Saturday, 28 January 2017

Fun Doodle Di Stasiun Tua Bogor


Foto Su Rima.


Waktu pihak  Kriya Indonesia menghubungi via email, saya senyum senyum kecil  dalam hati. Bener nih mau ikutan lukis Doodle?  Buat apa sih?

Hhhmm, sesekali  butuh kegiatan yang mampu membawa kita ke planet lain, bukan?  Tugas dan kewajiban  di bumi terlalu bertimbun, sampai nggak sempat memeluk dan menghibur diri sendiri. Lupa what is fun. Padahal menurut psikolog, unsur fun masih tetap diperlukan berapa pun usia kita.

Fun adalah salah satu stimulan untuk kita tetap eksploring dan kreatif.
So, let's have FUN with what everything we do.


Okeh!
Hari minggu jam 9 lewat dikit, Grab turunkan saya di depan stasiun tua Kota Bogor.
Waktu tanya Petugas informasi, saya harus gunakann Money Card atau free, mereka  nggak bisa jawab. Wajahnya seperti nggak yakin kalau di dalam ada  acara. Terpaksa deh, tunjukin undangan di Instagram.
Bukannya dapat jawaban, malah cengengesan suprise dan koment...
 "Iiihh, Ibu keren, punya Instagram!"
Hushh!!  Hehe, emang kenapa? Situ mau follow?

Iyess, jalur husus sudah menanti. Dan alhamdulillah, kesampean juga keinginan lama, blusukan di gedung buatan Belanda  tahun 1881 ini.

Ruang tamu utama dihiasi lampu ukir gaya Eropa. Serasi manis dengan tirai panjang. Mbak Astri Damayanti mewakili  Kriya Indonesia membuka acara. Menyusul sambutan dari  Kepala DAOPS I Stasiun Bogor, Bapak Jhon Berto.

Pintu dan tembok jaman dulu  nggak bisa dipungkiri kwalitasnya. Ketebalannya mampu meredam bising lalu lalang kereta. Plafon tinggi jadi AC alami.
Terpilihnya lokasi ini bukan sekedar  bahan inspirasi lukisan saja, tapi untuk kenal sejarah dan faham kondisi  perkereta apian di Indonesia.

Pak Jhon bilang, PT KAI  kerap meningkatkan pelayanannya. Seratus persen saya percaya,Pak!
Jumlah armada terus bertambah seiring dengan bertambahnya petugas kebersihan dan keamanan.  2 gerbong husus wanita dengan penjagaan 2 satpam  paling bikin nyaman. Mereka siap mengingatkan penumpang belia untuk mengalah pada lansia/ ibu hamil.

Gerbong yang dulu berisik  suara pedagang, pengamen dan tangisan  anak kecil yang kegerahan, telah  berganti dengan musik lembut DTV. Televisi bermodulasi digital dan sistem kompresi yang mampu menyiarkan sinyal gambar, suara dan data.
Selama perjalanan penumpang mendapat info kecantikan, traveling, film, hingga kalimat bijak para filusuf.

Di jam-jam kerja  masih padat penumpang, tapi  AC bekerja sempurna, jadi nggak bikin emosi. Badan nggak oleng dadakan kayak dulu, entah kesenggol box dagangan atau copet?

PT KAI menurut saya sudah cukup berbuat. Tinggal masyarakat yang harus pandai menjaga. Pernah saya lihat ada ibu yang membiarkan anaknya membuang bungkus snack begitu saja. Langsung saya pungut, nggak peduli liat wajah dia bengang bengong.
"Ibu, simpan sampah ini. Nanti buang di stasiun tempat ibu turun!"

Saat yang lain, ada sisa permen lengket di lantai, ibu di sebelah saya langsung ambil dengan tissue. Alhamdulillah, masih lebih banyak penumpang sadar kebersihan dan tau bersyukur.

Foto Su Rima.


Pak Jhon  curcol. Warga di pinggir lintasan masih saja  ada yang mengidap penyakit iseng. Kereta mulus, baru beroperasi satu hari dilempari batu.
Belum lagi pencurian mur, bantalan rel, pengrusakan pagar pembatas. Yang paling ngenes kalau disalahkan jika ada kecelakaan di pintu lintasan.
Beliau  berharap Pemda dapat bekerja sama, dan blogger jadi penghimbau  lewat tulisan.

Usai memberi sambutan, blogger diajak keliling ruangan atas berlantai kayu. Sebagian besar kosong. Mungkin karna kecanggihan administrasi modern nggak membutuhkan lagi ruangan besar. Mungkin...

