Thursday, 17 November 2016

"Lestari Wastraku, Lestari Negeriku".




Negeri kita ini  ajaib ya..
Panglima TNI Gatot Nurmantyo pernah bertanya di hadapan para presiden Badan Mahasiswa se Indonesia.
"Coba cari, daerah mana yang tidak punya senjata khas? Daerah mana yang tak punya tarian perang? Tidak ada!

Semua pulau di negeri ini punya sesuatu yang khas. Baik bahasa, rumah,  perhiasan, musik, makanan, buah-buahan, binatang dan lain-lain.
Dan kemarin saya melihat kekayaan lain .... 183 macam kain tradisional Nusantara, pada  acara "Seribu Nuansa Satu Indonesia" di Museum Nasional Jakarta.

Pameran yang melibatkan 34 museum dari 433 museum seluruh Indonesia ini mengundang   duta-duta museum dari berbagai daerah. Menginap 4 hari di satu hotel dan datang bersama  mengenakan baju khas daerahnya masing-masing.
Kami berdoa dan mengumandangkan lagu  Indonesia raya bersama dalam gedung putih berpilar.  Di hangatnya cuaca politik saat ini, tentu membawa perasaan tersendiri yang sulit dilukiskan. 

Tamu kehormatan telah  membuka Cenara bertutup beludru hitam payet emas,  tanda acara dimulai.  Disusul tari Sulawesi  berbaju Bodo yang warna dan modelnya selalu bikin saya jatuh cinta.

Dulu, waktu aktif menari di Taman Mini Indonesia, Bapak  Ibu wanti wanti berpesan, tarian adat apa saja, boleh! Asal jangan tari Anging Mamiri dan tari Pendet. Haha...kuciwa!





Dirjen Pariwisata sebagai pembicara kedua setelah Kepala Musium mengatakan, kain tradisonal kita sudah mendapat pengakuan badan dunia sebagai warisan budaya. Tinggal pengakuan dalam negeri saja yang belum maksimal.

Sebisa mungkin ajak dan biasakan anak anak berpakain  tradisionil pada acara khusus keluarga. Pendidikan tentang warisan budaya pun penting dengan cara mengajak mereka ke pameran-pameran.

Waktu pejabat dan utusan daerah memasuki ruang pameran. Undangan media seperti saya dan teman-teman dipersilahkan menikmati hidangan dulu.
Eh ... Belum sampai meja hidangan, di dekat pilar sisi gedung ada Mbok-mbok gesit tengah meracik pecel Madiun dengan asesories kerupuk gendar dan rempeyek kacang.
Wah... Menu lain dengan perangkat  mewah itu kalah deh!
Yang bikin lengkap menariknya, berdampingan dengan pendopo mungil. Seorang guru berblankon siap ajari kami membatik.








Ruang Pameran

Begitu masuk, teman teman belia yang cantik ajak selfie dulu, Ok lah! Karna tak ada tongsis, jadi "Tongmas"saja! *Tolong Mas! 
Satpamnya baik hati, sangat sabar, kayaknya nggak sekali dua kali deh, diminta tolong.





Pada dinding pintu masuk, pengunjung disambut  foto foto tua bertema baju adat dan peralatan menenun sederhana.
Kalau boleh saya kelompokkan, pameran ini menampilkan  3 fase pembuatan  pakaian. Masa  kulit kayu, serat alami, lalu kenal kapas.

Baju kulit kayu semula polos, lalu tersentuh seni,  hasilnya... lukisan unik dengan warna asli dari tumbuhan membuat baju tak sekedar penutup aurat dan pelindung saja, tapi keindahan dan kebanggaan.
Berlanjut terus hingga muncul  bordir, payet, manik manik, sulam, di atas kain yang makin lama makin lembut.


Decak kagum saya pada tetua kita dahulu. Di tiap alur dan warna , bisa kita dapati   sifat penenun, suasana hati dan suasana alam di mana mereka  tinggal.
Menempa kulit kayu super kasar hingga jadi lembaran lentur tentu  butuh proses panjang dan kesabaran.
Maka berdiri diantara alat tenun dan sampiran kain, seperti melihat kelincahan jemari perempuan rumahan yang taat, sabar dan punya cita rasa rasa seni tinggi.

Stand-stand cerah bersinar menyoroti busana kulit kayu, tenun ikat. Tenun Sederhana,  Lompat Lungsi, songket, Batik, Tapis, Jumputan, Sulam dan Aplikasi. Duh, pengen ngeborong aja bawaannya. *Baju kayu,nggak.

