Monday, 5 September 2016

Bertahan Mendengarkan

Pada  pameran lukisan adik saya, tepatnya di Hotel Hilton, saya dikenalkan pada sahabatnya. Dia pemuda nyaris tanpa cela dari tampilannya. Dari nama belakangnya, saya tahu dia dari keluarga ilmuwan dan pengusaha ternama.

Tak hanya fisiknya yang mengundang kagum. Atau senyum pada deretan gigi bersih, rapih sedikit membiru.
Lebih dari itu,  cara dia mendengarkan lawan bicara, meninggalkan kesan panjang.
Matanya seperti sigap menangkap sesuatu yang bakal mengalir dari pembicaraan. Ketidak sok tahuannya membuat kita merasa penting dihadapannya.

Saat menerangkan sesuatu, ia hanya butuh sedikit kata. Namun berhasil membawa kita ke alam yang ia maksud.
Kecerdasan dan etika seseorang mudah terlihat kadarnya meski dalam pertemuan singkat.

Tindakan mendengar menjadi sulit sekarang ini. Kebiasaan cepat memberi komentar di media sosial, menjadikan kita mudah bereaksi, tak sabar menimbang kata dan rasa. 

Dalam obrolan berat atau ringan, dengan mudahnya memberi tanggapan sebelum ada sinyal permintaan. Komunikasi jadi kesempatan mempamerkan kepandaian.

Pendengaran dimanfaatkan saat ingin mengkritik. Seperti binatang  siap menerima potongan yang dapat diterkam dan dirobek! 

Atau percakapan berlalu begitu saja. Hadir secara fisik, mendengar apa yang mereka katakan. Tapi tak lebih dari suara gaduh.lebih suka menggunakan lidah dari pada telinga. Ketika menahan lidah, seringkali itu bukan untuk mendengarkan, tapi menunggu nunggu kapan lagi kita dapat giliran membuka mulut.

Bisa jadi mendengarkan, namun asik dalam alam pikirnya sendiri. Pembicaraan tak lebih untuk menjaga etika. 
Padahal cara kita mendengarkan menentukan seberapa baik komunikasi dan seberapa mulus hubungan kita dengan orang lain bisa tumbuh dan berkembang.

Keuntungan mendengar adalah keselamatan.  Jauh dari penyesalan. Kita terlatih  menjauh dari sifat sok tau, menghakimi orang, mudah mengoreksi, dan salah dalam berkesimpulan. Bahkan bisa terhindar dari penawaran solusi yang tak perlu.

Dengan mendengar, suara batin akan lebih besar. Paham apa yang disampaikan, menyelami sudut pandang orang lain. Bukan dari sudut pandang pribadi!

Bagaimana kita dapat menganggap pembicaraan orang lain adalah penting? Bagaimana kita bisa mengoreksi? Jika fisik sibuk buka mulut, memggerakkan lidah, menggetarkan pita suara. Kegaduhan pikiran terus menerus mengisi ruang batin.

Lalu...Bagaimana caranya?
Caranya, bersabar!
Sudah cukup Allah ingatkan kita denga ciptaanNya. Dua mulut dan satu telinga. Eh, salah yaa...:)

Bertahan mendengarkan lebih baik dan lebih aman menyelamatkan. Jika kebosanan menyergap atau tak ada sesuatu hikmah pun yang bisa diambil. Sudahi dengan manis. #Selfreminder










No comments:

Post a Comment