Wednesday, 7 December 2016

Saling Menguatkan


Kemarin takziah ke Jakarta. Tetangga saya meninggal karna kanker paru lalu menjalar sampai ke otak.
Saat sakit, sabarnya luar biasa. Tanpa keluhan apalagi erangan. Sepanjang perjalanan berputar terus kenangan baiknya.

Rencana dimakamkan jam 10. Alhamdulillah, bisa datang sejam lebih awal dan bisa menatap wajah ibu cantik yang sedikit bicara itu terakhir kali.

Tapi... Ternyata jam 9 sampai sana, kifayah sudah selesai disholatkan. Oo rupanya jam 10 itu sebisa mungkin sudah tutup pusara. Orang orang gerak cepat, yang di rumah, musholla dan parkiran. Saya masih diam diam bingung.
Mau antar ke pemakan atau nggak?

Hukum wanita ziarah ke kubur dulunya, dilarang,  dibolehkan, lalu dilarang lagi.
Era Mekkah terlarang  karna saat itu kesyirikan masih melekat kuat. Paska Hijrah dianggap aqidah sudah tertanam hingga larangan dicabut. Selanjutnyaa??

Masih mikir...

Dari jauh saya lihat ibu almarhumah  tertahan di pintu, matanya mencari-cari sandal. Refleks saja saya hampiri, sodorkan satu persatu sendal yang banyak parkir. Nah, ketemu !

Waktu pakai sandal, tangan gemetarnya bertahan di lengan saya. Pelan-pelan kami jalan  menuju mobil sambil menahan tubuh lemasnya.
Legaaa waktu beliau sudah duduk dengan nyaman, lalu saya siap pulang.
Ehh... Tangannya nggak mau lepas! Terbawalah saya dalam rombongan pengantar jenazah. *Gimana Allah aja deh..

Usai acara doa dan tabur bunga, ibu tadi sudah dipapah keluarganya. Tinggal saya sendiri menyusuri jalan  makam. Ya Allah ... Di depan ada pemandangan yang mengaduk perasaan. Suami dan dua anak almarhumah berjalan beriringan, saling menguatkan.









2 comments:

  1. Allah Maha Mengetahui yang terbaik mbaknya. Thanks for sharing, saya lumayan ngembeng deh ini mata. Huhuhu.

    Salam,
    Syanu

    ReplyDelete
  2. Ya Allah benar-benar sangat dibutuhkan untuk saling menguatkan ya, sedih

    ReplyDelete