Foto Su Rima.



Besi tempa dan grendel pintu berbahan kuningan sudah pasti jadi sasaran kamera saya. Begitu rombongan keluar ruangan, langsung saya nikmati.
Sampe lupa lho, ambil jatah donat dan susu coklat di Dunkin. Untung masih punya kupon makan siang Hokben.

Oh ya, mumpung bisa ngobrol dengan pak Jhon, saya ungkapkan rasa terimakasih  penuh bangga. Musholla Bogor paling megah, indah dan bersih dibanding staiun stasiun lain.

"Tapi, masih saja ada yang mengeluh,Bu" Kata beliau diiringi senyum sabar.

Foto Su Rima.

Foto Su Rima.

Foto Su Rima.
Foto Su Rima.

Terpenuhi sudah kepo saya selama ini. Suka penasaran dengan misteriusnya gedung tua.  Apalagi rumah tua pecinan di kota sana. Kenapa ya, warga Cina senang rumahnya terkungkung teralis tanpa hangat matahari?

Jam 10 lewat. Saatnya Nge-Doodle!
Sama enaknya dengan saat nge-noodle.
Pak Ray mewakili Stabilo Indonesia, menerangkan kelebihan spidol Stabilo  asal Jerman ini.  Brand yang kadung lengket di benak ini ternyata aman buat anak-anak. Telah diuji bebas racun dengan cara meneteskan tinta ke styrofoam, tinta nggak  menyerap sedikit pun.

Ujung sipdol berukuran  2mm membuat nyaman saat menggambar dan mewarnai sudut-sudut.  Ada 30 macam warna-warna cerah   dengan 3 varian. Nggak heran  kalau dijadikan petunjuk warna oleh ibu ibu saat belanja baju. Hijau stabilo... Biru stabilo.

Foto Su Rima.

Foto Su Rima.

Tangan Mbak Tanti sang guru Doodle, mulai lincah beraksi membuat coretan asal.  Perlahan berubah jadi bentuk bermakna.

Pernah nggak, corat coret di halaman belakang buku tulis karna ngambek, kesal atau bosan dengan penjelasan guru di depan kelas? Nah, kayak gitu!
Nanti gambar nggak puguh itu akan memancing imajinasi. Tangan kita semakin lancar menuangkan ide ide unik. Gambar bebas, nggak terikat kaidah melukis.
Gambar gedung bertumpuk, ngak logic, nggak nyambung, warna warna tabrak lari nggak bertanggung jawab pun boleh! Namanya juga free hand art.

Doodle dalam bahasa Indonesia berarti coretan untuk membantu manusia berpikir.
Berasal dari  lampiasan  rasa seni manusia purba di dinding-dinding gua. Istilah doodle  sendiri muncul di abad ke 17.

Awalnya bingung , mau gambar apa? Sambil bikin lengkung, garis, bulatan asal, ahirnya berkembang ide lanjutan.
Apalagi Mbak Tanti mau meminjamkan spidol warna lain. Jatah dari Stabilo cuma 4 sih! Bikin mampet ide! Haha, bilang aja nggak punya ide!

Sayang, waktu sempit. "Dilanjut di rumah yaa" Kata Mbak Tanti.
Kesimpulannya, doodle itu cocok buat mahluk kayak saya yang  nggak punya bakat melukis.
Ini di hasilnya! Setengah doodle, setengah lukisan anak TK.
Yang penting dapat nikmatnya. Masuk ke planet masa kecil.

Sampai rumah, selameeet.... Nggak diketawain suami dan anak-anak.
 "Asal Mama Senang" ngkali yaa.


Foto Su Rima.

Buat sahabat-sahabat blogger yang belum dapat kesempatan, bisa ikutan STABILOpreunuer.
Jika sudah punya akun Lazada di salah satu officialnya, berhak mendapatkan voucher belanja di Lazada. Intensivenya juga dapat , setiap membelanjakan voucher.

Terimakasih Stabilo. Benar benar berkesan fun doodle di Stasiun Tua Bogor.


























2 comments:

  1. wah dua kegiatan yang mengasyikkan mbak Mutia,
    jadi terinspirasi main2 ke stasiun Bogor naik CL, selama ini cuma dilewatin doang

    ReplyDelete
  2. Ya Mbak Monda, alhamdulillah dapet kesempatan. Hayuu.. saya temani yaa :)

    ReplyDelete