi , gimana ya Mang, anak anak saya tu sering butuh kendaraan yang langsung ke Stasiun.  Mamang ojeg di sini banyak yang nggak punya SIM dan nggak siap  Helm buat penumpang"

Saya terangkan juga, Gojek jam berapa pun bisa dipanggil, mereka siap masker, dan... Ongkos cuma 5000 perak untuk perjalanan yang hampir 10 kilometer, sementara ojeg minta 25 000.

"Masak semurah itu bu?" 

"Ya Mang, memang kadang tarif naik pada jam-jam tertentu, cuma nggak banyak"  Dia mengangguk beberapa kali

Sambil turun dan siap siap bayar, saya tanya...

" Anak-anak pada sehat,Mang?"

"Alhamdulillah pada sehat Bu..." Wajahnya sumringah.

"Alhamdulillah. Nggak apa-apa ya, Mang. Rejeki kan bukan dari motor ini. Bagaimana kalau  mamang banyak uang, tapi buat dokter?"

"Aduh... Jangan sampe buu !" Si Mamang senyum sambil masukkan uang ke saku dan siap putar haluan.

****

Obrolan dadakan dengan tukang ojeg, membawa pikiran saya pada masalah ihtiar dan rejeki. Dua hal yang jadi beban pikiran manusia purba hingga kini dan akan datang.
Demi pendapatan, manusia rela kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Menggunakan akal sehat mau pun trik curang demi duit.

Padahal saat lahir tangan kita kosong, nggak tau dari mana makanan masuk menumbuhkan raga? Semua ada yang menjamin!
Galon ASI sudah disiapkan sejak sang ibu masih gadis, pakaian, makanan, bisa sekolah,  kuliah, trus kenapa tiba-tiba  takut lapar dan masa depan?

Kita punya rejeki masing-masing yang nggak pernah meleset  ukurannya, baik kerja biasa mau pun workaholic. Karna dibalik kekurangan, ada bonus dari Allah. Di balik kelebihan ada yang Allah ambil.

Pendapatan sedikit, tapi dia sehat, sedikit keinginan, anak anak mudah diatur.
Pendapatan banyak, tapi  kewajiban banyak, selera makan dan pakainya tinggi.
Paling ngenes kalau kehilangan waktu kebersamaan dengan keluarga, akhirnya lonely dan pesakitan di masa tua.

Kita ada di abad yang mengandalkan akal tanpa sinar wahyu. Logika jadi raja yang diagung-agungkan. Hingga lupa bahwa Allah menguji manusia dengan KETAKUTAN dan KELAPARAN. Takut masa depan, takut  sakit, takut rugi.

Bukan Allah yang  ia ingat pertama kali saat musibah datang, tapi pada  BPJS, fasilitas , hubungan luas, dan lain lain. Sandaran yang sangat lemah!

Kenapa begitu? Karna pemahaman Aqidah masih minim.
Bukan salah ustad yang mengajari kita, tapi kita sendiri yang tidak kontinyu dalam belajar, tidak step by step, cuma ambil secomot-secomot, hingga salah menerjemahkan kehendak Rabb.

Ilmu itu masih dianggap sepele. kurang sadar bahwa itulah  kunci kunci menuju syurga. Dan... syurga tak murah! Perlu waktu, ihlas, bahkan air mata.


Dengan aqidah,  kita berserah dan bersandar di tempat yang benar dan kokoh.  Berihtiar diiringi keyakinan pada pertolongan Allah meski ketakutan tadi menyerbu setiap hari. Lama lama terbiasa menyatukan   ihtiar dan tawakkal. Bebas dari faham "Ini hasil keringat saya"

"Ya Rabb yang Maha Hidup, wahai Rabb yang berdiri sendiri, tidak butuh segala sesuatu. Dengan ramatMu aku meminta pertolongan. Perbaikilah segala keadaan dan urusanku. Dan jangan Engkau serahkan kepadaku meski sekejap mata sekali pun (Tanpa mendapat pertolongan dariMu)"  *Doa zikir Pagi Petang

Pasti kita pernah mengalami ini...
"Kok, penghasilan saya cuma sekian... sekian...Tapi bisa nutupin juga akhirnya? Udah gitu masih bisa sedekah pula, meski nggak banyak"

Ternyata ihtiar yang kita usahakan  pun sebetulnya nggak pernah mencukupi. Mesttiiii  ujung-ujungnya Allah juga yang nombokin! Tiap bulan ada saja pengeluaran  tak terduga, tapi selalu tercukupi hingga datang bulan berikutnya.
Pertolongan datang berbentuk waktu atau kelonggaran, terserah skenarionya Allah! Yang  jelas Allah nggak pernah kehabisan cara.
Tak jarang Allah beri jembatan dulu, baru muncul masalah. Dapat arisan dulu, baru motor rusak.

Keuntungan Berihtiar Dan Tawakkal

- Memupuk rasa kebergantungan kita pada Allah.

- Ngak kecewa kalau target atau cita-cita nggak terpenuhi, karna yakin Allah tau yang terbaik buat kita

- Menurunkan rasa Pe De yang berlebihan akan kekuatan diri. Nggak ada yang bisa jamin kesehatan kita kecuali Allah. Kalau sakit, kita nggak bisa kerja, nggak mampu ihtiar.

- Nggak paranoid pada masa depan

- Nggak perlu baik-baikin manusia, minta ridho manusia karna "Sesuatu". Berbaik pada manusia benar benar karna Allah saja.

- Nggak takut kehilangan pekerjaan/penghasilan.  Karna akidah yang baik bikin si pemiliknya percaya diri dengan bekal bantuan Allah, bukan di bawah kontrol dunia

- Dia yakin bumi Allah itu luas. Selama ia mau bergerak, pasti Allah menolong.
Nggak perlu buang-buang duit buat seminar seminar bergengsi, beli buku mahal mahal karangan profesor-profesor untuk memotivasi diri.

- Akidah yang baik dan benar, kompornya lebih panas!! Karna  Allah dan rasulNya yang memotivsi langsung.



Ya Allah lembutkan hati kami dalam menerima kebenaran. Semangatkan kami untuk menuntut ilmu agamaMU.





















No comments:

Post a Comment