Friday, 23 December 2016

Toleran Itu Mendewasakan

Image result for toleransi


Saya lagi inget mantan tetangga  saya, selang 5 rumah, belasan tahun lalu.
Di satu malam  takbiran  tiba tiba Asisten Rumah Tangganya, Mbak Epon datang. Saya sedang  selonjoran ngaso di depan tv, habis masak lauk lebaran. Rumah masih penuh harum  Opor.

"Bu, maaf saya bertamu malam-malam. Ada surat dari Madam" Katanya sambil sodorkan amplop kecil warna putih

"O, nggak apa-apa. Saya juga belum siap-siap tidur kok!"
Belagak tenang saja, tapi dalam hati terheran-heran. Kok tumben ibu yang pintunya selalu tertutup, tampilan ningrat dan jarang menyapa tetangga itu kirim surat?

Di amplop ada uang dalam lipatan kertas, bertulis...

Selamat malam Ibu.
Mohon maaf jika saya merepotkan.
Apa boleh saya beli ketupat sayur buatan ibu sedikit saja? Anak saya Nevy ingin sekali makan ketupat lebaran.
Terimakasih sebelumnya.



Wah, kenapa baru nyadar ya? malam spesial gini dapur dapur muslim cuma menyebarkan aroma saja. Kasihan, ada yang cuma bisa mencium dan  membayangkan

Saya kembalikan uang dalam amplop dan nggak lama kemudian Mbak Epon sudah keluar pagar bawa rantang menu lebaran cukup buat keluarga kecil itu.

Lingkungan sini nggak punya acara saling kunjung usai sholat ied. Pintu banyak tertutup  karna nonmus,  mudik, atau  langsung ke orang tua di daerah terdekat.
Jauh beda dengan tempat Bapak di Jakarta. Warga yang tak merayakan lebaran bisa sama sama menikmati ketupat karna saling kunjung.

Saya nggak menyangka sejak peristiwa  itu saya jadi akrab dengan Madamnya Mbak Epon. Terbiasa ketuk rumah tetangga antar menu lebaran.
Senang kalau ada ketupat juga di meja makan orang yang tak merayakan lebaran, sesenang lihat wajah mereka saat menerima.

Dan sejak itu pula, saling berikirim makanan berlanjut. Rumah saya selalu dapat kiriman kue kue cantik di hari Natal. Hari hari raya datang tanpa tuntutan harus memberi ucapan, menyejukkan sekali! Mungkin karna sudah terwakili dengan ihlas dan kesantunan.

Toleransi itu sederhana ...
Toleransi bukan MENGIKUTI tapi MENGHORMATI. Seperti Rasulullah yang berdiri dari duduknya saat usungan jenazah orang Yahudi lewat di depan beliau.
Sahabatnya bilang, "Ia orang Yahudi!"
Rasul menjawab: "Bukankah ia manusia?"

Atau seperti seorang gadis dengan anjingnya di taman. Begitu berpapasan dengan ibu berhijab, ia berusaha halau anjingnya agar tak mencium kaki ibu tadi.

Toleransi bukan cuma bikin luas hati. Tapi bisa jadi penahan lidah. Memaksa kita untuk menambah lagi sifat baik.

Satu  cerita di  film kartun Upin dan Ipin. Mereka sedang nonton acara budaya Cina. Bangku deret depan tak boleh diduduki.   Tentu mengundang tanya Upin Ipin.
Sahabatnya Mei Mei  menerangkan, kursi itu akan diisi oleh para hantu. Upin  Ipin mengangguk angguk saja dengan gaya khasnya.
Nggak ada koment, kenapa begitu? ... Aneh!...Lebay! atau kata kata lain yang nggak perlu.

"Dan janganlah kamu memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap ummat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka. Lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan"
(QS Al-An'am 108)

Nggak habis habis cara dan media Allah demi mendidik kita. Kejadian seremeh apa pun tetap terkandung nasehat. Toleran itu mendewasakan.



2 comments:

  1. setujuuu tolerasi itu menghormati bukan ikut2an, tetap pada jati diri namun tidak mengusik yang lain

    ReplyDelete
  2. Iyess...! Senang dapat kunjungan Mbak Evrina, trimakasih yaa..:)

    ReplyDelete