Wednesday, 19 October 2016

Fotography Arsitektur Dan Interior Yang Menyatu





Pernah ditontonin orang. Di gonggong anjing juga pernah, gara-gara motret rumah-rumah  tua yang ada di seputaran jalan Dewi Sartika Pasar Anyar dan Jalan Surya Kencana. Tapi kalem aja! Yang penting sudah saya abadikan, tersimpan dalam dokument.

Kota Bogor seperti remaja yang sedang mengalami perubahan fisik. Senang berdandan, ingin tampil beda, bikin pangling!
Beton tinggi penginapan dan resto bermunculan menggantikan rumah beratap kerucut dengan jendela kayu lebar berkisi,  khas arsitektur Belanda.

Sedih, Tapi mau diapain? Rumah hangat sederhana penyimpan cerita beberapa generasi itu memang harus pecah jadi warisan berbagi.
Entah, ada Perda yang melindungi rumah tua seperti di kawasan Menteng Jakarta, atau nggak?

Pikiran saya sederhana saja,  rumah bukan cuma tempat bernaung, tapi produk kebudayaan manusia dari zaman ke zaman.
Lihat saja, penggunaan material kayu, besi, dan kaca yang berbeda mewakili perbedaan masa.

Karya arsitektur mengandung  estetika, seni,ekspresi, realita dan harmoni. Dengan mendokumentasikannya, kelak saya bisa bercerita pada generasi selanjutnya.


Hasil jepretan masih terlalu sederhana, karna hanya mengambil dari satu sisi. Padahal banyak detil bagian bangunan bisa bercerita juga.
Harusnya saya minta izin pada pemilik rumah. Motret ruangan-ruangan, cari obyek unik, sambil bertanya sejarahnya. Lebih asik lagi kalau bisa lihat foto jadulnya, trus jadi deh.. foto Before dan after.

Keharusan itu saya  tahu setelah ikut workshop fotography arsitek di Hotel Grand Savero Bogor beberapa hari lalu tanggal 15 Oktober. Kebanyakan anak berseragam abu-abu yang datang ke hajatannya  KFB  Komunitas Fotography Bogor) ini. Ehemm! Berasa muda lagi :)
Workshop ini membuka wawasan saya, bahwa fotography arsitek bisa diperkuat dengan fotography interior.

Alhamdulilllah, ini kehadiran saya ke dua di workshop serupa. Yang sebelumnya  bisa dilihat di sini, dalam bahasan yang berbeda.


Pembicara Sesi Pertama




Mas Priadi Soefjanto, dosen ilmu fotography-Institut Kesenian Jakarta, menjelaskan...

Banyaknya manusia lalu lalang dari negeri ke negeri, mempengaruhi gaya bangunan di negaranya sendiri. Bangunan ibadah  kini beragam gaya, ada model Parsi, India, Arab dan lain-lain.
Orang Eropa yang jatuh cinta bali, langsung membuat rumah peristirahatannya bergaya bali, dengann seni detilnya.
Atau di tahun 80-an, perumahan Pondok Indah Jakarta, bermunculan rumah-rumah berpilar model Spanyol.

Tiap bangunan punya jiwa/philosopinya sendiri. Seperti rumah suku Jawa. Makin tinggi dan berlapisnya plafon, menandakan makin tinggi kedudukan si pemilik rumah.

Seorang photografer arsitektur wajib tahu dan menonjolkan jiwa rumah tersebut melalui kameranya. Perhatikan, rumah  asli  orang Bali berpondasi tinggi di atas permukaan tanah. Di terasnya ada beberapa anak tangga. Philsopinya agar penghuni rumah merasa tenang dan aman dari air atau binatang. So, jangan sampai photograper memotret rumah tanpa tangga.




Ketelitian Perlu

Supaya gambar nggak  membosankan, cari detil benda yang ada di rumah. Misalnya pegangan pintu, grendel jendela, bentuk jendela dan lain lain.

Bila ingin membuat  foto rumah terkesan menonjol dibandingkan bangunan lain di kiri kanannya, siapkan banyak lampu sorot. Seperti pengambilan gambar Gedung Indocement yang butuh 19 lampu  di titik titik penting .

Jangan lupa mencatat di mana titik titik lampu di pasang. Supaya mudah menyiapkan kembali  bila harus potret ulang ( Re-Take).
Properti harus aman dari gangguan kabel, dan lalu lintas orang. Satu lampu jatuh, artinya uang besar  melayang.
Properti fotography harganya cuma 2 macam. MAHAL dan MAHAL BANGET!


