Saturday, 17 September 2016

Pudingnya Orang Bogor




Bermula dari pertemuan antar komunitas Kota Bogor pada acara  Cerdas Cermat, merayakan HUT RI ke 71, di Taman Inspirasi-Sempur.
Kalau ditotal, ada 170 komunitas bertebaran di kota hujan ini. Bergerak di bidang sosial, hobby dan kuliner.
Salah satu komunitas terakhir inilah yang dengan PDnya memperkenalkan makanan kesukaan saya.Puding!

Wujud puding sembunyi di dalam kemasan rapih, berlabel  mirip nama pemain sinetron.

Komposisi puding pada penutup terlewat begitu saja. Bukan apa-apa, yang namanya puding pasti tampilan pertamalah yang bikin penasaran.
Kalau cuma puding biasa  berwarna polos, paling cocoknya dipotong dadu buat  es campur.



Puding Marsanda jauh dari yang saya bayangkan! Setelah kurir baik hati yang tetap mengantar meski  hujan  itu datang, jreeeng! Saya dapat puding bentuk Semangka. Cantik, unik! Rasanya kok sayang kalau langsung santap  sebelum dipotret.

Waktu mau mencicip, dengan hati-hati saya angkat potongannya, hawatir patah atau remuk.
Ternyata Puding Marsanda punya tekstur berbeda dengan puding rumahan dan murahan. Dia kenyal, tidak rapuh, tapi tidak kaku. Jadi meski kemasannya di mangkuk, mudah diambil dan tak perlu disalin ke wadah lain dalam posisi telungkup seperti puding umumnya.


Puding yang launching pertama tanggal 12 April 2015 ini berawal dari makanan favorite keluarga, kata Iwang  mengawali kisah perjalanan usahanya.
Resep sang ibu itu menginspirasi adiknya ( Tanti) lulusan Sekolah Menengah Kejuruan yang kreatif, lalu dikembangkan menjadi usaha keluarga.

Bicara usaha, bicara pemasaran. 10 bersaudara ini mampu menjadikan keluarga besar sebagai ujung tombak pemasaran. Anak dan keponakan semangat memperkenalkan puding. Mulai dari sekolah hingga perkantoran, lingkungan terdekat tempat mereka beraktivitas.




Kelebihan Puding Marsanda

Rasa puding tak sekedar manis gula. Tapi manis susu  berpadu dengan gurih santan. Selain rasanya  tak membuat bosan, legit kala digigit, menyantapnya pun aman, karna zat pewarna yang digunakan adalah pewarna makanan yang memenuhi sarat makanan sehat.

Kelebihan ini otomatis jadi iklan gratis dari mulut ke mulut. Semula memproduksi 20 puding sehari,  sekarang sudah 100 puding per hari.
Alhamdulillah, semua berkat doa anak anak yatim juga, mereka mendoakan kami saat launching pertama, kata aktivis Koperasi UKM ini.

Beliau menargetkan, jika Puding Marsanda berhasil memproduksi 250 puding perhari, maka sudah waktunya ia punya toko khusus puding. Pertimbangannya  lebih aman dan menguntungkan dibanding pemasaran dengan cara konsinyasi yang berakibat arus kas ( Cash Flow) mengendap.

Biar nggak produksi sehari, tukang masak nganggur, nggak apa-apa deh! Dari pada konsinyasi. Kami lebih suka memasarkan sendiri. Lebih terpantau dan bikin laporannya pun mudah. Lanjutnya.

Kenapa Jadi Puding Pilihan?


Karna selain enak, tampilan OK, harga murah, bisa dimakan orang sehat mau pun yang tengah sakit.

Pesan antar akan memudahkan siapa saja yang berniat kasih kejutan ulang tahun,  bikin suprise kepada sahabat dan kerabat,  jadi buah tangan,  solusi saat kepepet waktu dan harus sumbang makanan di satu acara, atau buat bingkisan  besuk orang sakit.
Selama masih dalam wilayah Jabodetabek, insya Allah cepat terlayani.

Dengan harga 35.000 rupiah, kita dapat 36 potong puding. Bisa pilih bentuk  Buah Semangka, Buah Naga, Rainbow, atau  Broken Glass. 
Jangan takut kehabisan kalau ada beberapa orang spesial yang hadir.
Kalau mau lihat tampilannya, bisa cek di  Facebook atau  pada Instagram.



