Sunday, 7 August 2016

Roadshow FFH Video Competition Di Bogor




Baru pertama kali ini saya meliput workshop komunitas pembuat film.Mereka kumpul di Kuki Cafe & Restaurant, jalan Halimun Bogor, guna mendapat  informasi dan arahan sebelum  mengikuti kompetisi  film dokumenter yang diadakan FFH (Female Food Hero)

Sebelumnya saya cerita dulu ya, FFH itu apa?
FFH ini salah satu program kerjanya OXFAM, organisasi internasional yang  berupaya mencari solusi praktis dan inovatif , agar masyarakat miskin bisa memperbaiki ekonomi rumah tangganya. Berkampanye secara luas mengajak petani dan nelayan perempuan  mempengaruhi proses pengambilan keputusan /kebijakan pemerintah.

Organisasi yang lahir tahun 1957 ini menggandeng organisasi nasional demi pemenuhan hak atas pangan.
Tapi kenapa mengatas namakan perempuan? Sebab kuncinya ada pada petani perempuan sebagai tulang punggung pertanian di Indonesia.

Oxfam  melibatkan pemuda sebagai agen perubahan. Melalui karya mereka, masyarakat luas akan sadar, perempuan adalah pahlawan penghasil pangan. Penyambung rantai pangan yang harus diakui dan dihargai.
Tema yang pas sudah disiapkan,

"Tunjukan Pada Dunia, Siapa Perempuan Pejuang Panganmu"


Acara Workshop

Mas Wiwit sebagai pembicara pertama, menganjurkan peserta dapat menggugah penonton seputar kedaulatan pangan.
Perlihatkan bagaimana perjuangan petani atau nelayan dalam menghadapi kesulitan di lahan kerja dan kebijakan pemerintah yang pincang.

Dalam durasi pendek, sang sutradara harus  pandai membidik moment keseharian petani saat kerja di sawah, kemudian kembali ke rumah dan setumpuk pekerjaan rumah tangga sudah menanti.




Pembicara ke Dua, Siti Marsiyah yang akrab dipanggil "Mbak Imey" membuka dengan pertanyaan.

"Pernah membuat film dengan Hp atau handycam?
Langsung sorot atau edit?

Kebanyakan peserta pernah membuat film dengan hp untuk tugas sekolah, iseng biar bisa tampil di youtube, dan ada yang hobby dan ingin diseriusi.

Tahap Pembuatan Film

Dokumneter  sama dengan Rekam cerita. Bertujuan mendidik penonton agar terjadi suatu perubahan.

Film dokumenter terbaik karya anak bangsa yang bisa diambil pelajaran adalah film "Rayuan Pulau Palsu" atau "Tentang 3 Pengamen"

Cara membuat film yang baik, biasanya cari tema dulu, lalu susun skript atau naskah, memilah milah cerita, menentukan pelakon, menyusun daftar pertanyaan untuk wawancara petani. Nggak runut pun nggak apa-apa. Pilih saja mana yang bisa disiapkan lebih dulu.
Kadang ide pertanyaan lebih dulu muncul, atau pelakonnya sudah ketemu lebih dulu. Bebas saja!

Bedanya Film Fiksi Dan Dokumenter

Kalau film fiksi naskah harus tersedia sebelum shooting, dan tak boleh berubah.
Sedangkan film dokumenter naskah bisa setelah shooting berjalan. Sangat fleksibel! Bisa saja di akhir shooting ketemu adegan  yang pas, lalu akhirnya ditampilkan di pembukaan.

Imajinasi pembuat film sangat dituntut. Petunjuk pengambilan gambar saat dilapangan baiknya sudah matang, agar tak melenceng.
Sesekali bumbuilah dengan adegan  kocak atau haru , supaya penonton tak jenuh.

Mbak Imey melanjutkan,
Amat penting pengambilan suasana emosi petani. Misalnya saat ia letih, terengah engah, melap  keringat, pokoknya jeli manangkap mood.

Fungsi Script 

-  Sebagai panduan untuk pelaku produksi film
-  Membantu kamera man untuk mengambil mood pemeran
-  Membantu tim produksi mengirit ongkos produksi
-  Membantu editor dan membantu menentukan karakter pelakon

Enaknya penulisan naskah ini, nggak ada kata salah atau benar. Nggak ada teory dan prioritas. Asalkan sudah menentukan tema, tau pesan apa yang akan disampaikan, tau apa yang akan ditonjolkan, lalu risetlah! Agar cerita menjadi kuat.

Hasil riset bisa dikembangkan menjadi naskah, dan dari riset kita bisa punya referensi yang menentukan sudut pandang berbeda dengan film lain baik dari tokoh, stock shoot, dan point statement.

Tahapan Menulis Naskah / Script 

- Ada sinopsis dari hasil riset
- Treatment dari rancangan atau ide cerita
- skenario setelah riset selesai dan sudah diperiksa ulang.

Hal hal yang bisa dilakukan selama proses berjalan, ambil gambar yang lucu atau mengharukan, melakukan pendekatan dengan petani yang hendak kita wawancarai, memahami karakter orang desa yang tertutup, dan malu tampli di depan kamera.

Panduan wawancara bisa belajar dari film dokumenter "Indonesia Biru"

Tehnis Kompetisi




Tila, sebagai pembicara akhir mengingatkan peserta untuk memperhatikan persayaratan yang telah disepakati. Misalnya ...

- Menulis jelas  nama petani/nelayan,
- Tokohnya perempuan warga Indonesia yang memproduksi pangan untuk diri sendiri/keluarga/masyarakat.

-  Mendukung inisiatif pertanian bagi perempuan
-  Ia tinggal di pesisir
-  Tokoh jangan sampai sama
-  Hindari tampilan gambar yang berhubungan dengan lembaga, merk atau partai tertentu.

-  Maksimal 2 video yang dikirimkan
- Dead line tanggal 29 September.


Kompetisi ini terbuka untuk umum di seluruh Indonesia. Roadshownya akan berlangsung lagi di Makssar tanggal 12Agustus, dan Yogyakarta tanggal 24 Agustus yang akan datang.

Mau ikut kompetisi? Lengkapnya persyaratan  bisa dilihat  di sini
















No comments:

Post a Comment