Menentukan perpektif harus diutamakan , yaitu cara pandang kita pada objek foto. Mau meninggalkan kesan apa pada saat orang melihat fotonya? Kesan luas kah? Megah? Tinggi?
Dengan perpektif, foto jadi berdimensi. Arah, jarak pengambilan, dan tinggi rendahnya posisi kamera waktu memotret sangat mempengaruhi.

Ada istilah "Titik Lenyap"  ( Finishing Point) dalam ilmu fotography. Dengan memanfaatkan titik lenyap saat memotret, maka satu lorong atau jalan, makin lama makin mengecil hingga hilang. Ini contoh titik lenyap 1


boardwalk in mangrove forest


Dan berikut contoh titik lenyap 2

split level


Pembicara Sesi ke dua




Mas Irfan Nurdin, fotographer majalah Arsitek Griya ASRI banyak menerangkan tehnis pengambilaan gambar dan pengenalan fisik kamera. Ia mengatakan foto kita harus penuh cerita. Bukan sekedar gambar.

Yuuk kita nge-cek hasil jepretan kita kemarin-kemarin! Apa bercerita?
Ya doong pastinya! Tapi kita sendiri yang ngerti ceritanya, haha !


Lalu beliau mengajak kita memanfaatkan  lensa Fishaye bila ingin semua pemandangan luas masuk dalam satu frame.
Pernah nggak, kepengen ambil semua moment, tapi gatot? *Gagal Total

Saya alami waktu diminta tolong motret acara ijaab qabul anaknya tetangga.
Itu ruangan tamunya sempiit.

Saya pakek Nikkon Analog Dx 1900 dengan lensa zoom... berapa ya? *Lupa! Akibatnya gambar keambil  separo separo. Trus saya cropping yang pas setelah dicetak. Maksain banget! Untungnya nggak kelihatan setelah masuk album. Apalagi zaman itu kan asesories album lagi musim, jadi tersiasatilah.

Dengan lensa fishaye. kita bisa ambil panorama luas dengan maksimal. Atau sekumpulan banyak orang pada foto resmi tanpa harus berkali kali take.

Sejajarnya lensa dengan garis cakrawala luas, menghasilkan gambar dengan sudut lebar,  sedikit yang terdistorsi.

Namun jika lensa arahnya di bawah cakrawala, maka terlihat gambar langit melengkung  dari cakrawala. Sayangnya lensa ini punya titik fokus pendek.

Image result for kamera fish eye maksudnya


Fotography arsitek dan interior nggak terpisah. Keduanya sama sama  mengandung art, pilihan sudut, transposisi, juga  tata letak.

Ruangan yang sama akan tampil beda bila intensitas cahaya berubah. Dan tak semua ruang bagus diambil pada siang/malam hari.

Hindari asesories yang terlalu ramai di ruang kamar. Untuk kesan alami, nggak usah terlalu rapih-rapih amat! Tapi berantakan pun jangan! Timbulkan kesan bahwa peralatan di kamar itu baru digunakan pemiliknya. Misalnya selimut yang sedikit tesingkap, meja dengan segelas kopi , majalah terbuka dan kacamata.
Kehadiran orang, atau binatang, pun bisa menghapus kesan formal.

Jangan ragu mengambil sudut  kaku. atau gambar  tak utuh. Garis-garis  tak selalu harus lurus. Ketidak sempurnaan malah membuat hidup.

HT / Alat komunikasi jarak pendek perlu disiapkan. Kadang ambil gambar out door malam hari, lampu ruang tak semua menyala. Memberi intruksi dengan HT akan mempermudah.

Siapkan juga  printilan-printilan seperti peniti, untuk mengencangkan posisi sprei. Lakban, isolasi, untuk merapihkan kabel-kabel yang menjuntai tak teratur.

Sesi Tanya Jawab

Rupanya nggak  banyak kesempatan bertanya. Audience bergerak cepat  menggunakan waktu untuk praktek langsung di lobby. Beruntung saya dapat kesempatan bertanya dan kasih saran agar KFB sewaktu waktu mengadakan lomba foto rumah-rumah tua di Kota Bogor.

Fotography arsitek dengan Interior yang menyatu, akan menghasilkan gaambar dan cerita yang menarik untuk dikenang.
KFB, terimakasih undangan dan sajian lezatnya yaa..Oh, sertifikatnya jugaa!























4 comments:

  1. Ilmu fotografi makin berkembang saja ya, makin asyik untuk diikuti hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener,Mbak. Peralatan pendukungnya pun makin canggih!

      Delete
  2. lengkap banget mba oti tulisannya, aku gak ikut acara ini jadi kebagian ilmunya juga, makasii yaaa :))

    ReplyDelete
  3. Seneng kalau bisa bermanfaat buat Rani. Btw, saya nyesel deh... Nggak ketemu Rani. Semoga di lain event yaa.. :)

    ReplyDelete