Masing masing punya filosophi, sejarah, dan peruntukkannya. Bicara Tenun saja ada 26 macam. Belum  bicara Batik yang sama sama dari Pulau Jawa tapi banyak beda. Pembahasan panjang, jadi si museum nggak mau repot, tinggal kasih buku tentang Kain dan putar film dokumenter kain nusantara di stand sudut. Jadi, ngasih saya PR nih, Pak?





Sepinya Museum Di Daerah

Habis sholat zuhur sempat diskusi santai dengan salah seorang ibu, pejabat museum Sumatra Barat.
Sejak benda asing bernama internet muncul, toko buku banyak gulung tikar, museum di daerah kurang menarik untuk dikunjungi, sepi, berdebu.

Sudah waktunya bikin  acara yang tak biasa, supaya pelajar tertarik mengenal peninggalan sejarah dan budaya, bukan sekedar membaca permukaannya  melalui ebook.

Mustinya...*Sok tau deh!  Museum menggunakan tehnologi canggih dalam eventnya. Seperti anjungan Ramayana atau Hello Kitty di wisata Dunia Fantasi.
Sambil berperahu, pengunjung dibawa ke alam fantasi,  masuk ke kerajaan Majapahit, ketemu suasana perang (Teatrikal)  lalu menggema sumpah Gajahmada. Ngayal dulu 

Nonton Film Durasi Panjang







Ruang auditorium berdampingan dengan Bazaar handy craft. Di ruang sejuk itu  peserta disajikan film dokumenter "Toraja Melo", artinya Toraja yang Indah.Mengisahkan perjuangan Ibu Dinny Yusuf (Pendiri Torajamelo), merangkap aktifis perempuan yang mengangkat derajat kain tenun Toraja ke pasar Internasional.

Diawal sih semangat, karna dengar ceramahnya Dr.Harry Widianto (Direktur Pelestarian Cagar Budaya) tentang tema seminar "Lestari Wastraku Lestari Negeriku".
Dengan santai kocak, ahli gigi tengkorak manusia purba ini menerangkan arti Wastra, yaitu Pelestarian Kain Tradisional yang bukan peninggalan bersejarah dalam bentuk benda saja, tapi juga non benda. Karna punya filosophi dan punya pengaruh psikologis. Tahun 2009  resmi diterima UNESCO.

Menyusul tayangan desa Toraja, perempuan dan ibu muda berjuang melempar kain tenun artistik ke pasar dunia sambil berkuat hati menghadapi mafia benang.

Cantik cantik corak tenun pada upacara pengantin, keagamaan, dan kematian. Siapa sangka, kesederhaan hidup di alam cantik itu menghasilkan kain bergengsi di Eropa.

Di tengah film, lebih banyak orasi dari pada actionnya. Peserta mulai letih. Tang ting suara cangkir dan harum kopi mbuyarkan konsentrasi. Apalagi bapak di sebelah saya sudah ambil serabi solo dan aneka rebusan.

Ingat, kan? Otak kita menghasilkan biokimia yang namanya endorphin. Dia terlibat dalam proses belajar dan mengingat di fase antara alfa dan Theta. Kalau kelamaan konsentrasi, kondisi gelombang otak jadi nggak menentu. Hihi, bilang aja mau ngopiii.

Oh iya,tau arti  corak batik ini ??

 Image result for batik tema awan


Dari pak Doktor tadi, saya baru tau, ini batik Mega Mendung asal Cirebon. Pesan batik... "Semoga Ada Perdamaian" . Manusia harus mampu meredam amarah dalam situasi apa pun.

Hmmm, seperti pekat awan yang menyimpan gumpalan es, kali yaaa.. Manusia di bumi nggak pernah bisa lihat prosesnya sampai jadi hujan yang menyejukkan dan manfaat bagi orang banyak. So, tahanlah amarah demi kebaikan. *Yang terahir ini ngarang bebas.

Begitulah hasil kunjungan saya...
Detil kain dan fungsi museum, saya tulis di lembaran lain saja, deh!
Nanti bacanya keburu boring.

Yang asik sih, datang saja ke pameran! Sampai tanggal 20 November,kok.
Nanti ada workshop membatik dan jumputan. Pameran ini akan membuka wawasan, selain meningkatkan  pemahaman serta kecintaan masyarakat hususnya generasi muda terhadap kekayaan budaya nasional, spesifiknya kain tradisional.




"Lestari Wastraku Lestari Negeriku". 



























1 comment:

  1. Hiks telat taunya kalau sampai 20 november, tau gitu aku datang, soalnya waktu itu nggak bisa datang dan mupeng banget pengen tau banyak tentang wastra nusantara.

    ReplyDelete