Buat Yang Penasaran

Ingin pesan atau ingin bekerja sama dalam bisnis  ini?
Tinggal hubungi  Customer Service- 08  777  0597 810. Ongos kirim dalam kota Bogor sebesar 15.000 Rupiah, sedangkan ke Kabupaten 25.000  Rupiah.

Warga Bogor yang mau pilih langsung, bisa datantg ke Jalan Veteran, dekat Stasiun Bogor ( Mall Jembatan Merah). Sayangnya tanggal 11 September 2016 kemarin, sudah batas akhir dapat bonus. Beli 5, gratis 1.

Bila ingin memasarkan, puding yang kuat 5 sampai 7 hari ini, bisa dijual lagi dengan harga 40 sampai 50 ribu, 


Suka Duka

Kadang ada kendala  ditemui, namun kesabaran dan tekad memuaskan pembeli, tetap tertanam.

Ke depannya Iwang ingin menggunakan  jasa J** dalam pengiriman,  namun  masih harus  mempelajari dulu ilmu packaging , agar puding khas orang Bogor ini aman dalam kemasan dan tetap cantik.

Semangat terus yaa...




















Monday, 5 September 2016

Bertahan Mendengarkan

Pada  pameran lukisan adik saya, tepatnya di Hotel Hilton, saya dikenalkan pada sahabatnya. Dia pemuda nyaris tanpa cela dari tampilannya. Dari nama belakangnya, saya tahu dia dari keluarga ilmuwan dan pengusaha ternama.

Tak hanya fisiknya yang mengundang kagum. Atau senyum pada deretan gigi bersih, rapih sedikit membiru.
Lebih dari itu,  cara dia mendengarkan lawan bicara, meninggalkan kesan panjang.
Matanya seperti sigap menangkap sesuatu yang bakal mengalir dari pembicaraan. Ketidak sok tahuannya membuat kita merasa penting dihadapannya.

Saat menerangkan sesuatu, ia hanya butuh sedikit kata. Namun berhasil membawa kita ke alam yang ia maksud.
Kecerdasan dan etika seseorang mudah terlihat kadarnya meski dalam pertemuan singkat.

Tindakan mendengar menjadi sulit sekarang ini. Kebiasaan cepat memberi komentar di media sosial, menjadikan kita mudah bereaksi, tak sabar menimbang kata dan rasa. 

Dalam obrolan berat atau ringan, dengan mudahnya memberi tanggapan sebelum ada sinyal permintaan. Komunikasi jadi kesempatan mempamerkan kepandaian.

Pendengaran dimanfaatkan saat ingin mengkritik. Seperti binatang  siap menerima potongan yang dapat diterkam dan dirobek! 

Atau percakapan berlalu begitu saja. Hadir secara fisik, mendengar apa yang mereka katakan. Tapi tak lebih dari suara gaduh.lebih suka menggunakan lidah dari pada telinga. Ketika menahan lidah, seringkali itu bukan untuk mendengarkan, tapi menunggu nunggu kapan lagi kita dapat giliran membuka mulut.

Bisa jadi mendengarkan, namun asik dalam alam pikirnya sendiri. Pembicaraan tak lebih untuk menjaga etika. 
Padahal cara kita mendengarkan menentukan seberapa baik komunikasi dan seberapa mulus hubungan kita dengan orang lain bisa tumbuh dan berkembang.

Keuntungan mendengar adalah keselamatan.  Jauh dari penyesalan. Kita terlatih  menjauh dari sifat sok tau, menghakimi orang, mudah mengoreksi, dan salah dalam berkesimpulan. Bahkan bisa terhindar dari penawaran solusi yang tak perlu.

Dengan mendengar, suara batin akan lebih besar. Paham apa yang disampaikan, menyelami sudut pandang orang lain. Bukan dari sudut pandang pribadi!

Bagaimana kita dapat menganggap pembicaraan orang lain adalah penting? Bagaimana kita bisa mengoreksi? Jika fisik sibuk buka mulut, memggerakkan lidah, menggetarkan pita suara. Kegaduhan pikiran terus menerus mengisi ruang batin.

Lalu...Bagaimana caranya?
Caranya, bersabar!
Sudah cukup Allah ingatkan kita denga ciptaanNya. Dua mulut dan satu telinga. Eh, salah yaa...:)

Bertahan mendengarkan lebih baik dan lebih aman menyelamatkan. Jika kebosanan menyergap atau tak ada sesuatu hikmah pun yang bisa diambil. Sudahi dengan manis. #Selfreminder